Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Kisah Inspiratif Prof. Uril Bahruddin: Strategi 14 Hari Kuasai Bahasa Arab di Pondok Karangasem

badge-check

Kisah Inspiratif Prof. Uril Bahruddin: Strategi 14 Hari Kuasai Bahasa Arab di Pondok Karangasem Perbesar

KlikMojok – Prof. Dr. H. Uril Bahruddin, M.A., seorang guru besar bahasa Arab, memiliki kenangan mendalam tentang dua pekan liburan yang ia habiskan di Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Saat sebagian besar santri pulang ke rumah masing-masing untuk bertemu keluarga, ia bersama 13 rekan santri lainnya memilih untuk tetap tinggal di pondok guna berlatih berbicara bahasa Arab.

Pengalaman berharga tersebut kembali diceritakan oleh Prof. Uril dalam acara Talkshow Pendidikan dan Silaturahmi Alumni dan Guru yang menjadi bagian dari puncak Milad Ke-78 Pondok Pesantren Karangasem. Acara inspiratif ini diselenggarakan di Aula Abdurrahman Syamsuri pada hari Ahad, 18 Oktober 2026.

Dalam kesempatan tersebut, guru besar bahasa Arab ini hadir bersama sejumlah tokoh penting lainnya. Di antaranya adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag., serta Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., seorang guru besar di bidang teknologi pembelajaran.

Bagi Prof. Uril, kembali menginjakkan kaki di Karangasem merupakan momen untuk menengok kembali tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan manis. Sebelum menghadiri acara utama, ia bahkan sempat bermalam di lingkungan pesantren. Tak hanya itu, ia juga meluangkan waktu untuk berkuda di area Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) sebelum akhirnya menuju aula tempat acara berlangsung.

Prof. Uril memulai pendidikannya di Karangasem pada tahun 1984 dan menempuh studi selama enam tahun di sana. Kenangan masa-masa menjadi santri inilah yang turut mewarnai setiap tutur katanya di hadapan keluarga besar pesantren.

“Dulu enam tahun tidur di sini,” ucapnya, mengenang masa-masa tersebut.

Ia mengingat kebiasaan rutinnya mempelajari kitab Alfiyah bersama K.H. Anwar Mu’rob setiap usai salat Zuhur, bahkan sampai khatam sebanyak dua kali. Selain itu, kitab Hidayatul Mujtahid, Jurumiah, dan beberapa kitab klasik lainnya juga menjadi bagian dari materi yang ia pelajari secara mendalam.

Meskipun telah mempelajari berbagai kitab yang menggunakan bahasa Arab, Prof. Uril mengakui bahwa pada masa itu ia masih mengalami kesulitan yang signifikan dalam menggunakan bahasa tersebut untuk percakapan sehari-hari.

“Semua sudah saya lahap, tapi lisan saya ini suruh berbicara bahasa Arab itu tidak bisa,” terangnya, menggambarkan tantangan yang dihadapinya kala itu.

Kesempatan untuk memperkuat kemampuan berbicara bahasa Arab akhirnya datang pada masa liburan menjelang kenaikan kelas III SLTA. Prof. Uril bersama 13 santri lainnya memutuskan untuk menunda kepulangan mereka dan mengikuti program latihan bahasa Arab intensif di bawah bimbingan K.H. Mudlofir.

Selama 14 hari penuh, mereka harus mematuhi satu aturan ketat: hanya diperbolehkan berbicara menggunakan bahasa Arab. Aturan ini mendorong mereka untuk terus berlatih dalam setiap percakapan sehari-hari, memberikan ruang bagi pengetahuan bahasa yang telah dipelajari melalui kitab-kitab untuk langsung dipraktikkan.

Latihan intensif selama dua pekan tersebut membuahkan hasil yang memuaskan. Prof. Uril dan rekan-rekannya menjadi jauh lebih lancar dalam berbicara bahasa Arab. Pengalaman berharga selama 14 hari itu kemudian menjadi bekal penting bagi mereka untuk mengajarkan bahasa Arab kepada santri-santri lainnya.

Menurut Prof. Uril, ke-14 santri yang tergabung dalam kelompok latihan tersebut kemudian berhasil menjadi guru. Bahkan, salah seorang di antara mereka kini berkiprah sebagai dosen di Malaysia, menunjukkan dampak positif dari pelatihan tersebut.

Dari pengalamannya ini, Prof. Uril menekankan pentingnya menciptakan keunggulan kompetitif dalam mengembangkan Pondok Karangasem. Penguasaan kitab kuning dan ilmu alat merupakan bekal fundamental yang telah dibangun oleh para pendahulu dan harus terus dijaga serta dikembangkan.

Namun, menurutnya, bekal tersebut perlu dilengkapi dengan keberanian dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing. Hal ini krusial agar santri dapat memperluas kiprah mereka hingga ke kancah global.

Ia kemudian mengaitkan pesan penting ini dengan tema Milad Ke-78 Karangasem, yaitu “Menebar Kebaikan, Menginspirasi Dunia”.

“Nahwu sharaf itu keunggulan Pondok Karangasem dan pondok lainnya, namun tanpa berbicara tidak bisa mendunia seperti tema kita pada tahun ini. Dan caranya mendunia, kita harus bisa ngomong bahasa asing,” tegasnya, mengakhiri pesannya dengan penekanan kuat pada urgensi penguasaan bahasa asing untuk mencapai misi global.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Air Terjun Ribuan Mengalir, Kebutuhan Modern Terganjal: Dilema ATM di Wisata Tumpak Sewu

20 Okt 2026 - 09:45 WIB

Ketika Air Terjun Ribuan Mengalir, Kebutuhan Modern Terganjal: Dilema ATM di Wisata Tumpak Sewu

Menjelajahi Langit Malang Raya: Prakiraan Cuaca 20-21 Oktober 2026 yang Dinamis

20 Okt 2026 - 09:45 WIB

Menjelajahi Langit Malang Raya: Prakiraan Cuaca 20-21 Oktober 2026 yang Dinamis

PDNA Sidoarjo Tekankan Pentingnya Kaderisasi Perempuan Muda untuk Kepemimpinan Baru PWNA Jatim

20 Okt 2026 - 09:44 WIB

PDNA Sidoarjo Tekankan Pentingnya Kaderisasi Perempuan Muda untuk Kepemimpinan Baru PWNA Jatim

Antrean Panjang di Balik Janji Aman: Pelajaran dari Sidak BBM di Sampang

20 Okt 2026 - 06:11 WIB

Antrean Panjang di Balik Janji Aman: Pelajaran dari Sidak BBM di Sampang

Ketika Antrean BBM Melilit Tulungagung: Mengurai Benang Kusut Pasokan dan Pergeseran Konsumen

20 Okt 2026 - 06:10 WIB

Ketika Antrean BBM Melilit Tulungagung: Mengurai Benang Kusut Pasokan dan Pergeseran Konsumen
Trending di Pendidikan