SURABAYA – Hari pertama sekolah selalu menghadirkan berbagai perasaan bagi peserta didik baru. Ada semangat untuk memulai perjalanan baru, namun tak sedikit yang masih menyimpan rasa cemas menghadapi lingkungan yang belum dikenal. Untuk menjawab tantangan tersebut, SMP PGRI 6 Surabaya menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun 2026 yang menempatkan sekolah sebagai ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan.
Kegiatan MPLS Ramah dilaksanakan pada Senin (13/7/2026) mulai pukul 06.30 WIB di lingkungan SMP PGRI 6 Surabaya, Jalan Bulak Rukem III No. 7–9, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir.

Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang berlangsung khidmat. Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala SMP PGRI 6 Surabaya, H. Banu Atmoko, S.Pd., M.Pd., mengajak seluruh peserta didik baru memulai perjalanan pendidikan dengan penuh semangat sekaligus menegaskan bahwa MPLS tidak lagi identik dengan praktik senioritas maupun perpeloncoan.
“Setiap anak yang memasuki gerbang sekolah memiliki hak untuk merasa aman, dihargai, dan diterima. Sekolah harus menjadi rumah kedua yang mendukung tumbuh kembang peserta didik,” ujarnya.
Usai upacara, peserta mengikuti materi Wawasan Wiyata Mandala sebagai bekal memahami kehidupan di lingkungan sekolah. Melalui materi tersebut, siswa dikenalkan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga komunitas pendidikan yang harus dijaga bersama.

Guru diposisikan sebagai pendidik sekaligus orang tua kedua yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing perkembangan karakter dan emosional peserta didik. Selain itu, siswa diajak memahami pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang tertib, aman, dan kondusif.
Materi berikutnya berfokus pada penguatan program Sekolah Ramah Anak (SRA). Dalam sesi ini, sekolah menegaskan komitmennya menjadi kawasan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, perundungan, diskriminasi, maupun intimidasi.
Melalui konsep Sekolah Ramah Anak, setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Sekolah juga mendorong tumbuhnya budaya saling menghargai, empati, kepedulian, serta pembiasaan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut H. Banu Atmoko, pendidikan karakter harus dibangun sejak hari pertama siswa memasuki lingkungan sekolah.
“Kami ingin anak-anak merasa nyaman sehingga mereka berani belajar, bertanya, berprestasi, dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki. Sekolah bukan tempat yang menakutkan, melainkan rumah kedua yang mendampingi mereka bertumbuh menjadi generasi yang berkarakter,” katanya.
Ia berharap pelaksanaan MPLS Ramah menjadi fondasi bagi terciptanya budaya sekolah yang humanis, inklusif, dan berpihak pada peserta didik.
“Selamat datang kepada seluruh siswa baru. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin, bangun persahabatan yang baik, dan jadikan sekolah ini sebagai tempat untuk tumbuh menjadi generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pesannya.
Melalui pelaksanaan MPLS Ramah 2026, SMP PGRI 6 Surabaya menegaskan komitmennya menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, bebas perundungan, serta mampu mendukung perkembangan akademik maupun karakter peserta didik secara seimbang.
Penulis: H. Banu Atmoko, S.Pd., M.Pd.
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya | Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara













