Menu

Mode Gelap
Memupuk Kebersihan, Menjaga Silaturahmi: Jejak Demokrat Kota Probolinggo di Musholla Warga Antara Ikatan Historis dan Marwah Organisasi: Nasihat Kiai Asep untuk Rais Aam PBNU di Muktamar Nahdlatul Ulama Gebyar UMKM Sidoarjo dan Karnaval Gear Ultima Siap Digelar: Dorong Daya Saing dan Promosi Produk Lokal Menyingkap Dua Sisi Gaya Belanja Digital: Eksploratif Naykilla vs Praktisnya Tenxi Benteng Desa Melawan Perdagangan Manusia: Imigrasi Blitar Perluas Jaringan Pencegahan TPPO Menyentuh Hati Warga: Pasuruan Raih Penghargaan Pelayanan Publik, Kado Istimewa di Tahun 2026

Berita Terkini

Ekonom UPN: Pemerintah, Awas! Likuiditas Bank Bisa Jadi Bom Waktu

badge-check


					Ekonom UPN: Pemerintah, Awas! Likuiditas Bank Bisa Jadi Bom Waktu Perbesar

Gaes, ada kabar gede nih dari Kementerian Keuangan! Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru aja ngasih ‘jatah’ dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun ke lima bank Himbara. Bayangin, Rp 200 triliun yang tadinya ‘ngendon’ di Bank Indonesia, sekarang dipindah biar perputaran uang makin lancar. Kebijakan ‘gaspol’ ini tertulis jelas di Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 276 tahun 2025, dengan harapan utama: nambah likuiditas biar sektor riil makin ngebut pertumbuhannya.

Nah, kebijakan ini langsung disorot tajam sama Ekonom Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, Achmad Nur Hidayat. Menurut Bang Achmad, ini kayak inovasi baru yang nyambungin antara kelebihan likuiditas (alias dana nganggur) dengan kebutuhan nyata di sektor riil. Keren, kan? Tapi eits, ada ‘warning’ juga dari Achmad. Katanya, ada beberapa risiko yang wajib banget kita waspadai dari kebijakan transfer dana jumbo ini.

Risiko pertama, jangan sampai pemerintah jadi ‘keterusan’ bergantung pada kebijakan fiskal yang terlalu ekspansif tanpa mikirin sumber dana yang sehat. Bayangin aja, kalau likuiditas dan dana pemerintah ini dipakai ngebut tanpa merhatiin kondisi defisit anggaran, tumpukan utang, atau potensi inflasi yang bisa melonjak, wah, kata Achmad, ini bisa bikin ‘goyang’ stabilitas makro ekonomi kita. Pesan ini disampaikan Achmad pada Ahad, 14 September 2025.

Lanjut ke risiko kedua, ini soal efek domino likuiditas ke inflasi dan nilai tukar Rupiah. Achmad sih bilang, kalau aliran kredit ke sektor riil makin deras, pertumbuhan ekonomi emang bisa ngebut. Tapi ingat, kalau kapasitas produksi di lapangan gak ikutan naik secepat itu, yang ada malah harga-harga bisa auto naik alias memicu tekanan inflasi. Gawat kan?

Dan ada lagi nih risiko lain yang gak kalah seremnya. Gimana kalau ternyata permintaan kredit di masyarakat gak ikutan naik karena daya beli belum ‘kuat’? Bisa-bisa, suplai likuiditas yang melimpah di perbankan itu jadi sia-sia belaka. Lebih parah lagi, Achmad khawatir dana segede itu malah jadi ‘mainan’ baru para eksekutif perbankan buat memperkaya diri sendiri. Duh, jangan sampe deh!

Oke, terus siapa aja sih bank yang kecipratan dana pemerintah ini? Ada lima bank umum mitra yang jadi pilihan, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Pembagiannya disesuaikan sama ‘ukuran’ banknya. BRI, BNI, dan Bank Mandiri masing-masing dapat jatah paling gede: Rp 55 triliun. Sementara itu, BTN ‘megang’ Rp 25 triliun, dan BSI kebagian Rp 10 triliun. Totalnya pas banget Rp 200 triliun!

Dana jumbo ini disimpan dalam bentuk deposito on call, bisa konvensional atau syariah, dan yang menarik, tanpa lelang. Jadi, Menkeu Purbaya udah sempat jelasin, dengan skema ini, pemerintah punya fleksibilitas buat narik kembali uangnya kapan aja kalau dibutuhkan. Mantap kan, jadi bisa gerak cepat!

Purbaya sendiri optimistis banget kalau bank-bank penerima dana ini bakal ‘ngegas’ menyalurkan kredit ke masyarakat. Kata beliau, ‘Kalau banknya gak pakai dananya, ya dia rugi sendiri. Kan ada cost sekitar 4 persen. Kalau gak disalurin jadi kredit, mereka tetap harus bayar cost itu.’ Jadi, mau gak mau, bank-bank itu pasti bakal putar otak biar dana ini produktif. Keterangan ini disampaikan Purbaya di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian pada Jumat, 12 September 2025.

Pilihan Editor: Mengapa Burden Sharing Membuat Investor Takut

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Bangunsari Madiun Tolak TPST, Sosialisasi DLH Berujung Mediasi Tanpa Keputusan Final

24 Agustus 2026 - 10:54 WIB

7 Hektare Lahan Jati di Gunung Bungkuk Magetan Hangus Terbakar, BPBD Ingatkan Warga Waspada

24 Agustus 2026 - 06:13 WIB

Kecelakaan Maut Bojonegoro: Nenek 85 Tahun Tewas Terlindas Truk Saat Motor Salip dari Kiri

23 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Jombang Siapkan 99 Masjid Ramah Muktamirin, Fasilitasi Ribuan Peserta Muktamar NU

23 Agustus 2026 - 16:57 WIB

Sekdes di Probolinggo Digerebek di Hotel Bersama Istri Warga, Pemkab Tunggu Laporan Resmi

23 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trending di Berita Terkini