Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Jalan Menjadi Saksi Bisu: Kecelakaan Truk Pengangkut Pekerja di Ngawi dan Jerit Keselamatan yang Terabaikan

badge-check

Ketika Jalan Menjadi Saksi Bisu: Kecelakaan Truk Pengangkut Pekerja di Ngawi dan Jerit Keselamatan yang Terabaikan Perbesar

KlikMojok – Pagi itu, Sabtu (19/9/2026), udara di sepanjang Jalan Raya Desa Kersoharjo, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, masih menyimpan sisa embun. Namun, ketenangan itu mendadak pecah oleh suara hantaman keras dan jeritan. Sebuah truk yang mengangkut delapan pekerja proyek pengaspalan jalan dari Nganjuk menuju Ngawi tiba-tiba oleng, menghantam teras rumah warga, dan terguling. Di dalam kekacauan yang terjadi, Edi, salah seorang korban luka, hanya bisa mengingat kilasan singkat sebelum dunia berputar. “Saya duduk di depan, tidur, tahu-tahu sudah terguling. Rombongan pekerja proyek pengaspalan jalan dari Nganjuk mau ke Ngawi. Diduga sopirnya mengantuk. Penumpang di depan tiga termasuk sopir dan di bak belakang lima orang,” tuturnya, suaranya masih menyimpan getar ketakutan.

Perjalanan panjang yang rutin dilakoni para pekerja ini, dari Nganjuk menuju wilayah Widodaren, Ngawi, adalah bagian tak terpisahkan dari denyut pembangunan infrastruktur. Mereka adalah tulang punggung proyek pengaspalan jalan provinsi, yang setiap harinya mempertaruhkan waktu dan tenaga di jalan raya. Truk tersebut dikemudikan oleh Taufiqur Rohman (48), warga Desa Babadan, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk. Delapan nyawa, termasuk sang sopir, berada di dalamnya, mengarungi jalur yang seharusnya aman.

Namun, takdir berkata lain. Sesampainya di lokasi kejadian sekitar pukul 08.15 WIB, truk yang diduga melaju dari arah timur menuju Kota Ngawi itu tiba-tiba kehilangan kendali. Kendaraan besar itu oleng ke kiri, lalu secara mengejutkan berbalik arah, sebelum akhirnya menabrak teras sebuah rumah warga di pinggir jalan dan terguling. Pemandangan mengerikan tersaji: sejumlah pekerja yang berada di bak belakang truk terpental, jatuh berserakan di badan jalan. Warga sekitar yang menyaksikan kejadian nahas tersebut segera berhamburan, berlari mendekat untuk memberikan pertolongan pertama.

Tragedi itu merenggut satu nyawa. Eko Pambudi (48), rekan kerja yang juga berasal dari Desa Babadan, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian. Jenazah Eko kemudian dievakuasi ke RSUD dr. Soeroto Ngawi untuk menjalani visum. Sementara itu, tujuh korban lainnya, termasuk enam pekerja dan sang sopir, mengalami luka-luka yang serius. Mereka segera dilarikan ke Rumah Sakit Widodo dan RSUD dr. Soeroto Ngawi untuk penanganan medis lebih lanjut. Beberapa korban dilaporkan mengalami luka di bagian kepala dan tangan, sementara yang lain tak seberuntung itu, menderita patah tulang kaki akibat terlempar dari bak truk ketika kendaraan terguling.

Kesaksian dari warga sekitar semakin memperkuat dugaan awal. Bambang, salah seorang warga, menuturkan, “Truk itu berjalan dari timur menuju Kota Ngawi, diduga mengantuk. Truk itu terguling setelah menabrak rumah warga.” Senada dengan itu, Robin, warga lainnya, menyebutkan bahwa para penumpang sempat berserakan di jalan. Detail ini menggarisbawahi betapa rentannya posisi pekerja yang diangkut di bak terbuka, tanpa pengaman memadai, yang menjadi sorotan utama dalam insiden kecelakaan truk Ngawi ini.

Insiden tragis ini kini dalam penanganan serius Unit Gakkum Satlantas Polres Ngawi. Polisi tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan, termasuk dugaan awal bahwa sopir kehilangan konsentrasi akibat mengantuk. Lebih dari sekadar mencari penyebab langsung, peristiwa ini juga menjadi pengingat pahit tentang pentingnya keselamatan pekerja proyek, khususnya dalam aspek transportasi. Mengangkut pekerja di bak belakang truk, seperti yang terjadi pada rombongan ini, adalah praktik yang umum namun sarat risiko. Dalam kondisi darurat atau kecelakaan, mereka adalah pihak yang paling rentan terpental dan mengalami cedera fatal. Tragedi di Ngawi ini bukan hanya sekadar berita kecelakaan tunggal, melainkan sebuah cerminan sistemik atas masih terabaikannya standar keselamatan yang layak bagi para buruh yang sehari-hari berjibaku demi pembangunan negeri. Penyelidikan lebih lanjut diharapkan tidak hanya mengungkap fakta kejadian, tetapi juga memicu evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan implementasi keselamatan transportasi bagi para pekerja di seluruh Indonesia.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bayang-bayang Lahan Rezeki: Konflik Berdarah Pengamen Kemoceng di Lamongan

19 Sep 2026 - 18:47 WIB

Bayang-bayang Lahan Rezeki: Konflik Berdarah Pengamen Kemoceng di Lamongan

Jalan Malam, Mimpi Terputus: Tragedi Pelajar dan Pengamen di Tuban sebagai Cermin Keselamatan Jalan

19 Sep 2026 - 18:45 WIB

Jalan Malam, Mimpi Terputus: Tragedi Pelajar dan Pengamen di Tuban sebagai Cermin Keselamatan Jalan

Lebih dari Sekadar Pergantian Pengurus, Musyran IPM Miosi Jadi Arena Belajar Demokrasi dan Tanggung Jawab Kepemimpinan

19 Sep 2026 - 18:44 WIB

Lebih dari Sekadar Pergantian Pengurus, Musyran IPM Miosi Jadi Arena Belajar Demokrasi dan Tanggung Jawab Kepemimpinan

MI Muhammadiyah Tempeh Lor Wujudkan Madrasah Inklusi Lewat Pelatihan Guru

19 Sep 2026 - 18:44 WIB

MI Muhammadiyah Tempeh Lor Wujudkan Madrasah Inklusi Lewat Pelatihan Guru

Dari Ribuan Porsi Gizi ke Lingkungan Lestari: Kisah IPAL Modern SPPG Badean 2 Bondowoso Mengelola Limbah Dapur

19 Sep 2026 - 15:17 WIB

Dari Ribuan Porsi Gizi ke Lingkungan Lestari: Kisah IPAL Modern SPPG Badean 2 Bondowoso Mengelola Limbah Dapur
Trending di Pendidikan