KlikMojok – Minggu siang itu, harusnya menjadi hari yang penuh tawa dan kebebasan bagi MAF, bocah 10 tahun dari Desa Sumberagung, Rejotangan, Tulungagung. Bersama lima sahabatnya, ia mengayuh sepeda pancal menuju Dam Tanen, sebuah destinasi petualangan yang tak asing bagi mereka. Namun, keceriaan itu mendadak sirna, berganti kepanikan yang mencekam saat pusaran air yang deras merenggut nyawanya dalam insiden anak tenggelam yang tragis, meninggalkan duka mendalam dan menjadi pengingat pahit tentang bahaya tersembunyi di sekitar perairan.
Kapolsek Rejotangan AKP Kasianto menjelaskan, tragedi itu bermula sekitar pukul 09.30 WIB pada Minggu, 1 November 2026. “Peristiwa tersebut bermula sekitar pukul 09.30 WIB, saat korban bersama lima orang temannya bermain ke Sungai Dam Tanen dengan menggunakan sepeda pancal. Lokasi tersebut berjarak sekitar empat kilometer dari rumah korban,” ujarnya. Jarak empat kilometer itu mungkin terasa lumrah bagi bocah-bocah yang haus petualangan, namun tanpa disadari, mereka tengah mendekati bahaya yang tak terlihat.
Saat bermain di Dam Tanen, yang arusnya telah mengganas pasca-hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Rejotangan sehari sebelumnya, MAF tiba-tiba terseret pusaran air. Ia tak mampu melawan. Tubuh mungilnya, yang tak terlatih berenang, tenggelam ke dasar dam. Salah satu temannya yang menyaksikan kengerian itu, berteriak meminta pertolongan. Upaya panik untuk membantu pun dilakukan oleh teman-teman sepermainannya, namun derasnya arus dan kedalaman sungai yang tak terduga membuat usaha mereka sia-sia.
Teriakan minta tolong itu akhirnya memecah keheningan, menarik perhatian warga sekitar. Mereka bergegas datang dan dengan sigap berusaha menyelam ke dalam dam untuk mencari MAF. Namun, takdir berkata lain. “Saksi lalu berteriak minta tolong ke warga sekitar, warga lalu berusaha memberikan pertolongan dan menyelam ke dalam Dam. Korban ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia,” tutur AKP Kasianto, menggambarkan momen pilu penemuan jasad MAF.
Dam Tanen, dengan lebar sekitar 15 meter dan kedalaman mencapai kurang lebih 1,8 meter, ternyata menyimpan ancaman serius. Bagian alirannya dikenal cukup dalam, dan tak hanya sekali lokasi ini menjadi saksi bisu peristiwa orang tenggelam. Dari keterangan para saksi, diketahui bahwa MAF memang sering menghabiskan waktu luangnya bermain di aliran sungai tersebut, terutama saat hari libur sekolah. Kebiasaan ini, yang mungkin dianggap biasa oleh banyak anak di pedesaan, menjadi ironi pahit ketika bertemu dengan kondisi alam yang mematikan. Peningkatan debit air sungai akibat hujan deras adalah faktor krusial yang mengubah Dam Tanen dari tempat bermain menjadi kuburan air. Ini adalah pelajaran penting tentang bagaimana kondisi alam bisa berubah drastis dan tak terduga, menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak.
Keluarga MAF telah menerima kepergian putra mereka sebagai sebuah musibah. Mereka menyatakan tidak menghendaki dilakukannya autopsi, sebuah keputusan yang mencerminkan keinginan untuk segera mengakhiri kesedihan dan merelakan kepergian sang anak. Namun, tragedi ini tidak boleh berhenti hanya sebagai kisah duka. Kapolsek Rejotangan AKP Kasianto, melalui peristiwa ini, kembali menyerukan imbauan penting kepada masyarakat, khususnya para orang tua. “Kami mengimbau kepada para orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas anak-anak, terutama saat bermain di sekitar sungai. Jangan sampai anak-anak bermain atau berenang di lokasi yang memiliki arus deras, pusaran air, maupun kedalaman yang tidak diketahui. Terlebih setelah hujan deras, debit dan kondisi aliran sungai bisa berubah sewaktu-waktu,” pungkasnya.
Imbauan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah panggilan mendesak untuk merenungkan kembali tanggung jawab kolektif kita dalam menjaga keselamatan generasi penerus. Di tengah gemuruh kehidupan modern, di mana anak-anak semakin akrab dengan gawai, masih banyak dari mereka yang mencari petualangan di alam bebas, di dekat sungai, dan di bendungan. Tragedi di Dam Tanen ini adalah cermin yang memantulkan kerentanan anak-anak dan pentingnya pengawasan yang tak kenal lelah. Semoga kisah pilu MAF menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa keceriaan anak-anak harus selalu berbalut keamanan, agar tawa mereka tak lagi direnggut oleh pusaran air yang mematikan.












