KlikMojok – Di bawah terik matahari Gresik, atau dalam teduhnya bayang pepohonan tua, Makam Panjang Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran, Kecamatan Manyar, selalu menjadi magnet bagi ribuan peziarah. Mereka datang membawa asa, merajut doa, dan menelusuri jejak sejarah Islam yang konon bersemayam di sana. Namun, di balik kekhusyukan itu, sebuah tantangan nyata membayangi kenyamanan kunjungan: keterbatasan air bersih dan fasilitas yang mulai usang. Pemerintah Desa (Pemdes) Leran kini bertekad untuk membenahi situs penting ini, memastikan setiap langkah spiritual tidak terganggu oleh persoalan duniawi.
Sebagai salah satu situs ziarah yang tak pernah sepi, terutama saat akhir pekan atau musim liburan, Makam Panjang Siti Fatimah binti Maimun memiliki peran vital dalam denyut keagamaan masyarakat. Namun, lonjakan jumlah pengunjung ini justru menjadi bumerang bagi ketersediaan fasilitas dasar. Penjaga Makam Panjang Leran, Khoirul Mufid, merasakan betul bagaimana situasi berubah drastis ketika rombongan peziarah berdatangan.
“Kalau ada peziarah banyak, bahkan sampai dua bus, fasilitas air terbatas. Untuk mengambil wudu dan kebutuhan di masjid saja terkadang tidak cukup,” ujarnya, Minggu (11/10/2026). Kapasitas penampungan air yang ada saat ini, dengan satu tandon berkapasitas sekitar 3.200 liter, jelas tak lagi sebanding dengan kebutuhan. Bayangkan, puluhan bahkan ratusan orang dari dua bus yang datang bersamaan, semuanya membutuhkan air untuk bersuci sebelum berdoa, atau sekadar membersihkan diri. Kondisi ini seringkali menimbulkan antrean panjang dan mengurangi kekhusyukan ibadah.
Selain persoalan air yang menjadi nadi utama aktivitas ziarah, kondisi fisik bangunan di sekitar makam pun tak luput dari sentuhan usia dan intensitas penggunaan. Kerusakan material mulai terlihat di beberapa titik, mengancam estetika sekaligus kenyamanan pengunjung.
“Keramik di dalam sudah banyak yang mumbul atau rusak. Selain itu, jalan paving juga mulai rusak,” ungkap Khoirul, menggambarkan kondisi yang memerlukan perhatian serius. Keramik yang menggembung atau pecah bukan hanya mengurangi keindahan, tetapi juga berpotensi membahayakan peziarah yang berjalan kaki, terutama anak-anak atau lansia. Begitu pula dengan jalan paving yang mulai ambles atau retak, mempersulit akses dan mengurangi kesan rapi sebuah situs religi.
Menyadari urgensi pembenahan ini, Penjabat (Pj) Kepala Desa Leran, Supriyadi, tidak tinggal diam. Ia segera mengambil langkah konkret dengan meninjau langsung lokasi bersama juru kunci makam dan perwakilan IHHC Gresik. Survei lapangan ini, jelas Supriyadi, bertujuan untuk memetakan secara detail kerusakan dan kebutuhan sarana prasarana yang paling mendesak. Dari sana, Pemdes Leran akan menyusun inventarisasi komprehensif sebagai dasar rencana aksi.
“Kami inventaris, selanjutnya akan dibenahi dan ditindaklanjuti setelah berkomunikasi dengan beberapa pihak terkait Makam Panjang. Dalam waktu dekat akan melakukan kerja bakti dan melibatkan warga serta pihak ketiga,” kata Supriyadi, menegaskan komitmen untuk bertindak cepat. Langkah awal yang menjadi prioritas adalah peningkatan kapasitas penampungan air. Jika saat ini hanya ada satu tandon 3.200 liter, Pemdes Leran mempertimbangkan untuk menambahnya menjadi 5.000 liter. Apabila itu belum cukup, opsi menambah dua tandon baru masing-masing 3.200 liter juga disiapkan. Tak hanya itu, penambahan jaringan pipa menuju kawasan makam juga akan dilakukan, menghubungkan saluran air ke area guci di dekat pintu masuk dan menambah keran-keran baru untuk kebutuhan wudu.
“Kami ajukan saluran ke guci dan penambahan keran pada tempat wudu. Kemarin kami sudah survei bersama,” imbuhnya.
Rencana pembenahan ini bukan sekadar memperbaiki fisik, melainkan juga merajut kembali kenyamanan dan kekhusyukan dalam berziarah. Supriyadi berharap, semua upaya ini dapat segera terealisasi, demi kepentingan banyak orang yang menggantungkan harapannya pada keberkahan Makam Siti Fatimah binti Maimun.
“Mudah-mudahan fasilitas dan sarana di Makam Siti Fatimah binti Maimun ini segera terealisasi untuk kepentingan orang banyak atau pengunjung makam nantinya,” pungkas Supriyadi, menyuarakan optimisme akan masa depan yang lebih baik bagi salah satu situs bersejarah paling berharga di Gresik ini. Dengan fasilitas yang memadai, setiap peziarah dapat merasakan kedamaian dan spiritualitas yang utuh, tanpa terbebani oleh kendala-kendala praktis yang seharusnya sudah bisa diatasi.












