KlikMojok – Udara kering yang menyelimuti Magetan terasa begitu pekat, membawa serta kekhawatiran yang tak kasat mata. Di Alun-Alun Magetan, pada hari Jumat, 18 September 2026, ratusan aparatur sipil negara (ASN) dan warga berkumpul, bukan untuk perayaan, melainkan untuk sebuah ikhtiar spiritual. Mereka menengadahkan tangan, merapalkan doa dalam Salat Istisqa, memohon kepada Sang Pencipta agar hujan segera turun membasahi bumi yang kian mengering, di tengah meningkatnya kejadian kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang mengancam berbagai wilayah.
Fenomena karhutla telah menjadi momok yang berulang setiap musim kemarau, namun tahun ini intensitasnya terasa lebih mengkhawatirkan. Api-api kecil yang muncul di berbagai titik, meskipun seringkali berhasil dipadamkan dengan cepat, telah menumpuk menjadi ancaman besar bagi ekosistem dan kehidupan masyarakat. Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, mengungkapkan kegelisahannya atas kondisi ini. “Pada hari ini kita mengadakan kegiatan salat istisqa, yaitu salat minta diturunkan hujan. Karena kita ketahui bersama, khususnya di Kabupaten Magetan dan umumnya di Indonesia saat ini banyak terjadi kebakaran,” kata Nanik, menjelaskan urgensi dari doa kolektif tersebut.
Kewaspadaan terhadap ancaman api tak pernah surut. Nanik menegaskan bahwa setiap laporan kebakaran segera ditindaklanjuti oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan bersama tim relawan yang sigap. Mereka bergerak cepat, berpacu dengan waktu untuk memadamkan api sebelum meluas. “Kalau ada kebakaran, langsung kita tangani. Begitu ada laporan, BPBD dengan tim relawan langsung menuju lokasi dan sudah bisa ditangani,” ujarnya. Meskipun api di wilayah Magetan saat ini telah padam, titik-titik api yang masih berkobar di wilayah Nganjuk, khususnya di perbatasan Desa Jabung, tetap menjadi perhatian serius. “Yang masih perlu kita waspadai khususnya di Jabung yang berbatasan dengan Nganjuk. Alhamdulillah, untuk wilayah kita apinya sudah padam. Sekarang apinya berada di wilayah Nganjuk, tetapi kita tetap harus waspada. Posko di kawasan Desa Jabung tetap ada untuk memantau jangan sampai api menjalar lagi,” imbuhnya, menunjukkan betapa tipisnya batas antara keamanan dan ancaman.
Harapan akan turunnya hujan bukan hanya untuk memadamkan api, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan hidup. Ketersediaan air bersih menjadi krusial di tengah kemarau panjang. “Kalau bisa secepat-cepatnya. Mohon doanya,” ucap Nanik, mewakili suara hati masyarakat yang mendambakan kesejukan. Doa ini pun diamini oleh KH Lukman Hidayat, Imam Salat Istisqa sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Plumpung, Plaosan, Magetan. Beliau menjelaskan bahwa salat ini adalah permohonan yang lebih luas dari sekadar hujan. “Mudah-mudahan diberi hujan, diberi berkah, khususnya masyarakat Magetan. Diberi keamanan, kesehatan. Ini tujuan pokok mengadakan salat istisqa di Alun-Alun Kabupaten Magetan. Mugi semua berkah dan sehat,” tutur Lukman, menggambarkan dimensi spiritual yang mendalam dari ikhtiar tersebut.
Kekhawatiran akan kekeringan bukan tanpa alasan. Lukman menyebutkan bahwa kebakaran mulai terjadi di kawasan Gunung Lawu, ikon Magetan yang juga menjadi paru-paru Jawa Timur. Selain itu, beberapa masyarakat mulai merasakan dampak berkurangnya sumber air. “Iya, diharapkan. Karena Gunung Lawu juga mulai kebakaran ya,” ujarnya, menambahkan, “Sebagian (mengalami kekeringan). Sumbernya akan berkurang.” Namun, ia juga memberikan sedikit kelegaan dengan menyatakan bahwa kondisi kekurangan air tersebut belum berlangsung lama dan masih dapat diatasi. “Belum lama. Cuman masyarakat agak kekurangan sedikit. Tapi alhamdulillah Magetan masih sehat dan aman, sumber walaupun agak berkurang tapi bisa teratasi,” jelasnya. Doa yang dipanjatkan dalam Salat Istisqa ini, tegas Lukman, tidak hanya terbatas untuk masyarakat Magetan saja, melainkan untuk seluruh masyarakat Indonesia. “Iya, semua keseluruhan. Bahkan ini Indonesia, Indonesia,” pungkasnya, menyatukan harapan dalam satu panjatan doa kolektif.
Di bawah langit yang masih biru namun menyimpan potensi ancaman, Salat Istisqa di Magetan menjadi simbol keteguhan dan harapan. Ini adalah perpaduan antara upaya nyata penanggulangan bencana dan penyerahan diri spiritual, sebuah pengingat bahwa di hadapan kekuatan alam, manusia selalu menemukan cara untuk bersatu, memohon, dan berjuang demi keberlangsungan hidup.












