KlikMojok – Di tengah riuh persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang bakal digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU), Tambakberas, Jombang, sebuah inovasi digital mulai diterapkan. Sejak Rabu pagi, 26 Agustus 2026, proses registrasi peserta secara resmi dibuka, menandai dimulainya tahapan penting menjelang perhelatan akbar tersebut. Panitia muktamar kali ini mengandalkan sistem registrasi berbasis barcode, sebuah terobosan yang dirancang untuk memastikan setiap tahapan verifikasi data berjalan dengan cepat, tertib, dan akurat.
Dua lokasi strategis di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum telah disiapkan untuk menampung gelombang peserta yang berdatangan. MTs dan MA Bahrul Ulum, yang berada di sisi kiri dan kanan kompleks PPBU Tambakberas, kini dihiasi pagar besi sebagai penanda area registrasi. Sesuai jadwal yang telah dirilis, proses registrasi ini akan berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB, memberikan rentang waktu yang cukup bagi para peserta untuk menyelesaikan administrasi mereka.

Penerapan sistem digital ini bukan sekadar formalitas. Ia merupakan upaya panitia untuk memberikan kemudahan maksimal kepada peserta sekaligus menjamin bahwa setiap individu yang terdaftar benar-benar sesuai dengan Daftar Peserta Tetap (DPT) yang telah ditetapkan. Inovasi ini menjadi krusial dalam mengantisipasi lonjakan peserta dan memastikan kelancaran acara, terutama mengingat ini adalah Muktamar pertama NU di abad kedua dan diselenggarakan di Jombang, kota yang sarat dengan sejarah NU.
Kesiapan panitia telah melalui tinjauan mendalam. Sehari sebelumnya, pada Selasa, 25 Agustus 2026, Ketua Panitia Muktamar sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, didampingi jajaran pengurus teras lainnya seperti Ketua Steering Committee (SC) Prof Mohammad Nuh dan Bendahara Umum PBNU Agus Gudfan Arief (Gus Gudfan), melakukan peninjauan final. Rombongan menelusuri berbagai titik vital, mulai dari lapangan Desa Tambakberas yang akan menjadi saksi pembukaan muktamar, hingga area registrasi yang menjadi gerbang awal bagi para peserta.
Di area registrasi, Gus Ipul, Prof Mohammad Nuh, dan Gus Gudfan tidak hanya mengamati kesiapan personel panitia, tetapi juga turut serta dalam simulasi langsung. Mereka merasakan sendiri alur registrasi yang akan dilalui peserta, mulai dari pengambilan nomor antrean, proses verifikasi data, hingga penggunaan sistem barcode yang menjadi primadona dalam penyelenggaraan kali ini.
“Dua hari menjelang pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, saya, Prof Nuh, Gus Gudfan dan beberapa pengurus PBNU melakukan simulasi registrasi peserta muktamar. Luar biasa, kali ini semuanya sudah mulai menyesuaikan dengan situasi dan kondisi hari ini, memakai barcode,” ungkap Gus Ipul usai simulasi, menggarisbawahi adaptasi teknologi dalam acara besar ini.
Menurut Gus Ipul, sistem registrasi barcode ini dirancang untuk efisiensi. “Setelah melakukan verifikasi, peserta akan diarahkan panitia menuju lokasi yang telah ditentukan berdasarkan provinsi, kabupaten/kota, wilayah maupun cabang masing-masing,” jelasnya. Ia menambahkan, “Insyaallah kalau semua disiplin dan tertib, tidak akan ada antrean panjang. Semuanya nyaman dan presisi karena sudah sesuai dengan data.” Keakuratan data menjadi kunci utama, memastikan bahwa hanya peserta yang terdaftar dalam DPT yang berhak hadir.
Gus Ipul menekankan pentingnya sistem ini untuk mencegah praktik ‘peserta susupan’ atau penggantian peserta yang tidak sah. “Datanya sudah ada, DPT-nya sudah ditetapkan, nama-nama pengurus yang menjadi peserta juga semuanya sudah tertera dengan jelas. Dengan begitu diharapkan tidak ada peserta susupan, tidak ada peserta pengganti. Semuanya adalah peserta yang benar-benar memenuhi syarat,” tegasnya. Hal ini penting untuk menjaga integritas dan kualitas diskusi serta keputusan yang akan dihasilkan dalam muktamar.
Lebih jauh, Gus Ipul menyampaikan apresiasinya kepada tim kesekretariatan panitia dan keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang telah bekerja keras dalam waktu singkat, sekitar 50 hari, untuk mempersiapkan segala kebutuhan penyelenggaraan. “Terima kasih kepada tim Kesekretariatan Panitia Muktamar, terima kasih kepada Panitia Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang dengan cermat, cepat, dan bekerja keras sehingga waktu 50 hari itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Dengan kesiapan yang matang, mulai dari akomodasi, tempat persidangan, hingga fasilitas pendukung lainnya, Gus Ipul berharap seluruh peserta dapat sepenuhnya memusatkan perhatian pada agenda-agenda substantif muktamar. Ia menginginkan muktamar kali ini menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang akan membawa Nahdlatul Ulama semakin maju, relevan, dan membumi di abad keduanya. “Kami berharap seluruh peserta Muktamar bisa benar-benar fokus, memberikan kontribusi sehingga hasil-hasil Muktamar Ke-35, muktamar pertama di abad kedua NU, bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang membuat jam’iyah kita makin maju, makin relevan, makin membumi,” tuturnya.
Keputusan yang diharapkan mencakup penguatan tata kelola organisasi, peningkatan pelayanan kepada warga NU, pemberian pembelaan dan afirmasi, serta memastikan ajaran dan pandangan ulama terus membimbing peradaban di era modern. “Organisasinya tertata, warganya terlayani, warganya diberikan pembelaan dan afirmasi. Sekaligus tentu ilmunya para ulama turut menuntun zaman dan membangun peradaban,” harap Gus Ipul.
Kembalinya Muktamar ke Jombang, kota kelahiran para pendiri NU, memiliki makna historis yang mendalam. “Inilah awal abad kedua Nahdlatul Ulama. Muktamar kembali ke pangkuan muassis, kembali ke pangkuan para pendiri Nahdlatul Ulama,” ucap Gus Ipul. Ia menutup harapannya dengan doa, “Dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, mudah-mudahan ini menjadi muktamar yang menggembirakan, penuh berkah, dan berakhir dengan alhamdulillah karena semuanya berjalan lancar.”
Dengan dimulainya registrasi peserta yang mengadopsi sistem barcode, panitia optimis bahwa seluruh rangkaian Muktamar Ke-35 NU akan berjalan lancar, tertib, dan membuahkan hasil yang gemilang bagi masa depan Nahdlatul Ulama di abad kedua ini.













