KlikMojok – Debu mengepul di bawah terik matahari yang tak kenal ampun, menandai musim kemarau yang kian menggigit di Blitar Selatan. Di Desa Binangun, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, realitas ini bukan sekadar cerita, melainkan perjuangan hidup bagi 170 kepala keluarga yang terdaftar dalam penanganan darurat akibat musim kering yang berkepanjangan. Kebutuhan mendasar akan pangan dan air bersih kini menjadi barang langka, mendesak respons cepat dari pemerintah daerah.
Pemerintah Kabupaten Blitar, melalui Bupati Rijanto dan Wakil Bupati Beky Herdihansah, tak tinggal diam. Bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), mereka turun langsung ke Dusun Selok, Desa Binangun, pada Kamis (10/9/2026), untuk meninjau kondisi riil di lapangan dan menyerahkan bantuan awal. Sebanyak 40 kepala keluarga menerima simbolis bantuan beras pada tahap pertama ini, sebuah langkah awal untuk meringankan beban mereka.
“Kalau ada masyarakat yang kekurangan, segera membuat laporan kepada bupati. Ini supaya bisa segera kita tindak lanjuti,” ujar Bupati Rijanto, menekankan pentingnya kecepatan pelaporan dari tingkat desa dan kecamatan. Baginya, responsivitas informasi adalah kunci utama agar bantuan pangan dan kebutuhan dasar lainnya dapat segera menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Penyaluran bantuan beras ini akan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan ketersediaan stok daerah, memastikan bahwa seluruh warga yang telah terdata akan menerima hak mereka.
Selain bantuan pangan, Pemkab Blitar juga mengerahkan armada tangki air bersih untuk mengatasi krisis air yang mulai meluas. Wilayah Desa Sukorejo dan Desa Tugurejo di Kecamatan Wates, serta Desa Margomulyo di Kecamatan Panggungrejo, menjadi beberapa titik awal distribusi air bersih. Upaya ini merupakan bagian dari strategi mitigasi jangka pendek untuk memastikan pasokan air minum dan kebutuhan sehari-hari warga tetap terpenuhi.
Pemetaan data kekeringan Kabupaten Blitar tahun 2026 menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Tujuh kecamatan teridentifikasi masuk dalam kategori rawan tinggi, mayoritas berada di kawasan Blitar Selatan. Kecamatan Wonotirto, Binangun, Wates, Panggungrejo, Kademangan, Bakung, dan Sutojayan menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian ekstra. Potensi kekeringan yang masih tinggi di area ini menuntut kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
Menghadapi potensi ancaman yang terus ada, Bupati Rijanto telah memberikan instruksi tegas kepada seluruh aparatur pemerintah di tingkat desa dan kecamatan. Mereka diminta untuk tidak hanya memantau kondisi warga secara aktif, tetapi juga segera melaporkan setiap perkembangan yang terjadi di lapangan. “Kecepatan informasi dari desa dan kecamatan menentukan ketepatan kami dalam menyalurkan bantuan, baik pangan maupun kebutuhan dasar air bersih,” pungkasnya. Di tengah ketidakpastian cuaca ekstrem, sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi bencana kekeringan.












