KlikMojok – Senja perlahan meluruh di Gang Tentrem, Jalan Doho, Kelurahan Winongo, Madiun. Namun, ketenangan sore itu diselimuti gema pilu yang menyeruak dari lantunan ayat-ayat suci. Bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan sebuah ikhtiar kolektif yang merajut harapan di tengah duka mendalam. Warga RT 24, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, berkumpul menggelar doa bersama tahlil dan Yasin untuk mengenang mendiang Dini Hardiyanti (30) dan putranya, AGF (4), dua jiwa tak bersalah yang menjadi korban pembunuhan keji yang diduga dilakukan oleh Dwi Bagus Martono.
Pemandangan haru itu terhampar tepat di depan rumah orang tua terduga pelaku, sebuah simbol keberanian dan kepedulian yang melampaui batas emosi. Setelah salat Asar, di bawah bimbingan Modin Kelurahan Winongo, Suyoto, puluhan warga mulai melantunkan Surah Yasin dan kalimat-kalimat tahlil yang memohon rahmat dan ampunan.
Setiap tarikan napas dan setiap kata yang terucap adalah doa tulus agar kedua korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, diampuni segala dosanya, serta diterima segala amal ibadahnya. Suyoto, sang modin, menjelaskan bahwa kegiatan mulia ini lahir dari inisiatif murni warga setempat, sebuah manifestasi nyata dari rasa kepedulian yang mendalam. “Ini inisiatif warga sendiri. Kami berkumpul secara sukarela untuk mendoakan Bu Dini dan anaknya yang menjadi korban pembunuhan,” ujarnya, menggambarkan betapa kuatnya ikatan sosial di komunitas tersebut.
Doa bersama ini, yang dimulai sejak Minggu (25/10/2026), direncanakan akan terus berlangsung hingga Sabtu (31/10/2026). Selain memanjatkan doa bagi arwah Dini dan AGF, ada pula harapan lain yang terselip dalam setiap sujud dan munajat: agar bagian tubuh korban yang hingga kini belum ditemukan dapat segera ditemukan oleh petugas kepolisian, memberikan sedikit titik terang di tengah kabut misteri.
Suyoto menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah bentuk ikhtiar spiritual warga untuk mengantar kedua korban menuju ketenangan abadi. “Harapannya, arwah kedua korban diterima di sisi-Nya. Kami juga berdoa agar bagian tubuh yang belum ditemukan bisa segera ditemukan,” pungkasnya, menyuarakan harapan yang sama dari lubuk hati setiap yang hadir.
Di balik tragedi yang mengguncang, respons kolektif warga Winongo ini menjadi sebuah pelajaran berharga tentang kemanusiaan. Ini adalah pendidikan moral yang tak tertulis, tentang bagaimana sebuah komunitas mampu bangkit dan bersatu dalam duka, mengajarkan arti solidaritas, empati, dan kekuatan doa sebagai penawar kepedihan. Mereka menunjukkan bahwa di tengah kegelapan, cahaya kepedulian dan harapan tak pernah padam.
Lantunan doa yang terus bergema di Gang Tentrem itu bukan hanya untuk Dini dan AGF, tetapi juga untuk diri mereka sendiri, untuk menguatkan hati yang terluka, dan untuk menegaskan bahwa di Winongo, kebersamaan dan kasih sayang adalah pilar yang tak tergoyahkan, bahkan di hadapan takdir terkejam sekalipun. Sebuah pengingat bahwa di setiap duka, selalu ada harapan yang dirajut oleh tangan-tangan yang peduli.












