KlikMojok – Pada Senin, 26 Oktober 2026, puluhan murid kelas V dan VI SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) mengikuti perkemahan Hizbul Wathan (HW) di Wana Wisata Dlundung, Trawas, Kabupaten Mojokerto. Dalam kegiatan tersebut, mereka melaksanakan salat jamak qasar takdim Zuhur dan Asar, sebuah praktik ibadah yang menjadi bagian penting dari pengalaman kemah.
Pelaksanaan salat berjemaah ini dipimpin langsung oleh Ketua Kabilah HW SD Mumtas, M. Khoirul Anam, M.Pd.I. Seluruh guru dan pembina Hizbul Wathan juga turut serta dalam saf salat, memberikan teladan dan pendampingan kepada para murid.
Suasana perkemahan yang berlangsung di alam terbuka Wana Wisata Dlundung sangat mendukung kegiatan ibadah, dengan udara pegunungan yang sejuk dan langit yang mendung. Setelah menyelesaikan salat, anak-anak melanjutkan rangkaian ibadah mereka dengan berzikir bersama, menikmati ketenangan di antara rimbunnya pepohonan.
M. Khoirul Anam menjelaskan bahwa perkemahan ini memiliki tujuan ganda, yaitu melatih kemandirian para murid dan membiasakan mereka untuk tetap menjaga ibadah salat meskipun sedang dalam perjalanan atau bepergian.
“Berkemah untuk melatih kemandirian, bersujud untuk menguatkan keimanan,” ujar Anam, menegaskan esensi dari kegiatan yang mereka lakukan.
Menurut Anam, melalui praktik langsung ini, murid-murid SD Mumtas memperoleh kesempatan berharga untuk memahami dan mempraktikkan tata cara salat yang berlaku bagi seorang musafir.
Anam lebih lanjut menguraikan bahwa salat jamak dan qasar merupakan bentuk rukhsah atau keringanan dalam syariat Islam, yang pelaksanaannya telah diatur sesuai ketentuan. Dengan demikian, kegiatan ini secara efektif memperkenalkan anak-anak pada kemudahan yang diberikan dalam beribadah saat melakukan perjalanan.
Anam juga menekankan pentingnya penerapan pembelajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Ia berpendapat bahwa hafalan bacaan dan gerakan salat tidak cukup, melainkan harus dibarengi dengan pembiasaan agar hal tersebut dapat tumbuh menjadi kesadaran mendalam dan membentuk karakter positif pada diri murid.
Dalam konteks ini, pendampingan yang diberikan oleh para guru dan pembina HW merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Mereka tidak hanya mengawasi, tetapi juga memberikan teladan nyata dengan turut serta berdiri dalam saf dan mengikuti salat berjemaah bersama murid-murid.
Anam menambahkan bahwa kegiatan di alam terbuka ini juga berfungsi sebagai sarana efektif untuk mengajak murid-murid SD Mumtas mengenal dan merenungkan kebesaran Allah Swt. melalui berbagai ciptaan-Nya yang terhampar luas.
Bagi Anam, keteguhan pepohonan yang menjulang tinggi, kesejukan angin yang berhembus, serta hamparan alam Dlundung yang indah menjadi bahan refleksi yang mendalam selama perkemahan berlangsung.
Ia berpendapat bahwa keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan alam harus selaras dengan keteguhan hati dalam menjaga ibadah. Salat, dalam pandangannya, berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa manusia selalu membutuhkan pertolongan dan kasih sayang dari Allah.
Anam turut mengingatkan agar hiruk pikuk dan kesibukan menjelajah alam tidak sampai membuat murid-murid melalaikan kewajiban salat mereka. Ia sangat berharap anak-anak dapat terus menjaga kedekatan spiritual dengan Allah, bahkan ketika mereka sedang bepergian jauh dari lingkungan rumah.
Melalui pembiasaan ibadah dan kemandirian ini, Anam menaruh harapan besar agar dapat tumbuh generasi Qurani yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak mulia, keimanan yang kuat, dan istikamah dalam menjalankan ibadah.
Dalam keterangannya, beliau menegaskan bahwa keberhasilan sejati dalam pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan anak untuk meraih cita-cita, tetapi juga dari keteguhan mereka dalam menjaga keimanan di setiap fase dan langkah kehidupan.












