KlikMojok – Ketika jejak kemarau mulai mengukir retakan di tanah dan sungai-sungai kehilangan alirannya, seringkali kita tergoda untuk pasrah pada takdir kekeringan. Namun, bagi Prof. Agus Maryono, pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), krisis air bukanlah akhir yang tak terhindarkan, melainkan panggilan untuk bertindak proaktif. Ia menyerukan sebuah gerakan kolektif, dari sumur resapan terkecil hingga restorasi sungai berskala luas, guna membangun ketahanan air yang berkelanjutan.
Agus menekankan bahwa penanganan kekeringan harus segera dilakukan, terutama di wilayah yang mulai merasakan dampaknya secara nyata. Bahkan, sumber air dengan debit yang sangat kecil pun memiliki nilai yang tak terhingga dan patut dilindungi. “Mata air itu, meskipun kecil, satu liter saja berarti untuk seribu orang. Kalau seperempat liter, berarti 250 orang bisa selamat dari itu,” ujarnya, menggarisbawahi betapa vitalnya setiap tetes air.
Lebih dari sekadar mendatangkan bantuan air saat krisis memuncak, Agus mendorong masyarakat untuk mengidentifikasi dan menjaga sumber air yang masih ada. Ia menjelaskan, sungai yang tampak mengering di permukaan belum tentu kehilangan seluruh cadangan airnya. Seringkali, air masih tersimpan di bawah permukaan tanah, mengikuti alur sungai purba. Oleh karena itu, ia menyarankan pendekatan sederhana namun efektif: “Sungai-sungai yang mengering itu coba dikeruk. Dibuat sumuran kecil. Itu airnya masih ada di sungai itu. Di bawah sungai itu air ada,” jelasnya, menawarkan solusi praktis untuk mengakses cadangan air tersembunyi.
Tak hanya berfokus pada apa yang tersisa di hilir, upaya konservasi di wilayah hulu juga menjadi kunci. Agus mengadvokasi penghidupan kembali embung-embung yang terbengkalai, melakukan reboisasi dengan menanam kembali pepohonan, serta memanfaatkan sumur-sumur tak terpakai untuk membantu memasukkan air hujan ke dalam tanah. Ini bukan sekadar tindakan sporadis, melainkan sebuah program terencana dan berkelanjutan yang membutuhkan sinergi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Bagi Agus, ketahanan air sejati dibangun jauh sebelum musim kemarau tiba. Air hujan yang melimpah ruah selama musim penghujan harus dikelola dengan bijak, ditampung dan diresapkan, agar menjadi cadangan berharga saat curah hujan menipis. Pendekatan preventif ini memastikan masyarakat tidak hanya bertindak reaktif ketika sumber air mulai menipis, tetapi juga proaktif menyiapkan langkah antisipasi untuk kemarau berikutnya. “Kita harus membuat program bersama-sama masyarakat, serentak, program serentak berbasis masyarakat menyelesaikan masalah kemarau sekarang dan untuk kemarau yang akan datang,” kata Agus, menekankan pentingnya visi jangka panjang.
Gerakan berbasis masyarakat inilah yang ia yakini dapat memperluas jangkauan upaya penyelamatan sumber air. Mulai dari menjaga mata air, memulihkan daerah tangkapan air, menanam pohon, hingga mengoptimalkan tempat penampungan air hujan, semua dapat menjadi bagian dari langkah kolektif. “Untuk air itu preventif. Memikirkan air hujan, musim hujan untuk musim kemarau,” pungkasnya, menegaskan filosofi pengelolaan air yang berorientasi masa depan.
Selain mitigasi kekeringan, Agus juga menyoroti pentingnya gerakan restorasi sungai yang melibatkan masyarakat secara aktif. Berawal dari Yogyakarta pada tahun 2014, gerakan ini telah tumbuh dari segelintir komunitas menjadi lebih dari 2.500 komunitas di seluruh Indonesia. Sebuah bukti nyata bahwa kepedulian terhadap sungai dapat menjelma menjadi gelombang perubahan yang masif.
Namun, kepedulian saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu dibekali pengetahuan yang memadai agar mampu memahami kompleksitas persoalan sungai dan menentukan tindakan restorasi yang tepat. “Kalau itu kita tumbuhkan, maka kita akan bisa mengembalikan semua itu menjadi bersih lagi. Kemudian kebersamaan, kemudian spirit dan motivasinya muncul,” ujarnya. Agus menegaskan bahwa restorasi sungai membutuhkan perpaduan harmonis antara semangat membara, keterlibatan masyarakat, dan penguasaan ilmu pengetahuan. “Gerakan itu tidak hanya semangat, tapi ilmu. Tidak hanya otot, tapi ilmunya harus diisi,” katanya.
Pengetahuan menjadi krusial karena persoalan sungai jauh melampaui sekadar masalah sampah atau kebersihan aliran air. Pemulihan sungai yang komprehensif juga harus mempertimbangkan kondisi lingkungan secara keseluruhan, ketersediaan air, kondisi kawasan hulu, serta keterlibatan aktif masyarakat yang hidup di sekitarnya. Ini adalah ekosistem yang saling terkait, di mana setiap elemen memainkan peran vital.
Salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keberlanjutan gerakan restorasi sungai adalah ketergantungan pada tenaga sukarela, yang rentan terhadap kendala regenerasi dan partisipasi. Untuk mengatasi ini, Agus mengusulkan pengembangan wisata sungai sebagai solusi ganda: menjaga kelangsungan gerakan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Sungai yang terawat baik dapat bertransformasi menjadi ruang wisata berbasis lingkungan, asalkan pengelolaannya tetap berpegang pada prinsip kelestarian ekosistem. “Wisata itu bisa realistis kalau di sungai itu bisa mensejahterakan masyarakatnya secara signifikan,” ungkapnya.
Potensi ekonomi dari aktivitas wisata sungai sangat beragam, mulai dari pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kuliner lokal, jasa parkir, penyediaan fasilitas wisata, hingga kegiatan edukasi lingkungan. Dalam skema ini, masyarakat tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga harus diberi ruang untuk mengelola kawasan dan menikmati secara langsung manfaat ekonomi yang dihasilkan. Manfaat ekonomi inilah yang, menurut Agus, dapat menjadi pendorong kuat bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian sungai. Ketika lingkungan yang terawat menarik pengunjung dan menghidupkan roda ekonomi warga, kepentingan bersama untuk mempertahankan sungai akan semakin mengakar.
Dengan demikian, gerakan restorasi sungai yang digagas oleh Prof. Agus Maryono bukan hanya bertujuan untuk memulihkan kondisi lingkungan, tetapi juga untuk membangun ketahanan air yang kokoh dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Ini adalah visi holistik tentang bagaimana manusia dapat hidup harmonis dengan alam, mengubah ancaman kekeringan menjadi peluang untuk tumbuh bersama, di mana setiap tetes air dan setiap aliran sungai memiliki makna yang jauh lebih dalam.












