Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Gelombang Nestapa di Perairan Paiton: Refleksi Keselamatan Penyelam Tradisional Probolinggo

badge-check

Gelombang Nestapa di Perairan Paiton: Refleksi Keselamatan Penyelam Tradisional Probolinggo Perbesar

KlikMojok – Lima hari adalah rentang waktu yang panjang untuk sebuah penantian, terutama ketika yang ditunggu adalah kabar dari laut yang tak pernah sepenuhnya bisa ditebak. Di pesisir Mayangan, Kota Probolinggo, setiap embusan angin membawa harapan dan kecemasan yang berpilin. Namun, pada Senin (5/10/2026) siang, harapan itu sirna, berganti isak tangis yang pecah saat jasad seorang penyelam tradisional yang hilang akhirnya kembali, dijemput keheningan Pelabuhan Tanjung Tembaga.

Kisah pilu ini bermula saat seorang penyelam tradisional asal Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dinyatakan hilang di tengah luasnya lautan. Pencarian intensif pun segera dilakukan oleh tim gabungan, dibantu oleh pihak keluarga yang tak kenal lelah menyisir setiap sudut perairan. Penantian selama lima hari itu mencapai puncaknya ketika sekitar pukul 12.30 WIB, sebuah kabar duka datang, mengakhiri segala asa yang tersisa. Jasad korban ditemukan mengambang, kemudian dievakuasi menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, dan tiba sekitar pukul 15.30 WIB, disambut oleh tangis histeris keluarga yang telah lama menanti.

Dantim Basarnas Banyuwangi, Putu Eka Agus Setiyawan, menjelaskan detail penemuan tragis ini. “Korban ditemukan pada hari kelima kurang lebih jam 12.30 waktu setempat. Berjarak 7,3 mil ke arah 71 derajat dari lokasi. Korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ungkap Putu. Saat ditemukan, kondisi jenazah sudah membengkak, sebuah indikasi bahwa korban telah lama berada di bawah pengaruh air laut. Jasad tersebut segera dievakuasi untuk kemudian diserahkan kepada pihak keluarga dan menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.

Yang membuat pencarian ini semakin menyayat hati adalah peran aktif keluarga dalam penemuan jenazah. Sebelumnya, informasi dari masyarakat mengenai adanya jenazah yang terlihat mengambang di tengah laut menjadi petunjuk krusial. Kasat Polairud Polres Probolinggo, AKP I Wayan Mulyana, menuturkan bahwa informasi tersebut menggeser fokus pencarian tim gabungan ke wilayah perairan Paiton. “Jadi sebelumnya kami mendapatkan informasi bahwa ada yang melihat jenazah mengambang di tengah laut. Akhirnya dengan informasi tersebut kami fokuskan pada pencarian di daerah Paiton,” ujarnya.

Tim gabungan bersama pihak keluarga korban pun menyisir area tersebut. Dalam pencarian yang penuh ketegangan itu, justru pihak keluarga yang akhirnya menemukan orang terkasih mereka. “Tim gabungan bersama pihak keluarga korban sama-sama mencari, dan syukur alhamdulillah korban ditemukan oleh tim keluarga, sehingga langsung dievakuasi ke Pelabuhan Probolinggo,” tambah Wayan, menggambarkan momen haru bercampur pilu tersebut.

Pasca-penemuan, jenazah dibawa ke RSUD dr. Moh Saleh Kota Probolinggo untuk menjalani visum demi memastikan penyebab kematian. “Untuk kondisi korban badan sudah mulai membengkak, dan untuk proses lanjut kita bawa ke rumah sakit RSUD dr. Moh Saleh Kota Probolinggo untuk dilakukan visum lebih lanjut. Untuk indikasi kekerasan atau bukan, kita masih menunggu hasil visum,” tegas Wayan, menekankan pentingnya prosedur investigasi ini.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan risiko yang senantiasa mengintai para penyelam tradisional, profesi yang kerap diwariskan turun-temurun dengan mengandalkan pengalaman, namun seringkali mengabaikan aspek keselamatan modern. Basarnas, melalui Putu, menyampaikan imbauan serius kepada para penyelam tradisional agar tidak pernah menganggap remeh keselamatan saat berada di bawah laut. “Mungkin ke depannya terkait dengan penyelam tradisional lebih mengutamakan safety. Walaupun sudah sering dilakukan, tapi kami tetap mengimbau tetap mengutamakan keselamatan saat melakukan penyelaman,” pungkasnya. Pesan ini bukan sekadar formalitas, melainkan pelajaran berharga yang dibayar mahal dengan nyawa, mengingatkan bahwa di balik keindahan laut, tersimpan bahaya yang tak pandang bulu, menuntut kewaspadaan dan persiapan yang matang bagi siapa pun yang menggantungkan hidupnya pada samudra.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Science Camp Musasi 2026: Mengasah Kemandirian dan Keterampilan Bertahan Hidup Siswa di Alam Terbuka

5 Okt 2026 - 21:04 WIB

Science Camp Musasi 2026: Mengasah Kemandirian dan Keterampilan Bertahan Hidup Siswa di Alam Terbuka

Atasi Krisis Air Bersih Akibat Kekeringan, Lazismu Bojonegoro Salurkan Bantuan di Desa Balongcabe

5 Okt 2026 - 21:02 WIB

Atasi Krisis Air Bersih Akibat Kekeringan, Lazismu Bojonegoro Salurkan Bantuan di Desa Balongcabe

Jejak Luka di Teluk Popoh: Kisah Pilu Deni, Pemuda Jombang yang Patah Hati

5 Okt 2026 - 18:46 WIB

Jejak Luka di Teluk Popoh: Kisah Pilu Deni, Pemuda Jombang yang Patah Hati

Merajut Solidaritas, Menebar Rasa Aman: Sinergitas TNI-Polri di Malang Raya

5 Okt 2026 - 18:45 WIB

Merajut Solidaritas, Menebar Rasa Aman: Sinergitas TNI-Polri di Malang Raya

Mengasah Kreativitas dan Keberanian: Murid SD Mugres Ajak Pengunjung Gressmall Bikin Gelang Simpul

5 Okt 2026 - 18:44 WIB

Mengasah Kreativitas dan Keberanian: Murid SD Mugres Ajak Pengunjung Gressmall Bikin Gelang Simpul
Trending di Pendidikan