KlikMojok – Di tengah hamparan hijau tanaman jagung berusia 45 hari yang membentang luas di Dusun Kandangan, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Sandi, seorang petani, tengah larut dalam rutinitas sorenya. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan bias keemasan di antara dedaunan jagung yang bergoyang. Air irigasi mengalir perlahan, membasahi akar-akar tanaman di lahannya, seiring peluh yang menetes di kening Sandi. Semilir angin sesekali menyapa, menawarkan sedikit kesejukan di tengah teriknya pekerjaan. Namun, ketenangan itu mendadak terusik oleh sebuah anomali: aroma busuk yang begitu menyengat, merobek kesunyian petang.
Sandi menghentikan pekerjaannya. Naluri membimbingnya mencari sumber bau tak sedap itu. Setiap langkahnya penuh kehati-hatian, menelusuri lorong-lorong di antara batang jagung yang menjulang. Hingga akhirnya, pandangannya terkunci pada sesosok tubuh laki-laki yang tergeletak telentang, tak bergerak, di kedalaman kebun. Kepala jasad itu menghadap ke barat, dengan kondisi yang telah membusuk parah, kulit menghitam, dan tulang dada yang terlihat jelas. Pemandangan mengerikan itu sontak membuat Sandi terperanjat, bergegas keluar dari ladang, mencari pertolongan.
Di luar kebun, ia bertemu seorang pencari rumput dan dengan suara gemetar menceritakan temuannya. Informasi tragis ini segera menyebar, mencapai Kepala Dusun Kandangan, dan tak lama kemudian diteruskan ke Polsek Peterongan. Tak berselang lama, tim kepolisian tiba di lokasi, menyusul dengan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Olah tempat kejadian perkara (TKP) pun segera dilakukan. Setelah pemeriksaan awal dan pengumpulan keterangan di lokasi, jasad tersebut dievakuasi menuju RSUD Jombang.
Kapolsek Peterongan AKP Hidayaturrachman menjelaskan detail temuan tersebut. Saat ditemukan, korban mengenakan sarung berwarna putih abu-abu bermotif garis hitam, serta baju lengan pendek berwarna coklat dengan motif bergaris. “Mayat dalam keadaan membusuk, warna kulit hitam, kelihatan tulang dada, dan berjenis kelamin laki-laki,” ujar AKP Hidayaturrachman, pada Selasa (13/10/2026), mengonfirmasi kondisi mengerikan jasad itu.
Namun, di balik kengerian penemuan ini, sebuah kemungkinan besar mulai terbuka. Penemuan jasad ini perlahan menguak misteri terkait laporan orang hilang yang telah diterima polisi sepekan sebelumnya. Pada Selasa, 6 Oktober 2026, Polsek Peterongan telah menerima laporan hilangnya seorang lansia bernama Ilyas, 71 tahun, warga Dusun Kalangan, Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan. Sejak laporan itu masuk, keberadaan Ilyas menjadi teka-teki yang membebani keluarga dan aparat.
Kini, sepekan kemudian, dengan ditemukannya sesosok jasad di kebun jagung, harapan untuk menemukan Ilyas dalam keadaan selamat seolah berhadapan dengan kenyataan yang menyakitkan. Ciri-ciri pakaian yang dikenakan korban, seperti yang dijelaskan polisi, sangat mengarah pada sosok yang selama ini dicari keluarganya. Munikah, istri Ilyas, didampingi anaknya, Aris Suwarno, segera mendatangi lokasi penemuan. Dengan hati yang hancur, Munikah meyakini bahwa mayat itu adalah suaminya, berdasarkan pakaian yang dikenakan korban. Ia juga membenarkan bahwa dirinya telah melaporkan kehilangan suaminya ke Polsek Peterongan pada tanggal 6 Oktober 2026.
Keyakinan serupa juga ditegaskan oleh Aris Suwarno, anak kandung Ilyas dan Munikah. Ia mengenali sosok tersebut dari baju dan sarung yang dikenakan, serta ciri fisik ayahnya berupa jenggot dan struktur gigi. Bagi keluarga, detail-detail kecil itu menjadi petunjuk terakhir yang meyakinkan, mengakhiri penantian panjang yang penuh kecemasan. Mereka kemudian menyatakan bahwa jasad tersebut memang adalah Ilyas, orang yang mereka cintai dan rindukan.
Dalam sebuah peristiwa yang memilukan ini, pihak kepolisian menyampaikan bahwa keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Sebuah keputusan yang menunjukkan kebesaran hati di tengah duka mendalam, mereka tidak menghendaki dilakukannya autopsi. “Atas kejadian tersebut, keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan meminta untuk tidak dilakukan autopsi. Mereka membuat surat permohonan dan surat pernyataan,” jelas AKP Hidayaturrachman, mengakhiri proses identifikasi dan menyerahkan jenazah kepada keluarga untuk dimakamkan.
Demikianlah, aroma busuk yang tercium di antara tanaman jagung sore itu, yang semula hanya dianggap gangguan, pada akhirnya mengungkap sebuah kisah tragis. Ia menjadi penanda akhir dari penantian panjang sebuah keluarga, membawa kabar duka yang tak terhindarkan bagi keluarga Ilyas. Di balik hamparan hijau yang semula menjadi saksi bisu kerja keras seorang petani, kini tersimpan jejak akhir perjalanan seorang lansia, sebuah pengingat akan kerapuhan hidup dan arti penting sebuah kebersamaan yang terenggut oleh takdir.












