KlikMojok – Pagi itu, Sabtu, 3 Oktober 2026, ketenangan perairan Teluk Popoh, Tulungagung, dikoyak oleh penemuan yang mengguncang. Seorang nelayan yang tengah melaut, di tengah guliran ombak yang tak biasa, mendapati sesosok tubuh mengapung sekitar tiga mil dari Pelabuhan Perikanan Popoh. Tanpa identitas, jasad itu segera dievakuasi, memulai babak baru dalam sebuah kisah yang tragis dan penuh tanda tanya.
Sosok tak bernyawa itu kemudian dibawa ke RSUD dr Iskak Tulungagung untuk proses identifikasi. Selama beberapa hari, identitasnya menjadi misteri, hingga akhirnya, pihak keluarga dari Jombang datang. Melalui pengenalan susunan gigi dan ciri khusus lainnya, teka-teki itu terkuak. Ia adalah Deni Chandra Irawan, pemuda berusia 23 tahun dari Desa Mojowangi, Kecamatan Mojowarno, Jombang, yang telah menghilang selama sepekan. Konfirmasi identitas ini diperkuat dengan penemuan ijazah dan KTP korban di kawasan pantai yang menjadi titik awal pencarian.
Iptu Nanang Murdianto, Kasi Humas Polres Tulungagung, membenarkan kejadian ini. “Jenazah segera dievakuasi dan dilakukan pemeriksaan di RSUD dr Iskak Tulungagung,” ujarnya, pada Senin, 5 Oktober 2026. Pemeriksaan medis lebih lanjut memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh Deni, mengarahkan penyelidikan pada motif yang lebih kompleks dan personal. “Saat ini jenazah telah dibawa pulang ke Jombang untuk proses pemakaman,” tambahnya, menutup babak pencarian yang berakhir duka.
Namun, di balik penemuan jasad, tersimpan sebuah narasi pilu yang mulai terungkap dari kesaksian teman-teman dan kerabat. Deni terakhir kali berkomunikasi pada Minggu, 27 September 2026. Dalam percakapan terakhir itu, ia sempat berpamitan kepada salah seorang temannya. Sebuah pesan perpisahan yang kini terasa begitu menghantui. Diduga kuat, kepergian Deni dipicu oleh kondisi emosional yang mendalam, yakni patah hati.
“Sebelum ditemukan meninggal dunia, didapati percakapan korban yang sedang patah hati dengan pasangannya,” pungkas Iptu Nanang Murdianto. Kalimat ini menjadi kunci, membuka jendela pada kerapuhan jiwa seorang pemuda yang mungkin merasa tak punya jalan keluar dari badai emosi. Peristiwa ini bukan hanya tentang kematian seorang individu, melainkan juga sebuah cermin bagi kita semua tentang pentingnya kepekaan terhadap kesehatan mental dan dukungan emosional, khususnya di kalangan generasi muda. Pendidikan tentang resiliensi, pengelolaan emosi, dan pentingnya mencari bantuan profesional saat menghadapi kesulitan, menjadi semakin krusial agar tragedi serupa tak terulang. Kisah Deni menjadi pengingat pahit bahwa luka batin bisa sama mematikan dengan luka fisik, dan bahwa lingkungan yang suportif adalah benteng terakhir bagi jiwa-jiwa yang sedang rapuh.












