KlikMojok – Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Cherry Princess, seorang murid kelas IX SMP Muhammadiyah 4 Porong, sukses meraih juara harapan II dalam lomba cerpen Gebyar Bulan Bahasa Kabupaten Sidoarjo. Prestasi membanggakan ini diraih melalui karyanya yang berjudul “Ketika Asap Tidak Dapat Berdusta”, sebuah cerpen yang tidak hanya mengangkat tradisi pengasapan ikan lokal, tetapi juga menyelipkan pesan mendalam tentang pentingnya kejujuran.
Cerita yang mengangkat kekayaan tradisi pengasapan ikan di Desa Penatarsewu inilah yang menjadi kunci keberhasilan Cherry Princess dalam kompetisi menulis cerpen bergengsi di Gebyar Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia tingkat Kabupaten Sidoarjo pada Rabu (28/10/2026).
Melalui cerpennya yang berjudul “Ketika Asap Tidak Dapat Berdusta”, murid kelas IX dari SMP Muhammadiyah 4 Porong tersebut berhasil merangkai kisah seorang pengolah ikan asap. Di dalamnya, ia dengan apik menyajikan konflik keluarga, intrik ambisi, serta penekanan kuat pada nilai-nilai kejujuran yang harus selalu dijaga.
Jazilatul Khikmiyah, Guru Bahasa Indonesia di SMP Muhammadiyah 4 Porong, menyampaikan apresiasi tinggi atas pencapaian Cherry. Menurut pandangannya, kegiatan menulis cerpen merupakan sebuah proses integral untuk mengolah kepekaan, mengembangkan daya imajinasi, serta menyampaikan pesan-pesan yang sarat makna kepada para pembaca.
Beliau menuturkan, “Prestasi ini patut disyukuri dan diapresiasi. Cherry telah menunjukkan bahwa sebuah cerita dapat lahir dari lingkungan sekitar, kemudian dikembangkan menjadi karya yang memiliki konflik, kejutan, dan pesan moral.”
Latar belakang cerpen karya Cherry ini mengambil inspirasi dari kehidupan masyarakat Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, yang memang terkenal dengan produk olahan ikan asapnya. Di balik kelezatan bandeng asap yang menjadi kebanggaan warga setempat, ia berhasil merangkai kisah tentang kompleksitas hubungan antara seorang anak dan ayahnya.
Cerpen tersebut memperkenalkan tokoh utama bernama Bayu, yang dikisahkan merasa jengah dengan kehidupan sehari-hari yang selalu bersinggungan dengan asap dari proses pengolahan ikan secara tradisional. Bayu berpandangan bahwa metode tersebut sudah usang dan tidak lagi efisien di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
Kekesalan Bayu semakin bertambah karena masyarakat di sekitarnya, termasuk sang ayah, bersikukuh untuk mempertahankan cara pengolahan ikan tradisional tersebut.
Konflik dalam cerita mencapai puncaknya ketika sang ayah dikisahkan jatuh sakit, sementara pesanan 300 ekor bandeng asap harus segera diselesaikan dalam waktu singkat. Dalam situasi mendesak tersebut, Bayu akhirnya mengambil alih seluruh pekerjaan pengolahan ikan asap.
Sayangnya, sifat malas dan hasrat untuk mencari jalan pintas mendorong Bayu pada keputusan yang salah. Ia memutuskan untuk membeli bahan kimia dari sebuah toko, dengan harapan agar ikan olahannya tampak lebih berkualitas tanpa perlu melalui proses pengasapan tradisional yang memakan waktu dan membutuhkan kesabaran ekstra.
Bayu sangat berharap bahwa hasil pekerjaannya akan mendatangkan pujian. Namun, harapannya seketika sirna ketika seorang koki profesional mulai menaruh curiga terhadap penggunaan bahan kimia pada ikan yang ia sajikan.
Kecurigaan tersebut kemudian diungkapkan secara terang-terangan di hadapan banyak orang yang hadir. Akibatnya, Bayu harus menghadapi berbagai konsekuensi yang timbul dari pilihan kelirunya.
Menjelang akhir cerita, Cherry menyajikan sebuah kejutan tak terduga. Terungkap bahwa serangkaian kejadian yang menimpa Bayu ternyata merupakan bagian dari rencana sang ayah, yang pada kenyataannya tidak pernah sakit.
Melalui rekayasa peristiwa tersebut, sang ayah bermaksud memberikan pelajaran berharga kepada Bayu bahwa keberhasilan sejati tidak dapat dicapai melalui kebohongan atau dengan menempuh jalan pintas.
Cerpen ini secara lugas menyampaikan pesan bahwa kemajuan zaman haruslah sejalan dengan nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, serta penghargaan terhadap kearifan lokal. Tradisi memang dapat berkembang dan beradaptasi, namun keselamatan dan kepercayaan yang diberikan oleh orang lain tetap harus dijaga dengan baik.
Jazilatul berharap agar pencapaian yang diraih oleh Cherry ini dapat menjadi pemicu semangat bagi dirinya untuk terus mengasah dan mengembangkan kemampuan menulisnya.
“Saya berharap pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus membaca, menulis, dan berani menyampaikan gagasan melalui karya sastra,” ungkap Jazilatul.
Lebih lanjut, ia juga berharap bahwa prestasi yang diraih ini akan menginspirasi murid-murid lain agar berani berkarya dan aktif mengikuti berbagai ajang literasi. Menurutnya, setiap murid memiliki potensi luar biasa yang dapat berkembang optimal melalui kesempatan yang tepat, pendampingan yang baik, serta ruang yang luas untuk berekspresi.
Memanfaatkan momentum Bulan Bahasa, SMP Muhammadiyah 4 Porong terus berupaya mendorong para muridnya untuk menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Karya Cherry Princess ini menjadi bukti nyata bagaimana kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat dapat diolah menjadi sebuah cerita yang tidak hanya mengangkat tradisi, tetapi juga efektif menyampaikan pesan moral yang kuat kepada para pembaca.












