KlikMojok – Mahasiswa Beswan Djarum dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya aktif mendampingi ibu-ibu di Kampoeng Dilan Oase Songo, Simomulyo Baru, Sukomanunggal, Surabaya. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026, ini bertujuan untuk melatih para ibu agar mampu mengelola program literasi anak secara mandiri, seperti mewarnai dengan kapas dan membuat papan bintang.
Dalam salah satu sesi kegiatan, anak-anak yang berkumpul di Pos Balai Kampoeng Dilan Oase Songo menerima selembar kertas gambar, kapas berbentuk lingkaran, dan krayon. Mereka diberikan kebebasan penuh untuk berkreasi, mengubah lingkaran kapas tersebut menjadi berbagai objek imajinatif. Hasilnya sangat beragam, mulai dari matahari, bunga, awan, telur ceplok, hingga menjadi bagian dari gambar binatang dan kereta api.
Kegiatan menggambar dan mewarnai ini merupakan contoh nyata dari program literasi yang diperkenalkan oleh Beswan Djarum kepada ibu-ibu Kampoeng Dilan Oase Songo. Para mahasiswa ini adalah penerima Djarum Beasiswa Plus yang sedang mengikuti kompetisi Community Empowerment, sebuah inisiatif untuk memberdayakan masyarakat.
Lebih dari sekadar mengajak anak-anak berpartisipasi dalam berbagai aktivitas, inti dari pendampingan ini adalah membimbing para ibu agar mereka sanggup mengelola program di perpustakaan kampung secara mandiri. Harapannya, kegiatan literasi anak dapat terus berjalan dan berkembang secara berkelanjutan, bahkan setelah masa pendampingan dari mahasiswa berakhir.
Tim Beswan Djarum yang terlibat dalam program ini terdiri dari sepuluh mahasiswa. Delapan di antaranya berasal dari ITS, yaitu Adifa Fajri Sampurno (Sistem Informasi), Kheisa Shafira Az Zahra (Perencanaan Wilayah dan Kota), Muhammad Dhava Adifairenza (Teknik Perkapalan), Nadia Ayula Assyaputri (Sistem Informasi), Nadya Luthfiyah Rahma (Sistem Informasi), Oryza Reynaleta Wibowo (Sistem Informasi), Sang Nyoman Agastya Mahesa Pranatha Kaler (Teknik Material), dan Shabrina Malikha Fasha (Studi Pembangunan). Dua mahasiswa lainnya berasal dari UINSA, yakni Agus Imaddudin (Manajemen Pendidikan Islam) dan Aura Dhea Novianti (Sosiologi).
Dalam implementasi program, para mahasiswa secara sengaja tidak ingin terus menjadi penggerak utama. Mereka mulai melibatkan ibu-ibu setempat secara langsung, dengan tujuan agar di masa mendatang, kegiatan dapat berjalan tanpa kehadiran pendampingan dari mahasiswa. Sosok seperti Siti Julaika, selaku Ketua RT, dan Yaning Mustika Ningrum, turut aktif dalam mengatur jalannya kegiatan bersama dengan warga lainnya.
Kheisa Shafira Az Zahra, yang akrab disapa Safi, mengamati adanya peningkatan keterlibatan yang signifikan dari para ibu. Safi menyatakan, “Hari ini bareng-bareng, semua itu ibu-ibu langsung menangani kegiatan. Jadi, ibu-ibu sepertinya sudah bisa mengurus anak-anak sendiri.”
Sebelum sesi menggambar dimulai, anak-anak terlebih dahulu diajak untuk membuat cap tangan menggunakan cat air. Sri Utami, selaku ketua perpustakaan setempat, dengan sigap mengarahkan mereka untuk berbaris agar setiap anak mendapatkan giliran.
Satu per satu, telapak tangan anak-anak yang telah diberi cat ditempelkan pada sebuah papan. Papan cap tangan ini nantinya akan digunakan sebagai latar belakang untuk papan bintang, sebuah elemen apresiasi yang menarik.
Safi menjelaskan tujuan dari papan tersebut, “Jadi, nanti anak-anak yang aktif dalam mengikuti kegiatan akan diberi bintang di papan cap tangan sebagai bentuk apresiasi.”
Pada sesi berikutnya, setelah aktivitas cap tangan, setiap anak kembali mendapatkan selembar kertas, kapas berbentuk lingkaran, dan krayon. Kapas yang telah dilengkapi perekat kemudian ditempelkan sesuai dengan imajinasi masing-masing anak.
Dari bentuk sederhana tersebut, anak-anak didorong untuk mengembangkan gambar berdasarkan kreativitas dan imajinasi mereka sendiri. Menurut Safi, pemilihan media yang sederhana ini memang sengaja dilakukan untuk memancing anak agar lebih peka mengamati bentuk dan kemudian mengembangkannya menjadi sebuah gambar yang utuh.
Ia menambahkan, ketika anak-anak menerima kertas kosong dan sebuah kapas berbentuk lingkaran, mereka secara tidak langsung didorong untuk membayangkan berbagai bentuk yang bisa diciptakan dari benda sederhana tersebut. Para mahasiswa Beswan Djarum awalnya tidak menyangka bahwa anak-anak akan mengembangkan gambar-gambar mereka dengan variasi yang begitu kaya.
Beragam kreasi muncul, ada yang menambahkan kereta api, binatang, matahari, bunga, awan, serta bentuk-bentuk lain sesuai dengan imajinasi unik masing-masing anak. Safi menjelaskan bahwa kegiatan menggambar dan mewarnai ini merupakan salah satu metode efektif untuk melatih kreativitas dan kemampuan anak dalam mengamati lingkungan sekitar mereka.
Safi sangat berharap agar kegiatan literasi di Kampoeng Dilan Oase Songo tidak berhenti setelah masa pendampingan dari Beswan Djarum selesai. Ia juga berharap program-program yang telah dicoba dapat terus diteruskan, dikembangkan, bahkan menjadi inspirasi dan ditiru oleh komunitas lain yang memiliki inisiatif serupa.
Lebih lanjut, Safi juga menaruh harapan besar agar Kampoeng Dilan Oase Songo dapat menjadi teladan bagi kampung-kampung lain dalam mengembangkan kegiatan literasi anak yang melibatkan peran aktif orang tua dan seluruh warga masyarakat. Menurutnya, meskipun terlihat sederhana, kegiatan semacam ini dapat memberikan pengalaman penting bagi perkembangan anak.
“Sekecil apa pun kegiatannya pasti berdampak besar untuk anaknya di kemudian hari,” ujarnya, menekankan pentingnya setiap upaya dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Sebagai penutup, Safi juga memberikan pesan motivasi kepada anak-anak agar mereka senantiasa mengembangkan kreativitas dan tidak pernah berhenti belajar. “Terus kembangkan kreativitas kalian, jangan putus belajar dan terus belajar di masa perkembangan kalian. Jadi, maksimalkan masa-masa itu. Kurangi gadget dan ganti dengan kegiatan lain, contohnya bisa langsung ikut berkegiatan dengan Kampoeng Dilan Oase Songo ini dan bermain permainan edukatif,” kata Safi sambil tertawa, menunjukkan semangat dan kehangatan dalam pesannya.












