Ibnu Humair adalah seorang pemuda yang hidupnya sederhana, tapi penuh disiplin. Siang hari ia berpuasa, malamnya ia bangun untuk tahajud. Ia dikenal sebagai orang yang wara’—sangat berhati-hati dalam hidup dan menjauhi hal yang meragukan. Selain ibadah, satu hobinya adalah berburu dan menjelajah alam.
Suatu hari, saat sedang berburu sendirian, seekor ular tiba-tiba datang dengan gerak panik. Napasnya terengah, tubuhnya meliuk tak beraturan, jelas sedang dikejar sesuatu.

Dengan suara gemetar, ular itu berkata,
“Wahai Muhammad bin Humair, tolong aku. Jika kau menyelamatkanku, Allah akan menyelamatkanmu.”
Ibnu Humair terkejut.
“Diselamatkan dari siapa?”
“Dari musuh yang menzalimiku.”
“Di mana dia sekarang?”
“Di belakangku.”
Ibnu Humair menelan ludah.
“Kamu dari golongan siapa?”
“Aku dari umat Nabi Muhammad ﷺ.”
Mendengar itu, hati Ibnu Humair melunak. Ia membuka rida’ (selendang) dan berkata,
“Masuklah ke sini.”
Namun ular menggeleng.
“Aku mudah terlihat. Musuhku pasti menemukanku.”
Ibnu Humair menarik napas panjang.
“Lalu apa yang bisa kulakukan?”
Ular mendekat dan berkata pelan,
“Bukalah mulutmu. Biarkan aku masuk ke dalam perutmu.”
Ibnu Humair langsung ragu.
“Aku takut kamu akan mencelakaiku.”
Ular bersumpah panjang lebar, menyebut nama Allah, para malaikat, para nabi, dan seluruh penghuni langit.
“Demi semuanya, aku tidak akan menyakitimu.”
Akhirnya, dengan perasaan waswas, Ibnu Humair membuka mulutnya. Dalam sekejap, ular itu masuk dan bersembunyi di dalam tubuhnya.
Tak lama kemudian, datang seorang pemuda bersenjata pedang, wajahnya penuh amarah.
“Wahai Muhammad! Apakah kau melihat musuhku?”
“Siapa musuhmu?”
“Seekor ular!”
Ibnu Humair terdiam sesaat, lalu berkata,
“Aku tidak tahu.”
Pemuda itu pergi dengan kecewa. Begitu ia menghilang, Ibnu Humair langsung beristigfar—menyesali kebohongan yang terpaksa ia lakukan demi menepati janji.
Beberapa langkah kemudian, kepala ular keluar dari mulutnya.
“Apakah dia sudah pergi?”
“Sudah. Kalau mau keluar, silakan.”
Namun suara ular berubah dingin.
“Sekarang pilih: aku robek limpamu, atau aku lubangi jantungmu. Kau akan mati.”
Ibnu Humair gemetar.
“Subhanallah… bukankah kau sudah bersumpah?”
Ular tertawa sinis.
“Apakah kau lupa permusuhanku dengan ayahmu, Adam? Akulah yang mengeluarkannya dari surga. Mengapa kau berbuat baik kepada yang tidak pantas?”
Ibnu Humair sadar: kebaikannya telah dikhianati.
Ia meminta satu permintaan terakhir,
“Beri aku waktu sampai ke kaki gunung itu. Aku ingin menyiapkan kuburanku.”
“Terserah,” jawab ular dingin.
Dengan langkah gontai, Ibnu Humair berjalan sambil menengadah ke langit, melantunkan doa penuh kepasrahan kepada Allah Yang Maha Lembut.
“Yaa Lathiif, Ya Lathiif, ulthuf bii, biluthfikal khafiyyi. Yaa Laathiif, bilqudlratil latii istawaita bihaa a’la ‘arsy, fa lam ya’lamil ‘arsyu aina mustaqarruka minhu illaa maa kafaitanii hadzihil hayata”
Artinya: “Wahai Zat yang Maha Pelindung! Wahai Zat yang Maha Pelindung! lindungilah aku dengan lindungan-Mu yang tersembunyi. Wahai Zat yang Maha Pelindung, selamatkan aku dari ular ini dengan kekuasaan Engkau yang menguasai Arasy. Sedangkan Arasy tiadalah yang mengetahui di mana Engkau telah menetapkannya”.
Tak lama kemudian, seorang pemuda berwajah bersih dan bercahaya menghadangnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” jawab Ibnu Humair lemah.
“Wajahmu pucat. Ada apa?”
“Aku dizalimi oleh musuhku.”
“Di mana dia?”
Ibnu Humair berkata lirih,
“Di dalam perutku.”
Pemuda itu berkata tegas,
“Buka mulutmu.”
Ia memasukkan sehelai daun hijau seperti daun zaitun.
“Kunyah dan telan.”
Begitu ditelan, perut Ibnu Humair terasa bergejolak. Tak lama, ular itu terlempar keluar—hancur berkeping-keping.
Ibnu Humair menangis lega.
“Siapakah engkau? Allah menolongku lewat dirimu.”
Pemuda itu tersenyum.
“Aku adalah Malaikat Ma’ruf. Ketika kau berdoa, langit berguncang. Allah memerintahkanku menolongmu.”
Ia berpesan,
“Teruslah berbuat ma’ruf. Kebaikan mungkin dikhianati manusia, tapi tidak pernah disia-siakan Allah.”













