Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Kunci Hindari ‘Neraka Digital’: Ilmu, Etika, dan Tabayun untuk Keluarga

badge-check

Kunci Hindari ‘Neraka Digital’: Ilmu, Etika, dan Tabayun untuk Keluarga Perbesar

KlikMojok – Dalam sebuah tausiah di Masjid Assakinah, Sukodono, Sidoarjo, pada Ahad (11/10/2026), Ustaz Hidayatullah menyerukan pentingnya membekali keluarga dengan ilmu, etika, dan kemampuan tabayun. Hal ini krusial untuk menghindari jebakan ‘neraka digital’ di tengah derasnya arus informasi. Beliau menekankan bahwa penggunaan teknologi harus selalu diiringi etika agar dampak negatifnya bisa diminimalisir.

Dulu, pencarian informasi memerlukan perjalanan ke perpustakaan. Namun, kini, kemudahan akses informasi telah berada di genggaman melalui telepon pintar. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Hidayatulloh, mengingatkan bahwa kemudahan ini wajib diimbangi dengan bekal ilmu dan kemampuan mengendalikan diri.

Pasalnya, teknologi digital tidak hanya menyuguhkan informasi yang berfaedah, melainkan juga membuka celah bagi informasi yang salah, potensi kecanduan, kejahatan siber, serta berbagai permasalahan lainnya. Pernyataan ini disampaikannya dalam Kajian Subuh di Masjid Assakinah, Sukodono, Sidoarjo, pada Ahad (11/10/2026).

Hidayatulloh mengawali kajiannya dengan menegaskan urgensi menuntut ilmu. Menurutnya, sebagai konsekuensi dari persaksian keimanan, umat Islam diwajibkan untuk senantiasa belajar dari sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis, tanpa batasan usia. Ia menyatakan, “Menuntut ilmu hukumnya wajib, terutama ilmu Allah. Tidak mengenal usia. Orang yang meringankan langkah untuk menuntut ilmu, Allah mudahkan jalannya menuju surga.”

Lebih lanjut, Hidayatulloh mengutip Surah Al-Mujadalah ayat 11, yang berbunyi: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْ ۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. Terjemahan dari ayat tersebut adalah: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, ‘Berdirilah,’ (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Bekal ilmu pengetahuan tersebut, menurut Hidayatulloh, juga sangat esensial saat manusia dihadapkan pada laju perkembangan teknologi digital yang begitu pesat.

Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini menguraikan bahwa teknologi digital mempermudah individu dalam mengelola serta memperoleh data secara cepat. Sebagai contoh, telepon pintar telah merevolusi cara seseorang mencari informasi, belajar, berkomunikasi, hingga bekerja. Namun, tantangan utamanya adalah tidak semua data dan informasi yang tersebar memiliki nilai baik dan kebenaran. Oleh karena itu, pengguna dituntut untuk memiliki kemampuan dalam memilih dan memilah.

Ia memaparkan beberapa risiko yang datang seiring perkembangan teknologi, mencakup kelelahan mental atau burnout, tergesernya beberapa jenis pekerjaan, risiko pencurian data, ancaman kejahatan siber, sampai penyebaran informasi palsu atau hoaks.

Aspek algoritma juga tak luput dari perhatian Hidayatulloh. Menurutnya, algoritma dapat terus-menerus menyuguhkan konten kepada pengguna berdasarkan riwayat tontonan dan preferensi sebelumnya. Apabila tidak dikendalikan dengan baik, individu berisiko semakin terjerumus dalam pola konsumsi digital yang telah dibentuk oleh algoritma tersebut. Selain itu, penggunaan gim, media sosial, serta judi online juga berpotensi menimbulkan masalah serius jika tidak diiringi dengan kendali diri yang kuat.

Melihat berbagai risiko tersebut, Hidayatulloh menggunakan frasa “neraka digital” sebagai sebuah peringatan serius. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa istilah ini bukanlah alasan untuk menolak kemajuan teknologi. “Ada hal yang tidak baik, muncul ‘neraka digital’. Ini warning bagi kita, bukan berarti teknologinya ditolak. Teknologi boleh dimanfaatkan dengan baik asalkan kita punya etika,” tegasnya.

Peringatan akan bahaya dunia digital ini kemudian Hidayatulloh kaitkan dengan tanggung jawab fundamental untuk menjaga diri dan keluarga, seperti yang termaktub dalam Surah At-Tahrim ayat 6: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. Ayat tersebut memiliki arti: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Hidayatulloh menjelaskan bahwa teknologi pada hakikatnya hanyalah sebuah sarana. Baik atau buruknya dampak yang ditimbulkan sangat bergantung pada sikap serta perilaku penggunanya.

Oleh karena itu, pengawasan terhadap pemanfaatan teknologi di lingkungan keluarga tidak cukup hanya sebatas pelarangan. Jauh lebih esensial adalah upaya membangun sikap, etika, dan kesadaran dalam menggunakan teknologi. “Sikap baik memunculkan perilaku yang baik,” tuturnya.

Salah satu sikap krusial yang harus ditumbuhkan dalam ruang digital adalah kehati-hatian terhadap informasi. Hidayatulloh mengingatkan bahwa setiap hal yang didengar, dilihat, dan diyakini pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban. Ia mengutip Surah Al-Isra ayat 36: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا. Terjemahan ayat tersebut adalah: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Pesan kehati-hatian ini kemudian ia hubungkan dengan Surah Al-Hujurat ayat 6, yang menekankan pentingnya tabayun atau memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mengambil tindakan. Sebagai Anggota Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan (BSANP)/Komite Standar Nasional Pendidikan (KSNP), Hidayatulloh menilai prinsip ini sangat relevan di tengah derasnya arus informasi di media sosial, di mana sebuah kabar dapat tersebar dalam hitungan detik meskipun kebenarannya belum terverifikasi. “Benarkah informasi yang kita terima? Jangan asal bagikan,” pesannya dengan lugas.

Dengan demikian, tanggung jawab pengguna media digital tidak hanya terbatas pada informasi yang dibaca. Setiap individu juga wajib berhati-hati terhadap apa yang diyakini kebenarannya dan kemudian disebarkan kepada orang lain.

Pada penutup kajiannya, Hidayatulloh kembali mengingatkan jemaah akan kandungan Surah Al-‘Asr, yang menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. “Saling mengingatkan, saling menasihati. Kita punya tanggung jawab bersama. Bersungguh-sungguh, Allah akan memberikan jalan,” pungkasnya.

Kajian Subuh pada pagi hari itu berakhir dalam suasana yang lebih santai. Setelah memperoleh ‘santapan rohani’, para jemaah kemudian menikmati sarapan pagi yang telah disiapkan. Mereka juga diberi kesempatan untuk membawa pulang sayuran yang tersedia di Masjid Assakinah.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Awan Tak Berarti Sejuk: Memahami Prakiraan Cuaca Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

13 Okt 2026 - 09:46 WIB

Ketika Awan Tak Berarti Sejuk: Memahami Prakiraan Cuaca Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

Ketika Langit Berbisik: Memahami Prakiraan Cuaca Malang dan Kota Batu 13 Oktober 2026

13 Okt 2026 - 09:44 WIB

Ketika Langit Berbisik: Memahami Prakiraan Cuaca Malang dan Kota Batu 13 Oktober 2026

Humas Sekolah Perlu Aktif Menulis Berita: Kunci Publikasi Kegiatan dan Citra Positif

13 Okt 2026 - 09:42 WIB

Humas Sekolah Perlu Aktif Menulis Berita: Kunci Publikasi Kegiatan dan Citra Positif

Ketika Konsentrasi Luntur di Tuban: Sebuah Pelajaran Mahal dari Jalur Bancar yang Memakan Korban dan Rumah

13 Okt 2026 - 06:12 WIB

Ketika Konsentrasi Luntur di Tuban: Sebuah Pelajaran Mahal dari Jalur Bancar yang Memakan Korban dan Rumah

Ketika Senja Berkalang Duka: Aroma Busuk di Kebun Jagung Jombang Mengakhiri Penantian Lansia yang Hilang

13 Okt 2026 - 06:12 WIB

Ketika Senja Berkalang Duka: Aroma Busuk di Kebun Jagung Jombang Mengakhiri Penantian Lansia yang Hilang
Trending di Pendidikan