KlikMojok – Sebuah pagi yang seharusnya tenang di Desa Duduksampeyan, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik, mendadak berubah menegangkan. Bagi Gofur, warga RT 005/RW 003, ketenangan itu terusik oleh pemandangan tak lazim: seekor bayangan melata yang bersembunyi di sela-sela genteng rumahnya. Bukan kucing, bukan burung merpati, melainkan seekor ular piton berukuran sekitar dua meter, yang seketika menyulut kekhawatiran dan memicu panggilan darurat kepada petugas pemadam kebakaran (Damkar) Gresik.
Kehadiran reptil predator di lingkungan permukiman padat penduduk seperti ini bukan sekadar insiden kecil. Ular piton, dengan ukurannya yang mencapai dua meter, jelas menimbulkan ancaman serius, baik bagi penghuni rumah maupun hewan peliharaan di sekitarnya. Rasa cemas yang dirasakan Gofur adalah respons alami terhadap potensi bahaya yang mengintai di atas kepala. Untungnya, ia memahami pentingnya penanganan profesional dan segera menghubungi petugas Damkar Kabupaten Gresik, alih-alih mencoba menanganinya sendiri.
Tak butuh waktu lama, laporan Gofur ditanggapi sigap. Satu unit mobil operasional beserta personel Damkar Gresik segera meluncur menuju lokasi kejadian di Desa Duduksampeyan. Di bawah terik matahari Minggu, 25 Oktober 2026, tim penyelamat tiba di hadapan rumah Gofur, menghadapi tantangan yang tidak biasa: mengevakuasi makhluk melata yang bersembunyi di celah sempit atap. Dengan peralatan yang sesuai dan keahlian yang teruji, petugas mulai menjangkau sela-sela genteng, berhati-hati agar tidak melukai ular maupun merusak struktur rumah.
Rizal S. Nugroho, salah satu petugas Damkar Gresik, membenarkan bahwa penanganan cepat dilakukan setelah pihaknya menerima laporan mendesak dari warga. “Begitu menerima laporan, personel langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Ular piton yang berada di sela-sela genteng akhirnya berhasil diamankan,” ujar Rizal. Proses penyelamatan berjalan lancar tanpa kendala berarti, memastikan ular piton berhasil ditangkap dan diamankan tanpa menimbulkan korban jiwa atau luka-luka, dan tanpa kerugian material sedikit pun bagi pemilik rumah.
Setelah misi rampung, seluruh personel bersiap kembali ke pos kota untuk melanjutkan kesiapsiagaan menghadapi laporan kedaruratan berikutnya, dari kebakaran hingga penyelamatan hewan. Insiden ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat tentang keberadaan satwa liar di sekitar kita dan bagaimana seharusnya meresponsnya. Rizal S. Nugroho menegaskan imbauan penting kepada warga: “Kami menghimbau kepada warg yang menemukan ular di rumah, atap, plafon, atau lingkungan sekitar sebaiknya tidak mencoba menangkapnya sendiri.”
Ia menambahkan, tindakan terbaik adalah menjaga jarak aman dari reptil berbahaya tersebut dan segera menghubungi petugas damkar agar proses penanganan dapat dilakukan dengan peralatan serta prosedur yang sesuai. Penanganan oleh profesional menjamin proses evakuasi dilakukan dengan peralatan dan prosedur yang tepat, meminimalisir risiko bagi warga maupun hewan itu sendiri. Kejadian di Gresik ini adalah bukti nyata betapa pentingnya kesadaran masyarakat dan kesigapan petugas dalam menjaga keselamatan bersama di tengah interaksi yang tak terhindarkan antara manusia dan alam.
Maka, ketika bayangan melata kembali mengusik ketenangan, entah di atap rumah atau sudut pekarangan, ingatlah bahwa ada tangan-tangan terlatih yang siap sedia. Kisah evakuasi ular piton di Duduksampeyan ini bukan hanya tentang penangkapan seekor reptil, melainkan juga tentang kewaspadaan, kecepatan respons, dan edukasi yang tak henti-hentinya dari mereka yang berdedikasi menjaga keamanan lingkungan kita.












