KlikMojok – Di tengah hiruk-pikuk ribuan santri dan ulama yang memadati Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, sebuah inovasi modern bekerja senyap namun efektif. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sebuah hajatan besar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, kini tak hanya disokong oleh tradisi dan semangat kebersamaan, melainkan juga oleh denyut teknologi digital yang canggih.
Jantung dari inovasi ini adalah sebuah ‘command center’ yang berfungsi sebagai mata dan telinga panitia. Dari ruangan yang terkoneksi secara digital itu, setiap sudut kegiatan muktamar, mulai dari arena persidangan yang penuh diskusi, hingga titik-titik pendukung seperti akomodasi, konsumsi, dan bahkan ruas jalan di sekitar lokasi, terpantau tanpa henti.

Ketua Panitia Pusat Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menjelaskan skala pengawasan ini bukan main-main. Lebih dari 100 kamera pengawas telah terpasang strategis di sejumlah lokasi penting, membentuk jaringan yang terintegrasi dalam satu sistem pemantauan yang dikendalikan melalui command center. Tujuannya jelas: memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, aman, dan tertib. Pengawasan tidak hanya dilakukan di lokasi persidangan, tetapi juga mencakup area akomodasi peserta, tempat konsumsi, hingga sejumlah ruas jalan di sekitar lokasi Muktamar.
“Santri tapi paham teknologi, sehingga dari tempat ini kita bisa mengetahui semua yang terjadi di arena Muktamar,” ujar Gus Ipul saat mengecek ruang command centre didampingi Sekretaris SC (Steering Comite) Prof Muhammad Nuh, Selasa (25/8/2026).
Namun, peran teknologi ini tidak berhenti pada pengawasan pasif. Sistem digital yang diterapkan panitia juga dilengkapi dengan mekanisme pelaporan dan tindak lanjut. Setiap masalah atau kendala yang terdeteksi di lapangan dapat segera dicatat, kemudian secara otomatis diarahkan kepada petugas yang berwenang untuk penanganan cepat. Ini menciptakan sebuah ekosistem responsif yang meminimalisir potensi kekacauan dalam sebuah acara berskala nasional.
Aspek krusial lain yang disentuh oleh sentuhan digital adalah proses kepesertaan. Gus Ipul mengungkapkan bahwa data peserta telah disiapkan dan diverifikasi jauh sebelum mereka tiba di lokasi kegiatan. Sistem ini menjadi benteng untuk memastikan identitas setiap peserta yang telah ditetapkan secara resmi, sekaligus menjaga integritas dan ketertiban proses pendaftaran. “Jadi tidak ada yang bisa main-main. Setiap pendaftaran kelihatan, sudah terekam semua,” tegasnya, menyoroti efektivitas sistem dalam mencegah praktik-praktik yang tidak diinginkan.
Gus Ipul menilai, adopsi teknologi dalam Muktamar ke-35 NU ini merupakan sebuah inovasi segar yang layak mendapat apresiasi tinggi. Kehadiran command center, menurutnya, bukan hanya simbol kemajuan, melainkan solusi konkret untuk mempercepat pelayanan dan memudahkan panitia dalam mengurai serta menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan yang mungkin timbul. “Ini hal yang baru yang patut kita syukuri. Mudah-mudahan dengan adanya command center seperti ini, memudahkan layanan, cepat mengatasi masalah, dan sekaligus segera bisa mencarikan jalan keluar,” pungkasnya, menggambarkan optimisme akan dampak positif teknologi.
Meski demikian, kecanggihan teknologi tak lantas menepikan peran manusia. Panitia juga terus menggenjot kesiapan sumber daya manusia yang bertugas melayani ribuan peserta. Para petugas telah digembleng melalui bimbingan teknis dan simulasi pelayanan, memastikan bahwa sentuhan personal dan keramahan khas pesantren tetap menjadi bagian integral dari pengalaman Muktamar, melengkapi efisiensi yang ditawarkan oleh teknologi.
Muktamar ke-35 NU di Jombang ini bukan sekadar perhelatan akbar organisasi keagamaan. Ia menjadi cerminan bahwa tradisi yang kokoh dapat beriringan dengan modernitas, bahwa santri yang identik dengan nilai-nilai luhur pesantren juga mampu merangkul dan mengoptimalkan teknologi digital untuk kemaslahatan umat. Sebuah pelajaran berharga tentang adaptasi dan inovasi di tengah arus zaman yang terus bergerak, membuktikan bahwa pendidikan dan pengembangan tak mengenal batas, bahkan dalam sebuah pertemuan yang sarat sejarah dan spiritualitas.













