KlikMojok – Di balik geliat pembangunan dan hiruk-pikuk aktivitas ekonomi di Kabupaten Mojokerto, ada sebuah cerita tentang harapan dan tantangan yang terangkum dalam angka-angka ketenagakerjaan. Data terbaru menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam roda perekonomian terus meningkat, sebuah indikasi vitalitas daerah yang patut dicermati lebih dalam.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto mencatat, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di wilayah ini terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2025, TPAK Kabupaten Mojokerto telah mencapai 74,24 persen, sebuah angka yang naik 0,30 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 73,94 persen. Kenaikan ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari semakin banyaknya penduduk usia kerja yang terlibat aktif dalam pasar kerja.
Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny, menjelaskan bahwa TPAK merupakan indikator penting yang menggambarkan persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi. Ini mencakup mereka yang sudah memiliki pekerjaan maupun yang sedang berupaya mencari nafkah. “Angka tersebut kembali naik menjadi 72,51 persen pada 2023 hingga mencapai 74,24 persen pada 2025. Artinya, dari setiap 100 penduduk usia kerja di Kabupaten Mojokerto, sekitar 74 orang di antaranya masuk dalam kelompok angkatan kerja,” ungkap Dwi Yuhenny, Sabtu (10/10/2026), menggarisbawahi dinamika positif ini.
Peningkatan angka partisipasi ini tentu saja menjadi angin segar, menunjukkan semakin banyak penduduk usia kerja yang termotivasi untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, baik melalui bekerja, mencari pekerjaan, maupun mempersiapkan usaha mandiri. Namun, pertumbuhan jumlah angkatan kerja ini juga membawa serta tantangan yang tidak kalah besar. Ketersediaan lapangan kerja yang memadai dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi dua sisi mata uang yang harus diimbangi agar potensi ini dapat teroptimalkan.
Dari perspektif pendidikan, komposisi angkatan kerja Kabupaten Mojokerto pada tahun 2025 masih didominasi oleh penduduk dengan latar belakang pendidikan SMP ke bawah, yang mencakup 52,50 persen dari total angkatan kerja. Sementara itu, kelompok angkatan kerja dengan pendidikan tertinggi SMA atau sederajat tercatat sebanyak 253.139 orang, atau setara dengan 37,40 persen. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 256.731 orang. Adapun angkatan kerja yang berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi hanya mencapai 10,20 persen. Kondisi ini secara gamblang menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan masih menjadi pekerjaan rumah yang serius dalam pembangunan ketenagakerjaan di Kabupaten Mojokerto. Sebab, pendidikan dan keterampilan adalah modal utama bagi tenaga kerja untuk bersaing di pasar kerja dan meraih pekerjaan yang layak serta berkelanjutan.
Total angkatan kerja di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2025 tercatat mencapai 677.257 orang. BPS merinci lebih lanjut bahwa dari jumlah tersebut, sebanyak 376.158 orang adalah laki-laki, sementara perempuan berjumlah 301.099 orang. Berdasarkan kelompok umur, angkatan kerja terbanyak berada pada rentang usia produktif 25–34 tahun, dengan total 152.884 orang. Disusul oleh kelompok usia 45–54 tahun sebanyak 139.509 orang.
Pada kelompok usia 25–34 tahun, angkatan kerja laki-laki tercatat sebanyak 87.294 orang, sedangkan perempuan sebanyak 65.590 orang. Secara umum, jumlah angkatan kerja laki-laki memang lebih tinggi dibandingkan perempuan di hampir semua kelompok umur. Namun, sebuah fenomena menarik terjadi pada kelompok usia muda 15–24 tahun. “Ketika angkatan kerja perempuan mencapai 52.171 orang, lebih banyak dibandingkan laki-laki yang berjumlah 37.665 orang. Sementara itu, jumlah angkatan kerja perempuan kembali meningkat pada kelompok usia 45–54 tahun menjadi 59.791 orang. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi partisipasi perempuan dalam aktivitas ekonomi pada usia tersebut,” ujar Dwi Yuhenny, menyoroti peran strategis perempuan dalam dinamika ketenagakerjaan daerah.
Menurut BPS, persoalan ketenagakerjaan sejatinya tidak hanya berkutat pada jumlah angkatan kerja semata, tetapi juga melibatkan kompleksitas lain seperti kesesuaian antara ketersediaan tenaga kerja dengan kesempatan kerja, kualitas sumber daya manusia, persebaran tenaga kerja, dan tentu saja, tingkat pengangguran. Oleh karena itu, data ketenagakerjaan menjadi fondasi yang sangat penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Peningkatan partisipasi angkatan kerja harus diiringi dengan upaya nyata untuk memperluas kesempatan kerja serta meningkatkan kompetensi tenaga kerja, sehingga potensi sumber daya manusia dapat terserap secara optimal.
“Dengan tren TPAK yang terus meningkat, Kabupaten Mojokerto memiliki potensi pasokan tenaga kerja yang semakin besar. Tantangannya adalah memastikan angkatan kerja tersebut memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri sehingga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Dwi Yuhenny. Masa depan Kabupaten Mojokerto akan sangat ditentukan oleh bagaimana daerah ini mampu menyelaraskan peningkatan partisipasi angkatan kerja dengan investasi pada kualitas sumber daya manusia dan ketersediaan lapangan kerja yang relevan, mengubah potensi menjadi kemakmuran nyata bagi seluruh warganya.












