KlikMojok – Pada Sabtu, 19 September 2026, para siswa SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi) berkumpul di aula Masjid At-Tanwir untuk melaksanakan Musyawarah Ranting (Musyran) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Miosi. Acara tahunan ini dirancang sebagai sebuah laboratorium demokrasi dan ajang pengembangan kepemimpinan yang vital bagi pelajar.
Wakil Kepala Kesiswaan SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo, Aida Rokhmania, S.Pd., turut memberikan arahan dan pesan penting kepada seluruh peserta forum. Aida Rokhmania menegaskan bahwa, “Musyran ini bukanlah sekadar rutinitas pergantian kepengurusan atau ajang memilih ketua baru,”.
Ia melanjutkan, lebih dari sekadar agenda rutin, Musyawarah Ranting (Musyran) sejatinya merupakan sebuah miniatur demokrasi dan platform pembelajaran kepemimpinan yang berharga bagi para siswa. Menurut penjelasan Aida, Musyran memfasilitasi siswa untuk belajar menyampaikan pendapat mereka secara santun, melatih kemampuan mendengarkan kritik dengan lapang dada, menyatukan berbagai visi, serta memikul tanggung jawab atas amanah yang diberikan.
Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai momentum penting untuk merefleksikan perjalanan organisasi selama satu periode dan melakukan evaluasi demi keberlanjutan kepengurusan di masa mendatang. Lebih lanjut, Musyran menandai ruang transisi kepengurusan IPM dari periode 2025/2026 menuju periode kepengurusan 2026/2027.
Aida secara khusus menginstruksikan agar kepengurusan IPM periode 2025/2026 dapat memberikan rekomendasi serta saran perbaikan yang konstruktif bagi kepengurusan yang akan datang. Sebaliknya, kepengurusan IPM periode 2026/2027 diharapkan untuk serius menindaklanjuti berbagai saran perbaikan yang telah disampaikan.
Ia juga menekankan bahwa jabatan dalam IPM adalah sebuah amanah besar yang menuntut kesungguhan dan dedikasi dari setiap pengurusnya. Aida mengingatkan bahwa tidak semua siswa memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kepengurusan organisasi ini. “Dari 100 siswa yang daftar, cuma diambil 30. Kalian harus melaksanakan tugas dengan penuh kesungguhan,” terangnya, menyoroti seleksi ketat yang harus dilalui calon pengurus.
Oleh karena itu, Aida mengimbau para pengurus IPM agar senantiasa menjadi teladan yang baik bagi siswa-siswa lainnya. Ia mengingatkan pentingnya untuk tidak menunjukkan sikap atau perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai keteladanan yang harus diemban. “Jangan lupa, IPM harus menjadi teladan bagi siswa lainnya, jangan sebaliknya,” ujarnya, menggarisbawahi bahwa posisi pengurus membawa tanggung jawab besar terhadap seluruh lingkungan sekolah.
Perlu diketahui bahwa seluruh siswa Miosi secara otomatis merupakan anggota IPM Ranting Miosi, namun hanya sebagian kecil dari mereka yang mendapatkan amanah khusus untuk menjadi pengurus organisasi. “Jangan jadi pengurus yang maunya diurus,” tambahnya, menegaskan bahwa seorang pengurus haruslah produktif, proaktif, dan mampu memberikan contoh positif bagi teman-teman siswa lainnya.
Lebih jauh, Musyran juga merupakan momentum krusial untuk menentukan arah serta kebijakan kepengurusan IPM Miosi di periode berikutnya. Oleh sebab itu, Aida meminta seluruh pengurus dan anggota untuk menghormati setiap hasil yang diputuskan dalam musyawarah tersebut. Siapapun siswa yang nantinya terpilih sebagai ketua, ia memiliki kewajiban untuk menjalankan amanah tersebut dengan memberikan kontribusi terbaiknya. Begitu pula dengan pengurus lainnya, mereka diharapkan siap sedia membantu ketua terpilih dalam menjalankan berbagai tugas organisasi demi kemajuan bersama.
“Semoga IPM Miosi semakin jaya, semakin bermanfaat,” pungkas Aida, menutup arahannya dengan harapan positif untuk organisasi.












