Menu

Mode Gelap
Maulid Nabi TKIT Salam Viral: Bukan Sekadar Shalawat, tapi Aksi Nyata Berbagi yang Menyentuh Hati! Ketika Cak Imin Soroti ‘Kemunduran NU Akibat HMI’, Anak-anak Tokoh NU Ini Malah Mantap Ber-HMI! Memukau di Gebyar UMKM Sidoarjo 2026: Talenta Alvaro, Shinta, Elvira Dorong Cinta Produk Lokal Panggung Merdeka Blitar: Wadah Talenta Lokal Berpadu Dangdut Rock Bergengsi Api Melalap Serbuk Kayu di Gresik: Pelajaran Berharga dari Insiden Gudang PT Kaliandra Ancaman Tak Terlihat di Langit Sidoarjo: Ketika Senar Layangan Mengoyak Wajah Pengendara

Review

Ketika Cak Imin Soroti ‘Kemunduran NU Akibat HMI’, Anak-anak Tokoh NU Ini Malah Mantap Ber-HMI!

badge-check


					Ketika Cak Imin Soroti ‘Kemunduran NU Akibat HMI’, Anak-anak Tokoh NU Ini Malah Mantap Ber-HMI! Perbesar

KlikMojok – Sebuah ironi menarik kini menjadi sorotan, terutama di tengah perdebatan hangat mengenai identitas ke-NU-an dan ke-HMI-an. Dr. Ali Ahmudi, seorang kontributor yang juga merupakan warga NU sekaligus anggota KAHMI, mengaku tersenyum kecut belakangan ini. Pasalnya, di saat seorang tokoh politik yang sangat dekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU), Cak Imin, “berulang kali menyampaikan narasi bahwa salah satu sebab kemunduran NU adalah karena kepemimpinannya banyak diisi alumni HMI,” Dr. Ali Ahmudi justru teringat pada pilihan unik anak-anaknya.

Meski sejak kecil anak-anaknya telah dididik dalam kultur NU, tumbuh dengan tradisi, nilai, dan amaliah ke-NU-an yang kental dalam kehidupan sehari-hari, mereka justru menemukan ruang aktualisasi diri di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat memasuki dunia kemahasiswaan. Kak Azkiya, yang kini berstatus mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Jakarta, memilih untuk aktif di HMI melalui Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI). Tak hanya itu, Bang Afkar, yang menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, juga mulai merapat ke HMI dan menunjukkan ketertarikan besar untuk mengembangkan Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI). Dr. Ali Ahmudi tentu berharap adik-adiknya kelak juga menemukan jalan pengabdian mereka sendiri.

Fenomena ini sontak memunculkan pertanyaan kritis: apakah pilihan anak-anaknya untuk ber-HMI berarti mereka meninggalkan NU? Dr. Ali Ahmudi dengan tegas menyatakan tidak. Justru di sinilah ia melihat bahwa identitas keislaman, tradisi organisasi, dan ruang pengabdian tidak selalu harus dipertentangkan. Menurutnya, seseorang bisa tumbuh dalam kultur NU, aktif di HMI, dan tetap mencintai serta memperjuangkan kemajuan NU tanpa harus merasa terpecah belah.

Pengalaman pribadinya pun menjadi bukti nyata. Sejak masa mahasiswa, ia telah aktif di HMI dan menyelesaikan seluruh jenjang kaderisasi di dalamnya. Hingga kini, ia pun masih aktif berada dalam lingkungan Korps Alumni HMI (KAHMI). Kisah keluarga Dr. Ali Ahmudi ini menjadi sebuah ‘review’ menarik atas narasi yang kerap memecah belah, menunjukkan bahwa harmoni identitas antara NU dan HMI adalah sebuah realitas yang mungkin dan patut diperjuangkan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Maulid Nabi TKIT Salam Viral: Bukan Sekadar Shalawat, tapi Aksi Nyata Berbagi yang Menyentuh Hati!

31 Agustus 2026 - 06:30 WIB

Panggung Merdeka Blitar: Wadah Talenta Lokal Berpadu Dangdut Rock Bergengsi

31 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Madiun Menari: Transformasi Kota Pendekar Jadi Magnet Budaya, Pukau Wakil Wali Kota Pekalongan

30 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Unesa Medic Run 2026: Mengukuhkan Lari sebagai Gaya Hidup Sehat Masyarakat Jawa Timur

30 Agustus 2026 - 21:54 WIB

Bukan Sekadar Pengguna! Bobby Nasution Tantang Mahasiswa Sumut Jadi Garda Depan Lawan Cyber Crime

30 Agustus 2026 - 12:36 WIB

Trending di Review