KlikMojok – Malam itu, Minggu (18/10/2026), dinginnya udara Madiun seolah ikut membekukan duka yang menyelimuti. Pukul 22.30 WIB, empat ambulans perlahan bergerak meninggalkan RSUD Caruban, membawa pulang jasad-jasad muda yang seharusnya masih bersorak di tribun. Mereka adalah suporter PSS Sleman, para Elang Jawa yang kini harus kembali ke bumi Mataram bukan dalam kemenangan, melainkan dalam hening yang memilukan, setelah kecelakaan maut di KM 616+200 jalur A Tol Ngawi-Kertosono.
Perjalanan pulang yang seharusnya membawa cerita suka cita usai mendukung tim kebanggaan, justru berakhir tragis. Fakhri Maulana Al-Zaki, Iyan Fathur Ar-Rozaq, Rio Rahman Sahid, dan Novandika Dwi Adu, empat pemuda asal Sleman, kini hanya tinggal nama yang terukir dalam ingatan keluarga dan rekan-rekan suporter. Nama-nama mereka adalah simbol dari semangat tak kenal lelah, dedikasi yang seringkali dipertaruhkan di jalanan demi sebuah lambang kebanggaan.
Setelah melalui proses identifikasi yang cermat, jenazah keempat korban diberangkatkan menuju Yogyakarta. Lima unit ambulans didatangkan khusus dari Kota Pelajar, empat di antaranya mengangkut jasad, sementara satu lainnya membawa barang-barang pribadi yang mungkin tersisa dari perjalanan terakhir mereka. Sebuah iring-iringan panjang yang diwarnai kesedihan mendalam, dikawal ketat oleh Satlantas Polres Madiun secara estafet hingga gerbang Exit Tol Prambanan, sebelum estafet pengawalan dilanjutkan oleh jajaran kepolisian setempat hingga ke rumah duka masing-masing di Sleman dan sekitarnya.
Koordinasi yang intensif pun terjalin antara pihak kepolisian dengan panitia suporter dan Pemerintah Kabupaten Sleman, memastikan setiap detail proses pemulangan berjalan lancar di tengah suasana duka. Kapolres Madiun, AKBP Ridwan Maliki, menegaskan komitmen pihaknya. “Dari pihak panitia suporter bekerja sama dengan Pemkab setempat membantu empat mobil ambulans. Kita kawal empat mobil ambulans beserta suporter yang berangkat bersama untuk dipulangkan ke masing-masing rumah di Sleman, Yogyakarta,” ujar Ridwan, Minggu malam, menggambarkan sinergi untuk menghormati kepergian para suporter.
Namun, di balik proses pemulangan yang mengharukan, misteri penyebab pasti kecelakaan maut ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi aparat penegak hukum. Tim gabungan dari Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Timur dan Satlantas Polres Madiun terus bekerja keras melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA). Analisis komprehensif ini dilakukan untuk mengungkap setiap detail kronologi, dari kecepatan, posisi kendaraan, hingga faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi pada insiden tragis tersebut. “Tim dari Polda kemudian dari Polres baru melakukan Traffic Accident Analysis. Jadi, prosesnya masih perlu waktu dan pendalaman,” jelas Ridwan.
Tidak hanya korban meninggal, kecelakaan ini juga menyisakan luka bagi mereka yang selamat. Hingga Minggu malam, tiga orang masih harus menjalani perawatan medis. Dua korban mengalami cedera kepala serius dan direncanakan akan dirujuk ke Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta untuk penanganan lebih lanjut. Sementara itu, pengemudi rombongan yang juga menjadi bagian krusial dari insiden ini, masih dirawat di RSUD Caruban. Kondisinya dilaporkan mulai stabil, dan jika memungkinkan, pemeriksaan terhadapnya akan dilakukan di Polres Madiun pada Senin (19/10/2026), menjadi salah satu kunci untuk mengungkap tabir kejadian. Sejumlah saksi, terutama penumpang yang selamat dan sehat, juga telah diperiksa untuk melengkapi puzzle informasi.
Kapolres Madiun menambahkan, hingga saat ini, belum ada kesimpulan pasti mengenai penyebab kecelakaan. “Sampai dengan saat ini belum bisa kita simpulkan secara pasti penyebab kecelakaan lalu lintas yang tadi terjadi di KM 616,” tandasnya, menegaskan bahwa proses investigasi membutuhkan ketelitian dan waktu demi mendapatkan gambaran utuh yang adil bagi semua pihak.
Perjalanan pulang Fakhri, Iyan, Rio, dan Novandika adalah pengingat pahit tentang kerapuhan hidup di jalan raya, dan harga yang kadang harus dibayar demi sebuah gairah. Tragedi ini bukan hanya tentang angka-angka korban, melainkan tentang impian yang terenggut, keluarga yang berduka, dan sebuah komunitas suporter yang kini kehilangan pahlawan-pahlawan tribunnya. Semoga jalan tol yang membisu itu, suatu hari nanti, bisa bercerita tentang kebenaran di balik kepergian mereka.












