KlikMojok – Pagi itu di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan/Kabupaten Tuban, keheningan pecah oleh jeritan pilu. Seorang ibu, dengan hati berdebar, mencari putranya, AEM (44), yang tak kunjung terlihat dari kamarnya. Kekhawatiran membimbing langkahnya menuju belakang rumah, ke arah sumur tua yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Di sanalah, bayangan suram menyambutnya: putranya ditemukan tewas di dalam sumur dengan posisi gantung diri. Sebuah tragedi yang diduga berakar dari keputusasaan akibat penyakit stroke yang telah menggerogoti hidupnya selama dua tahun.
Kisah AEM adalah cerminan dari beban tak kasat mata yang seringkali dipikul oleh para penderita penyakit kronis. Stroke, sebagai salah satu penyakit neurologis paling melumpuhkan, tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga mental dan emosional. Kehilangan kemandirian, rasa sakit yang tak berkesudahan, dan prospek kesembuhan yang samar, dapat menumbuhkan bibit-bibit keputusasaan yang pada puncaknya, bisa berujung pada keputusan ekstrem. Tragedi ini bukan hanya sekadar berita kriminal, melainkan sebuah panggilan untuk lebih memahami pentingnya dukungan kesehatan mental, terutama bagi mereka yang bergulat dengan penderitaan fisik jangka panjang, sebuah pelajaran berharga bagi pendidikan publik.
Kepolisian setempat, melalui Kasi Humas Polres Tuban, Iptu Mokhamad Iksan, S.H., membenarkan insiden tragis ini. Pihaknya menerima laporan sekitar pukul 09.30 WIB mengenai penemuan orang yang meninggal dunia dengan posisi gantung diri di dalam sumur di belakang rumah yang beralamat di Jalan Brawijaya Gang II.
Iksan menjelaskan kronologi penemuan jasad, “Korban berinisial AEM (44) laki-laki, saat itu saksi ibunya sendiri tengah mencari korban di dalam kamarnya. Namun korban tidak ada, kemudian ibunya mengecek di belakang rumah dan saat melihat sumur, korban posisinya sudah terikat lehernya,” ujarnya, Rabu (16/09/2026).
Melihat pemandangan yang menghancurkan hati itu, sang ibu segera meminta pertolongan tetangga dan menghubungi adik korban untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib. Proses evakuasi jenazah AEM dari dalam sumur tidaklah mudah. “Di karenakan posisi jenazah korban sulit dievakuasi, Polsek Tuban berkoordinasi dengan petugas BPBD Tuban meminta bantuan untuk mengeluarkan jenazah korban dari sumur,” imbuh Iksan.
Dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), korban ditemukan dalam posisi menggantung di dalam sumur, lehernya terjerat tali tampar warna biru yang terikat pada tiang sumur. AEM saat itu mengenakan topi hitam, kaus merah, dan celana pendek biru. Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan oleh petugas kesehatan Kebonsari dan tim Inafis Polresta Tuban mengonfirmasi dugaan awal. “Hasil pemeriksaan dari petugas kesehatan Kebonsari dan tim Inafis Polresta Tuban tidak ditemukan tanda kekerasan, tetapi ditemukan di kemaluan korban mengeluarkan sperma, dubur, serta keluar kotoran,” jelas Iksan. Selain itu, pada bagian leher korban ditemukan luka bekas ikatan tali, dan di mulutnya terdapat sisa obat kimia atau obat pembasmi rumput berwarna hijau.
Keterangan dari pihak keluarga menguatkan dugaan keputusasaan sebagai motif utama. Mereka menyampaikan bahwa AEM telah menderita sakit stroke selama dua tahun. “Diduga korban putus asa karena menderita sakit stroke selama 2 tahun tidak sembuh-sembuh kemudian putus asa,” pungkas Iksan. Penderitaan fisik yang berkepanjangan, ditambah dengan mungkin rasa menjadi beban atau hilangnya harapan akan kesembuhan, seringkali menjadi pemicu utama seseorang mengambil jalan pintas yang tragis.
Kisah AEM dari Tuban ini adalah pengingat pahit bahwa di balik setiap kasus bunuh diri, seringkali tersembunyi perjuangan batin yang tak terlihat. Ini menekankan pentingnya pendidikan tentang kesehatan mental, empati, dan jaringan dukungan yang kuat bagi individu yang menghadapi penyakit kronis atau kesulitan hidup lainnya. Masyarakat perlu didorong untuk lebih peka terhadap tanda-tanda depresi dan keputusasaan, serta menciptakan lingkungan di mana mencari bantuan profesional tidak lagi dianggap tabu. Tragedi ini seharusnya memicu refleksi kolektif kita tentang bagaimana kita sebagai komunitas dapat lebih baik dalam merangkul dan mendukung mereka yang sedang berjuang, agar tidak ada lagi asa yang merapuh sendirian di pinggir sumur kehidupan.












