Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Jalan Pulang yang Tak Pernah Tiba: Kisah Pilu 4 Suporter PSS Sleman dalam Kecelakaan Tol Madiun

badge-check

Jalan Pulang yang Tak Pernah Tiba: Kisah Pilu 4 Suporter PSS Sleman dalam Kecelakaan Tol Madiun Perbesar

KlikMojok – Derap langkah, nyanyian semangat, dan kibaran bendera hijau adalah denyut nadi setiap pertandingan PSS Sleman. Ribuan kilometer kerap ditempuh para suporter, merajut asa demi menyaksikan tim kebanggaan berlaga. Namun, pada Minggu (18/10/2026), sebuah perjalanan panjang yang sarat harapan justru berujung pada duka mendalam di Tol Ngawi-Kertosono, Kabupaten Madiun. Empat nyawa muda, para Elang Jawa sejati, harus mengakhiri kisahnya dalam sebuah kecelakaan maut, meninggalkan jejak pilu yang takkan mudah terhapus.

Identitas keempat suporter PSS Sleman yang menjadi korban meninggal dunia dalam insiden tragis ini telah berhasil dikonfirmasi. Mereka adalah Fakhri Maulana Al-Zaki, Iyan Fathur Ar-Rozaq, dan Rio Rahman Sahid, ketiganya berasal dari Kapanewon Mlati, serta Novandika Dwi Adu dari Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Nama-nama ini kini menjadi simbol pengorbanan dan kesetiaan yang tak terhingga, terukir dalam sejarah kelam perjalanan suporter.

Septyadi Pityanta, selaku Safety Crowd Manager PSS Sleman, membenarkan informasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses identifikasi dan pemulasaraan jenazah telah rampung dilakukan di RS Caruban, Madiun. “Empat jenazah sudah selesai diidentifikasi dan menjalani pemulasaraan di RS Caruban,” ujar Septyadi, Minggu (18/10/2026), dengan nada prihatin, menggambarkan upaya cepat untuk mengurus para korban.

Untuk mengantarkan para pahlawan tribun ini kembali ke pangkuan keluarga di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, lima unit armada ambulans didatangkan langsung dari Kota Gudeg. Empat di antaranya khusus disiapkan untuk membawa masing-masing jenazah, sementara satu unit lainnya mengangkut barang-barang pribadi milik para korban, saksi bisu dari sebuah perjalanan yang tak tuntas. Rombongan ambulans bertolak dari RS Caruban dengan pengawalan ketat. Satuan Lalu Lintas Polres Madiun mengawal secara estafet hingga gerbang Exit Tol Prambanan, sebelum estafet pengawalan dilanjutkan oleh kepolisian setempat, memastikan perjalanan terakhir para suporter ini berlangsung dengan khidmat dan aman hingga tiba di rumah duka.

Di tengah duka, ada secercah harapan bagi beberapa korban. Tiga suporter lain yang turut menjadi rombongan dan sempat mendapatkan penanganan medis darurat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Caruban juga telah ditindaklanjuti. Satu korban dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang, kembali ke pelukan keluarga dengan cerita pilu yang akan selalu terukir.

Namun, dua korban lainnya harus melanjutkan perjuangan mereka. Akibat cedera kepala yang cukup serius, keduanya dirujuk ke Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk penanganan medis lanjutan. “Setelah terkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit UGM, dua korban selamat langsung dirujuk untuk penanganan medis lanjutan,” tambah Septyadi, menggambarkan upaya maksimal yang dilakukan untuk menyelamatkan mereka. Sementara itu, pengemudi minibus Toyota Hi-Ace yang mengangkut rombongan suporter ini dilaporkan hanya mengalami luka ringan, sebuah ironi di tengah tragedi besar yang menimpa penumpangnya.

Insiden nahas ini terjadi di KM 616+200 jalur A Tol Ngawi-Kertosono, tepatnya di wilayah Desa Bajulan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Minibus yang mereka tumpangi sedianya sedang melaju menuju Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, tempat PSS Sleman dijadwalkan bertanding. Sebuah perjalanan yang seharusnya penuh gairah dan sorak sorai, kini menjadi monumen bisu atas sebuah tragedi. Kisah ini tak hanya tentang angka dan identitas, melainkan tentang gairah tak terbatas seorang suporter yang rela menempuh jarak, mengorbankan waktu, bahkan nyawa demi tim kebanggaan. Ini adalah pengingat pahit tentang risiko yang selalu mengintai di balik setiap perjalanan jauh, khususnya bagi mereka yang memilih jalan darat untuk mendukung tim kesayangan. Tragedi ini menjadi pelajaran berharga akan pentingnya keselamatan, kewaspadaan, dan perlindungan bagi setiap insan yang berani mewujudkan mimpinya di atas aspal.

Kepergian Fakhri, Iyan, Rio, dan Novandika meninggalkan lubang menganga di hati keluarga, komunitas suporter PSS Sleman, dan seluruh pecinta sepak bola Indonesia. Mereka adalah bagian dari jutaan suara yang menghidupkan stadion, semangat yang tak pernah padam. Semoga duka ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di balik setiap euforia pertandingan, ada nyawa-nyawa berharga yang patut dijaga. Perjalanan mereka mungkin telah usai, namun semangat kesetiaan mereka akan terus abadi, menjadi lentera bagi generasi suporter berikutnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menuju Keabadian, Bukan Tribun: Kisah Pilu Empat Suporter PSS Sleman yang Berpulang di Jalan Tol

19 Okt 2026 - 09:44 WIB

Menuju Keabadian, Bukan Tribun: Kisah Pilu Empat Suporter PSS Sleman yang Berpulang di Jalan Tol

Jejak Digital Para Pelajar: Memahami Risiko Viral dan Jerat UU ITE di Era Media Sosial

19 Okt 2026 - 09:43 WIB

Jejak Digital Para Pelajar: Memahami Risiko Viral dan Jerat UU ITE di Era Media Sosial

Aisyiyah Krian Selaraskan Pendidikan Spiritual dan Sosial Lewat Dakwah Berbagi Sayur Mayur

19 Okt 2026 - 09:43 WIB

Aisyiyah Krian Selaraskan Pendidikan Spiritual dan Sosial Lewat Dakwah Berbagi Sayur Mayur

Psikologi Dakwah dalam Simulasi Mubaligat Aisyiyah Sidoarjo: Strategi Menjangkau Mad’u Tepat Sasaran

19 Okt 2026 - 09:42 WIB

Psikologi Dakwah dalam Simulasi Mubaligat Aisyiyah Sidoarjo: Strategi Menjangkau Mad’u Tepat Sasaran

Kunci Keberhasilan Dakwah Muhammadiyah Srembi: Pendekatan Personal dan Pembinaan Berkelanjutan

19 Okt 2026 - 06:12 WIB

Kunci Keberhasilan Dakwah Muhammadiyah Srembi: Pendekatan Personal dan Pembinaan Berkelanjutan
Trending di Pendidikan