KlikMojok – Lazismu Sidoarjo mengadakan pelatihan mitigasi bencana kekeringan dan kesiapsiagaan kebakaran di Aula Nyi Walidah SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Acara penting ini diikuti oleh 50 peserta, bertujuan untuk membekali warga sekolah dengan pengetahuan dan keterampilan khusus dalam menghadapi potensi bencana. Kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, khususnya, menjadi fokus utama mengingat urgensi penanganannya di lingkungan pendidikan.
Seluruh peserta yang berjumlah 50 orang tersebut berasal dari berbagai unsur amal usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan serta organisasi otonom Muhammadiyah, menunjukkan cakupan partisipasi yang luas. Rincian partisipan meliputi 23 orang perwakilan dari lembaga pendidikan Muhammadiyah, mulai dari tingkat sekolah dasar, madrasah ibtidaiah, SMP, hingga SMA. Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) menyertakan 14 peserta. Selain itu, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) mengirimkan enam peserta, sementara Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) turut berpartisipasi dengan empat perwakilan. Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) juga mengirimkan dua peserta, dan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) diwakili oleh satu peserta.
Hifni Solikhin, selaku Ketua Lazismu Sidoarjo, dalam sambutannya saat pembukaan acara, menekankan bahwa pelatihan ini merupakan langkah krusial untuk meningkatkan kemampuan seluruh warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana kebakaran. “Tidak menutup kemungkinan di lingkungan sekolah terjadi keadaan darurat arus pendek listrik, sehingga pelatihan ini memberi bekal pihak sekolah untuk siap,” ujar Hifni Solikhin, menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan.
Hifni Solikhin menambahkan, kondisi cuaca panas dan lingkungan yang kering berpotensi besar meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Ancaman ini dapat menyerang berbagai fasilitas, termasuk gedung sekolah, masjid, kantor, hingga fasilitas Amal Usaha Muhammadiyah lainnya. Oleh karena itu, para peserta diberikan pembekalan komprehensif mengenai pencegahan kebakaran. Materi yang disampaikan tidak hanya mencakup pengenalan alat pemadam api ringan (APAR) dan teknik penanganan awal kebakaran, tetapi juga membahas secara detail prosedur evakuasi yang efektif, strategi komunikasi darurat, serta koordinasi respons awal bencana.
Melalui pembekalan ini, diharapkan setiap peserta mampu mengenali potensi bahaya yang ada dan dapat mengambil tindakan awal secara aman dan tepat. Dengan demikian, kesiapsiagaan bencana tidak lagi menjadi tanggung jawab eksklusif petugas tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah. Hifni Solikhin juga menyatakan harapannya agar pelatihan ini dapat menumbuhkan dan mendorong terbentuknya budaya siaga bencana yang kuat di seluruh lingkungan Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah.
Selain materi kebakaran, peserta turut menerima pembekalan mengenai mitigasi kekeringan, yang meliputi strategi penghematan air, metode pengelolaan cadangan air, serta perencanaan kebutuhan air dalam situasi darurat. Hifni Solikhin berharap para peserta mampu menyusun langkah-langkah kesiapsiagaan sederhana yang realistis dan dapat diterapkan secara langsung di lingkungan kerja atau sekolah masing-masing. Hal ini penting agar pengetahuan tentang mitigasi bencana tidak hanya berhenti pada teori, tetapi benar-benar terwujud menjadi tindakan nyata yang efektif dalam melindungi seluruh warga sekolah.
Lailatus Sholichah, salah satu perwakilan peserta dari SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi), menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi lingkungan sekolah karena memberikan pengetahuan mendalam tentang kesiapsiagaan menghadapi kebakaran. Ia berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini dapat memberikan manfaat nyata di lingkungan sekolah. “Saya berharap ke depan ada pelatihan kesiapsiagan bencana banjir,” ungkap Lailatus Sholichah, mengutarakan harapannya untuk perluasan cakupan pelatihan mitigasi bencana.












