KlikMojok – Senin (19/10/2026) pagi di jalur pantura Pasuruan, semburat matahari belum sepenuhnya menyengat, namun hawa kegelisahan sudah terasa pekat. Di SPBU Latek Bangil dan SPBU Sengonagung Purwosari, papan pengumuman bertuliskan “Pertalite Habis” terpampang jelas, seolah menjadi penanda awal dari sebuah hari yang penuh perjuangan. Tak jauh berbeda, di SPBU Bypass Pandaan, pemandangan truk-truk besar mengular hingga memakan badan jalan menjadi saksi bisu betapa sulitnya mencari bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar. Kelangkaan BBM di Pasuruan ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan pukulan telak bagi roda ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Sulaiman, seorang sopir truk yang tengah menanti giliran di antrean panjang SPBU Bypass Pandaan, mengisahkan perjalanan yang melelahkan. Sejak subuh, ia telah berputar mencari Solar dari wilayah Purwodadi, namun nihil. “Saya sudah mencoba mengisi bahan bakar Solar sejak masuk wilayah Purwodadi, namun dari beberapa SPBU di sepanjang jalan stoknya sudah kehabisan. Ini baru nemu Solar di SPBU Bypass Pandaan, tadi dari Purwodadi kelihatannya banyak yang kehabisan juga,” ujarnya dengan nada lelah, matanya menatap deretan kendaraan di depannya yang seolah tak berujung.
Kekosongan stok Solar di sepanjang jalur utama ini tak pelak menghambat perjalanan armada pengangkut barang, urat nadi logistik antarkota di Jawa Timur. Setiap jam yang terbuang dalam antrean berarti molornya jadwal pengiriman, memicu domino efek kerugian bagi banyak pihak, dari pengusaha hingga konsumen akhir. Kondisi sulitnya mendapatkan pasokan BBM di SPBU jalur pantura dan akses penghubung Malang–Surabaya ini memaksa para pengendara mengantre berjam-jam, bersabar di tengah ketidakpastian kapan giliran mereka tiba.
Di tengah keluhan dan antrean panjang yang menggambarkan realitas di lapangan, Kepolisian Resor (Polres) Pasuruan justru menyuarakan narasi yang kontras. Pihak kepolisian menyatakan bahwa ketersediaan BBM di wilayah hukumnya masih dalam batas aman. Kapolres Pasuruan, AKBP Irawan Setyono, bahkan menggelar inspeksi mendadak (sidak) untuk meninjau ketersediaan pasokan energi di SPBU Cangkringmalang, Kecamatan Beji, pada Minggu (18/10/2026), sehari sebelum keluhan warga memuncak.
“Pengecekan dilakukan untuk memastikan stok BBM tetap aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan di SPBU Cangkringmalang, ketersediaan BBM masih mencukupi dan situasi antrean kendaraan terpantau dalam keadaan normal serta terkendali,” kata AKBP Irawan Setyono, mencoba menenangkan keresahan publik. Ia menambahkan, Sat Intelkam Polres Pasuruan juga telah diterjunkan untuk memantau ketersediaan pasokan BBM secara menyeluruh, menyasar 31 SPBU yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Pasuruan.
Pihak kepolisian menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kelancaran distribusi energi dari depot utama hingga ke tangki penyimpanan SPBU. Pemantauan ketat ini, menurut mereka, diharapkan mampu mencegah potensi gangguan distribusi serta memastikan ketersediaan BBM bagi masyarakat Pasuruan tetap terjaga. Namun, di balik klaim yang menenangkan itu, pertanyaan besar tetap menggantung di benak para sopir dan warga: mengapa realitas di jalanan begitu jauh berbeda dengan laporan di meja kerja? Kesenjangan antara data dan pengalaman langsung ini menjadi cerminan pentingnya sinkronisasi informasi dan tindakan nyata agar roda kehidupan, termasuk roda logistik, dapat terus berputar tanpa hambatan.












