KlikMojok – Di bawah terik matahari Lamongan, Rabu (21/10/2026), sebuah pemandangan langka terhampar di depan Kantor Kecamatan Glagah. Bukan sekadar keramaian biasa, melainkan gelombang solidaritas yang mengalir dari hati ratusan pendidik. Lebih dari 200 guru dari 36 lembaga pendidikan di Kecamatan Glagah dan sekitarnya berkumpul, menyuarakan satu desakan: keadilan dan transparansi dalam kasus dugaan penganiayaan yang menimpa M. Munir Thowil, seorang kepala madrasah yang diduga menjadi korban kekerasan oleh oknum anggota TNI.
Aksi damai ini bukan hanya ekspresi dukungan semata, melainkan manifestasi keprihatinan mendalam atas rapuhnya perlindungan terhadap profesi yang menjadi tiang peradaban. Para guru yang hadir mewakili berbagai organisasi seperti Perkumpulan Guru Madrasah Indonesia, Lembaga Pendidikan Ma’arif Glagah, serta Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kecamatan Glagah, menunjukkan bahwa isu ini menyentuh inti martabat kolektif mereka.
Tosari, koordinator lapangan aksi sekaligus Ketua Perkumpulan Guru Madrasah Mandiri (PKGMM) Jawa Timur, dengan tegas menyuarakan keprihatinan tersebut. Ia menekankan bahwa kekerasan terhadap tenaga pendidik adalah noda yang tak boleh terulang. “Harapan kita tidak ada lagi kekerasan kepada guru-guru di Indonesia. Kami juga berharap bapak dan ibu wali murid bisa memahami persoalan ini, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” kata Tosari, menyerukan kesadaran bersama akan peran dan perlindungan guru.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, para guru menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan penganiayaan yang dialami M. Munir Thowil. Mereka mengecam keras segala bentuk kekerasan terhadap tenaga pendidik dan menuntut agar pihak yang terbukti bersalah dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Ini adalah seruan untuk menegakkan supremasi hukum, tanpa pandang bulu.
Lebih lanjut, Tosari menambahkan bahwa para guru meminta agar penanganan perkara dilakukan secara objektif, transparan, dan tidak mengabaikan hak-hak korban. Mereka juga mendesak kesatuan terkait untuk bersikap tegas dalam menegakkan hukum dan disiplin prajurit apabila perkara tersebut memang melibatkan anggota TNI. “Penegakan disiplin internal tidak menghapus pertanggungjawaban pidana. Karena itu, kami meminta proses hukum berjalan sebagaimana mestinya,” tegas Tosari, mengingatkan bahwa keadilan pidana harus tetap ditegakkan terlepas dari sanksi internal.
Selain menuntut penegakan hukum yang adil, peserta aksi juga menolak segala bentuk tekanan terhadap korban. Mereka meminta agar tidak ada upaya paksaan untuk mencabut laporan, mengubah keterangan, atau menerima keputusan yang bertentangan dengan kehendak korban. Ini adalah perlindungan terhadap integritas korban dan proses hukum itu sendiri.
Menurut Tosari, aksi damai ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar dukungan bagi korban. Ini adalah pengingat penting bagi masyarakat, termasuk para wali murid, agar hubungan antara orang tua dan tenaga pendidik senantiasa mengedepankan komunikasi dan musyawarah. Persoalan yang mungkin muncul di lingkungan pendidikan, imbuhnya, harus diselesaikan dengan kepala dingin, jauh dari tindakan kekerasan. “Alhamdulillah aksi damai ini berlangsung lancar. Respons pemerintah dan aparat penegak hukum terhadap aspirasi yang kami sampaikan juga sangat baik,” ujarnya, menggambarkan suasana yang kondusif selama aksi.
Para guru berharap proses hukum atas dugaan penganiayaan ini dapat memberikan kepastian dan keadilan yang sesungguhnya bagi korban. Lebih dari itu, mereka menginginkan kasus ini menjadi pelajaran berharga, pengingat akan pentingnya perlindungan terhadap tenaga pendidik agar kejadian serupa tidak pernah lagi menodai dunia pendidikan. Aksi ini ditutup dengan penandatanganan kesepakatan bersama untuk mengawal penanganan perkara agar berjalan objektif dan transparan, yang ditandatangani oleh Danramil, Kapolsek, dan Camat Glagah, sebuah janji untuk mengawal keadilan.
“Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Namun, kami akan terus mengawal kasus ini. Jika nantinya hasilnya tidak sesuai dengan harapan, tidak menutup kemungkinan kami akan kembali menggelar aksi lanjutan,” ucap Tosari, menegaskan komitmen para guru untuk tidak berhenti berjuang sampai keadilan benar-benar terwujud. Solidaritas para pendidik di Lamongan ini menjadi cermin betapa vitalnya perlindungan dan penghormatan terhadap profesi guru, demi masa depan pendidikan yang lebih baik.












