Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Siswa SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo Kenalkan Kue Tradisional: Upaya Lestari Warisan Kuliner Bangsa

badge-check

Siswa SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo Kenalkan Kue Tradisional: Upaya Lestari Warisan Kuliner Bangsa Perbesar

KlikMojok – Pada Jumat pagi, 14 Agustus 2026, suasana di tiga ruang kelas 1 SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Sdamada) tampak istimewa. Meja-meja panjang di depan kelas ditutupi kain batik, di atasnya tersaji enam piring besar beralas daun pisang yang penuh dengan beragam jenis kue tradisional. Aroma santan, gula merah, dan pandan semerbak memenuhi ruangan, mengundang rasa penasaran 68 siswa kelas 1 yang sebagian besar belum pernah mencicipi apalagi mengenal nama-nama jajanan tersebut.

Momen tersebut bukanlah sebuah bazar makanan, melainkan bagian dari kegiatan kokurikuler yang dirancang oleh guru sebagai ruang belajar rasa dan pengenalan budaya. Sajian aneka kue tradisional yang disiapkan para guru SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo ini berhasil menarik perhatian seluruh 68 siswa kelas 1.

Berbagai jenis kue tradisional seperti horog-horog, kue lumpur, onde-onde, kue talam, pisang goreng, gempo, dan lepet tersedia untuk dicicipi. Para siswa, yang merupakan generasi akrab dengan gadget dan kudapan kekinian, menunjukkan antusiasme tinggi untuk merasakan jajanan di Sdamada, nama populer sekolah tersebut. Kegiatan kokurikuler ini bertujuan untuk mengenalkan mereka pada kue tradisional masa lalu melalui pengalaman langsung, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Sri Sulistiyoningsih, Wali Kelas 1 Ibnu Sina, mengungkapkan keprihatinannya. “Anak-anak sekarang lebih kenal burger daripada kue talam. Padahal kue kita bahannya alami, tanpa pengawet, dan ceritanya panjang. Sayang kalau punah,” tuturnya.

Sebelum mulai mencicipi, setiap siswa diwajibkan untuk menyebutkan nama kue secara bersama-sama. Aturan sederhana ini berhasil menghidupkan suasana kelas, membuat anak-anak yang tadinya malu-malu menjadi lebih berani mencoba. Horog-horog menjadi salah satu kejutan utama dalam kegiatan ini. Saat guru memperkenalkan namanya yang terdengar unik, siswa kelas 1 Ar-Razi serentak menyebutkannya dengan tawa riang. Kue tradisional berbahan tepung beras dengan rasa manis gurih dan parutan kelapa yang menambah tekstur serta cita rasa ini, tak butuh waktu lama untuk menjadi sajian yang paling cepat habis.

Onde-onde juga berhasil menarik perhatian para siswa. Ketika mereka menggigit kulitnya, sensasi renyah terasa di lidah sebelum menemukan isian kacang hijau yang manis. Muhammad Bilal dengan antusias mengacungkan jempolnya sambil berkata, “Enak, Bu. Manis!”

Muhammad Riffat memilih kue talam dua warna sebagai favoritnya. “Aku suka, Bu. Bawahnya gurih, atasnya manis,” ungkapnya. Sementara itu, Azka langsung teringat akan sosok ibunya. “Mamaku juga bisa buat kue itu, Bu,” tuturnya.

Kue lumpur juga memancing rasa ingin tahu, dengan beberapa siswa penasaran akan asal-usul namanya. Pisang goreng hangat dan lepet, yang khas dengan rasa gurih serta bungkus janur, juga tak luput dari perhatian. Pertanyaan-pertanyaan dari siswa terus mengalir, seperti, “Bu, bahannya apa?” dan “Kenapa warnanya hijau?”

Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut, para guru kemudian mengembangkan pembelajaran yang lebih luas, membahas tentang bahan-bahan, rasa, bentuk, hingga keberadaan dan sejarah setiap makanan tradisional.

Kegiatan edukasi ini berlangsung sekitar satu jam di setiap kelas. Para guru dengan cerdik mengemas semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui pembelajaran budaya yang interaktif.

Khikma Kurnia, salah satu guru pendamping inklusi, berpendapat bahwa pengenalan budaya kepada anak-anak tidak selalu harus melalui metode hafalan. “Kita harus mencintai budaya. Salah satunya melalui makanan tradisional,” ujarnya.

Senada dengan itu, Lailatul Anjumil, guru pendamping inklusi Kelas 1 Ar Razi, menyampaikan bahwa pengenalan kue tradisional sejak usia dini sangat penting untuk menjaga keberadaan makanan tersebut. “Kalau anak sudah sayang dari kecil, 20 tahun lagi kue ini tidak akan hilang,” tegas Lailatul.

Di tengah gempuran jajanan modern dengan tampilan dan warna yang mencolok, kue tradisional justru mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari para siswa.

Liza Anieq, pendamping kelas 1 Al Farabi, bahkan menuturkan bahwa beberapa jenis kue habis dalam waktu yang sangat singkat. “Piring kosong dalam 10 menit,” ujarnya seraya tertawa.

Setelah sesi mencicipi selesai, para siswa kembali duduk dengan rapi. Guru kemudian membagikan Lembar Kerja (LK) yang meminta siswa untuk menebali dan mengeja nama-nama kue tradisional yang telah mereka coba, seperti onde-onde, kue talam, lepet, kue lumpur, dan horog-horog.

Kegiatan ini membuktikan bahwa siswa belajar lebih dari sekadar mencicipi makanan. Mereka juga secara tidak langsung melatih kemampuan literasi, motorik halus, disiplin dalam mengikuti aturan, serta keberanian untuk menyampaikan pendapat.

Melalui kegiatan kokurikuler yang interaktif ini, siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo berhasil mengenal beragam makanan tradisional, termasuk horog-horog, onde-onde, lepet, kue lumpur, kue talam, gempo, pisang goreng, dan lapis.

Namun, pembelajaran yang didapatkan tidak hanya terbatas pada nama dan rasa. Anak-anak juga belajar nilai-nilai penting seperti kesabaran saat mengantre, makan dengan tertib, serta menumbuhkan rasa penghargaan terhadap makanan yang merupakan warisan leluhur bangsa.

Antusiasme siswa menjadi bukti keberhasilan kegiatan ini. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa cerita tentang nama, rasa, dan pengalaman unik mencicipi kue tradisional. Kegiatan yang sederhana namun bermakna ini menunjukkan bahwa pengenalan budaya dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Artikel ini ditulis oleh Jurnalis Ifa Rahmawati dan disunting oleh Yekti Pitoyo.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

NIB Saja Tak Cukup: Mengurai Lapisan Perizinan Minuman Beralkohol di Madiun

23 Sep 2026 - 09:44 WIB

NIB Saja Tak Cukup: Mengurai Lapisan Perizinan Minuman Beralkohol di Madiun

Merajut Asa 30 Tahun Tanpa Macet: Visi Jangka Panjang di Balik Flyover Gedangan Sidoarjo

23 Sep 2026 - 09:43 WIB

Merajut Asa 30 Tahun Tanpa Macet: Visi Jangka Panjang di Balik Flyover Gedangan Sidoarjo

GSSMu Ngaglik Rayakan Milad Ke-3 dengan Aksi Nyata Pelestarian Pesisir Kulon Progo

23 Sep 2026 - 09:42 WIB

GSSMu Ngaglik Rayakan Milad Ke-3 dengan Aksi Nyata Pelestarian Pesisir Kulon Progo

Membangun Fondasi Pemimpin Berkarakter: Pelajaran Berharga dari LDKS SMP Muhammadiyah 15 Menganti

23 Sep 2026 - 06:15 WIB

Membangun Fondasi Pemimpin Berkarakter: Pelajaran Berharga dari LDKS SMP Muhammadiyah 15 Menganti

Mempererat Ukhuwah: Gerakan Subuh Jamaah Muhammadiyah Sukoharjo Hadirkan Dakwah Komunitas Berkeliling Masjid

23 Sep 2026 - 06:10 WIB

Mempererat Ukhuwah: Gerakan Subuh Jamaah Muhammadiyah Sukoharjo Hadirkan Dakwah Komunitas Berkeliling Masjid
Trending di Pendidikan