Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Menggali Esensi Dakwah Muhammadiyah di Gresik: Ilmu, Keteladanan, dan Relevansi di Era Digital

badge-check

Menggali Esensi Dakwah Muhammadiyah di Gresik: Ilmu, Keteladanan, dan Relevansi di Era Digital Perbesar

KlikMojok – Pada Ahad, 11 Oktober 2026, Majelis Tablig Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik sukses menyelenggarakan kegiatan Safari Subuh di Masjid Taqwa K.H. Kholil Gresik. Acara ini bertujuan untuk memperkuat dakwah Muhammadiyah yang dinamis dan berdampak, dengan menghadirkan Ketua Majelis Tablig Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, M. Badrus Sholeh, S.E., sebagai pengisi kuliah Subuh.

Penyelenggaraan kegiatan ini melibatkan berbagai elemen penting dalam struktur Muhammadiyah di Gresik. Hadir dalam acara tersebut adalah pimpinan dan anggota PCM Gresik, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Gresik, PC Nasyiatul Aisyiyah Gresik, serta PC Pemuda Muhammadiyah Gresik.

Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para pengurus takmir masjid dan musala Muhammadiyah di seluruh Kecamatan Gresik, serta kepala-kepala Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang bergerak di bidang pendidikan, menunjukkan antusiasme dan dukungan yang luas.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua PCM Gresik, Drs. Muhammad Sholichin, M.Pd., dan Ketua Takmir Masjid Taqwa, Sya’roni, S.E., yang memberikan pengantar sebelum sesi utama.

Setelah sambutan, para peserta dengan seksama menyimak tausiah yang disampaikan oleh M. Badrus Sholeh. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap komitmen beragama mereka dan secara aktif memperkuat peran dakwah di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Badrus Sholeh menegaskan bahwa Muhammadiyah jauh lebih dari sekadar organisasi yang hanya menjalankan rutinitas kegiatan. Beliau menjelaskan bahwa Muhammadiyah adalah sebuah gerakan yang menghendaki keterlibatan aktif dari setiap anggotanya untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan memberikan manfaat konkret bagi kemaslahatan masyarakat luas.

Untuk itu, warga Muhammadiyah dituntut untuk senantiasa menjaga dinamika gerakan. Caranya adalah dengan peka membaca kebutuhan lingkungan sekitar, membangun serta memperkuat kepedulian sosial, dan menyajikan model dakwah yang relevan dengan tantangan zaman modern.

Dakwah, menurut Badrus, tidak boleh terbatas pada agenda pengajian atau kegiatan-kegiatan di masjid saja. Sebaliknya, dakwah harus termanifestasi dalam perilaku sehari-hari setiap individu dan melalui berbagai bentuk pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Badrus juga mengingatkan kembali tentang pentingnya memegang teguh prinsip “dakwah bil hikmah wal mau’idhatul hasanah”. Prinsip ini menekankan ajakan kepada kebaikan yang harus disampaikan dengan penuh kebijaksanaan, dilandasi oleh ilmu pengetahuan, dan menggunakan nasihat yang baik.

Para penggerak dakwah diharapkan untuk menyertai setiap seruan kebaikan dengan contoh dan teladan nyata, sehingga pesan yang disampaikan tidak hanya berupa retorika kosong, melainkan terwujud dalam tindakan.

M. Badrus Sholeh menekankan bahwa keteladanan merupakan unsur yang sangat vital dalam berdakwah. Hal ini disebabkan masyarakat cenderung tidak hanya mendengarkan isi ceramah seorang pendakwah, tetapi juga secara cermat memperhatikan tingkah laku dan sikap hidupnya.

Apabila para pimpinan dan kader Muhammadiyah mampu menampilkan akhlak yang mulia dalam keseharian, maka masyarakat akan lebih terbuka dan mudah menerima pesan-pesan dakwah yang disampaikan.

Selain itu, Badrus Sholeh turut menyoroti betapa pentingnya sikap kehati-hatian dalam menyampaikan ajaran agama kepada umat. Beliau mengingatkan sebuah ungkapan populer di kalangan umat Islam, yaitu “Ballighu ‘anni walau ayah”, yang secara harfiah berarti “sampaikan dariku walaupun satu ayat”.

Menurutnya, esensi terpenting dari pesan tersebut adalah perintah untuk senantiasa menyampaikan ajaran agama yang sahih, yang sumbernya jelas dan berasal dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memastikan kejelasan dan keabsahan sumber informasi agama sebelum memutuskan untuk menyebarkannya kepada khalayak umum.

Warga Muhammadiyah, khususnya mereka yang aktif sebagai penggerak dakwah, perlu membiasakan diri untuk selalu memeriksa dalil dan rujukan yang menjadi dasar informasi keagamaan yang mereka sampaikan. Mereka tidak seharusnya menyampaikan informasi yang asal-usulnya tidak jelas, terutama riwayat-riwayat yang tergolong lemah, seolah-olah informasi tersebut pasti berasal dari Rasulullah saw. Hal ini untuk menghindari penyebaran informasi yang keliru.

Peringatan mengenai kehati-hatian ini menjadi semakin relevan di tengah pesatnya arus informasi digital saat ini. Potongan-potongan ceramah, kutipan hadis, dan berbagai pesan keagamaan dapat tersebar dengan sangat cepat melalui platform media sosial. Tanpa adanya kebiasaan untuk memeriksa sumber informasi secara kritis, informasi yang keliru sangat berpotensi diterima dan disebarkan kembali oleh banyak orang, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Badrus menegaskan bahwa dakwah yang dinamis tidak boleh meninggalkan pijakannya pada ilmu pengetahuan yang sahih dan rasa tanggung jawab. Semangat untuk menyebarkan kebaikan harus berjalan selaras dengan ketepatan dan keakuratan isi pesan yang disampaikan.

Dalam tausiahnya, Badrus juga mengupas tantangan besar dalam upaya meningkatkan komitmen umat Islam terhadap ajaran agama mereka. Beliau berpendapat bahwa para penggerak dakwah masih perlu memperkuat berbagai upaya untuk membangun kesadaran beragama yang lebih kokoh, termasuk melalui keteladanan yang ditunjukkan oleh para pemimpin dan pengaruh positif dari lingkungan terdekat.

Para penggerak dakwah tidak dapat mengatasi tantangan, khususnya di kalangan generasi muda, hanya dengan menambah jumlah kegiatan ceramah saja. Generasi muda membutuhkan pendekatan yang relevan dengan gaya hidup mereka, penggunaan bahasa yang mudah dicerna, serta contoh nyata dari tokoh-tokoh yang mereka kagumi dan hormati.

Oleh karena itu, Badrus menyerukan agar kader dan pimpinan Muhammadiyah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metode dan cara berdakwah yang selama ini mereka terapkan. Keteladanan dari tokoh-tokoh yang memegang posisi pimpinan menjadi sangat krusial, sebab sikap dan tindakan mereka memiliki dampak signifikan dalam memengaruhi kepercayaan serta semangat para anggota di bawahnya.

Badrus juga mengingatkan bahwa tanggung jawab untuk menyebarkan kebaikan tidak hanya tersemat pada pundak para mubalig atau penceramah semata. Setiap individu memiliki potensi dan kemampuan untuk berdakwah sesuai dengan peran serta kapasitas yang dimilikinya. Beliau mengaitkan pesan ini dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Fushshilat ayat 33, yang menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan dengan bangga menyatakan diri sebagai bagian dari kaum muslimin.

Ayat ini menjadi pengingat kuat bagi seluruh umat Islam untuk mengarahkan segala kemampuan dan kesempatan yang ada demi menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Dakwah, lanjutnya, tidak harus selalu dilakukan dari atas podium atau melalui ceramah formal semata. Seseorang dapat menyampaikan pesan kebaikan melalui perbuatan sehari-hari, interaksi di lingkungan tempat kerja, partisipasi dalam kegiatan sosial, bahkan melalui platform media sosial.

Media sosial, secara khusus, telah menjadi salah satu ruang utama yang sangat efektif untuk menjangkau generasi muda, mengingat banyak dari mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di ruang digital. Oleh karena itu, para kader Muhammadiyah diharapkan untuk memanfaatkan media sosial ini secara optimal dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang sahih, dikemas secara menarik, dan mudah dipahami oleh audiens muda. Konten dakwah di media sosial hendaknya tidak hanya berfokus pada upaya mengejar perhatian semata, melainkan juga harus mengutamakan ketepatan informasi dan manfaat nyata yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Meskipun demikian, Badrus Sholeh menegaskan bahwa dakwah haruslah dimulai dari lingkungan terdekat, terutama dalam keluarga. Sebelum seseorang mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan, ia perlu terlebih dahulu berusaha mengamalkan kebaikan tersebut dalam kehidupan pribadinya dan menjadi teladan yang baik bagi anggota keluarganya. Dakwah tidak hanya dimanifestasikan melalui untaian kata-kata, tetapi juga melalui kebiasaan beribadah yang konsisten, kejujuran dalam setiap tindakan, kepedulian terhadap sesama, rasa tanggung jawab yang tinggi, dan terjalinnya hubungan baik antar sesama manusia.

Setelah sesi tausiah berakhir, pengurus harian PCM Gresik melanjutkan kegiatan Safari Subuh dengan mengadakan rapat koordinasi penting. Rapat ini melibatkan unsur Unit Pembantu Pimpinan (UPP) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) setempat. Sesi koordinasi ini berperan sebagai forum strategis untuk membahas berbagai program organisasi, sekaligus menyelaraskan langkah dan visi antara pimpinan cabang, unsur pembantu pimpinan, dan pimpinan ranting demi tercapainya tujuan bersama.

Salah satu agenda utama yang menjadi fokus perhatian dalam rapat tersebut adalah rencana pembinaan Kantor Layanan (KL) Lazismu Kecamatan Gresik. Wakil Ketua PCM Gresik, Nazar Al Wasly, menjelaskan bahwa arah pembinaan kantor layanan ini adalah untuk memperkuat kegiatan penghimpunan dana atau fundraising dari masyarakat yang memiliki kemampuan finansial di wilayah Kecamatan Gresik.

Pihak pimpinan sangat berharap penguatan layanan Lazismu ini dapat memperluas partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan filantropi Islam. Dana yang berhasil terkumpul nantinya akan dimanfaatkan oleh pengurus untuk membantu warga yang membutuhkan, khususnya di sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Dengan adanya pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat, Lazismu diharapkan dapat menjangkau calon donatur dengan lebih mudah, sekaligus mampu mengidentifikasi kebutuhan para penerima manfaat secara lebih tepat dan akurat. Pengelolaan dana yang terarah dan transparan juga menjadi aspek penting untuk memastikan bahwa setiap bantuan dapat disalurkan sesuai dengan kebutuhan riil dan memberikan dampak yang nyata bagi penerima.

Seluruh pembahasan ini secara jelas membuktikan bahwa gerakan dakwah Muhammadiyah tidak hanya berpusat pada penyampaian pesan-pesan keagamaan semata, melainkan juga secara nyata terwujud melalui kerja sosial dan berbagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, dakwah yang berlandaskan ilmu dan keteladanan dapat berjalan seirama dengan upaya konkret membantu warga masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan di bidang pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bisikan Bumi dari Selatan Pacitan: Getaran Gempa M 4,5 yang Singgah Sekejap di Ponorogo

13 Okt 2026 - 18:48 WIB

Bisikan Bumi dari Selatan Pacitan: Getaran Gempa M 4,5 yang Singgah Sekejap di Ponorogo

Nyala Dini Hari di Dlanggu: Kisah Selamat dari Amukan Api yang Melahap Rumah di Mojokerto

13 Okt 2026 - 18:46 WIB

Nyala Dini Hari di Dlanggu: Kisah Selamat dari Amukan Api yang Melahap Rumah di Mojokerto

Lebih dari Sekadar Pentas Seni: Middle Performance SD Almadany Bekali Siswa Kepercayaan Diri dan Pengalaman Belajar

13 Okt 2026 - 18:44 WIB

Lebih dari Sekadar Pentas Seni: Middle Performance SD Almadany Bekali Siswa Kepercayaan Diri dan Pengalaman Belajar

Rotasi Kepemimpinan di Polda Jatim: Pendidikan Adaptasi dan Amanah Pelayanan Publik yang Tak Pernah Usai

13 Okt 2026 - 15:18 WIB

Rotasi Kepemimpinan di Polda Jatim: Pendidikan Adaptasi dan Amanah Pelayanan Publik yang Tak Pernah Usai

Ketika Jalanan Menyembur: Mengurai Misteri Pipa Raksasa di Dupak Rukun Surabaya

13 Okt 2026 - 15:18 WIB

Ketika Jalanan Menyembur: Mengurai Misteri Pipa Raksasa di Dupak Rukun Surabaya
Trending di Pendidikan