KlikMojok – Langit Tulungagung baru saja memuntahkan airnya dengan deras, menyisakan genangan yang tak hanya membasahi jalanan, namun juga merangsek masuk ke ruang-ruang kelas. Pagi itu, Rabu, 2 November 2026, pemandangan tak asing kembali menyapa SDN 1 Besole: halaman dan bangunan sekolah terendam banjir, memaksa puluhan siswa beralih dari bangku sekolah ke layar gawai mereka untuk belajar daring.
Bukan kali pertama. Bagi warga sekitar, terutama civitas akademika SDN 1 Besole, pemandangan air yang merendam fasilitas pendidikan ini seolah menjadi ritual musiman yang tak terhindarkan. Setiap kali musim penghujan tiba, sekolah yang terletak di Kabupaten Tulungagung ini menjadi ‘langganan banjir’, sebuah predikat yang membawa implikasi serius terhadap keberlangsungan proses belajar-mengajar bagi para siswa.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Tulungagung segera mengambil langkah. Dwi Teguh Prasetyo, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Tulungagung, mengonfirmasi laporan yang masuk mengenai situasi di SDN 1 Besole. Ia menjelaskan bahwa genangan air yang merendam sekolah itu merupakan dampak langsung dari curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.
“Kami baru mendapat laporan SDN 1 Besole banjir pagi tadi. Banjir terjadi setelah diguyur hujan deras,” ujarnya, menjelaskan kronologi kejadian.
Dengan sekitar 90 anak yang terdaftar sebagai siswa di SDN 1 Besole, keputusan untuk menghentikan pembelajaran tatap muka dan beralih ke sistem daring menjadi langkah krusial. Ini demi memastikan keselamatan para siswa sekaligus keberlanjutan pendidikan mereka di tengah tantangan alam yang tak terduga.
“Hari ini siswa kami minta belajar daring dari rumah, karena sekolah masih tergenang air,” terang Dwi Teguh, menegaskan arahan tersebut.
Pembelajaran jarak jauh ini akan berlangsung hingga kondisi sekolah dinyatakan aman dan genangan air telah surut sepenuhnya. Harapannya, begitu situasi kembali normal, kegiatan belajar-mengajar tatap muka dapat segera dilanjutkan tanpa hambatan yang berarti.
“Pembelajaran daring dilakukan sembari melihat kondisi. Apabila banjir sudah surut, maka pembelajaran kembali tatap muka,” jelasnya.
Fenomena banjir yang berulang di SDN 1 Besole ini bukan sekadar insiden sesaat, melainkan cerminan dari tantangan struktural yang dihadapi banyak daerah di Indonesia. Ketika ruang kelas berubah menjadi danau kecil, dan buku-buku digantikan oleh layar digital, semangat belajar anak-anak di Tulungagung ini diuji. Kisah SDN 1 Besole adalah pengingat bahwa pendidikan tak hanya membutuhkan kurikulum yang baik, tetapi juga lingkungan yang aman dan layak, bebas dari ancaman genangan air yang setiap musim hujan datang, seolah tak pernah bosan menyapa.












