Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Bukan Sekadar Jabatan: Gus Salam Jombang dan Makna Khidmah A’wan PBNU

badge-check

Bukan Sekadar Jabatan: Gus Salam Jombang dan Makna Khidmah A’wan PBNU Perbesar

KlikMojok – Di tengah gemuruh kehidupan pesantren di Jombang, Jawa Timur, sebuah kabar datang dari pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mengukuhkan peran penting seorang ulama. KH Abdussalam Shohib, akrab disapa Gus Salam, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif (PPMM) Denanyar, Jombang, kini dipercaya mengemban amanah sebagai A’wan dalam struktur PBNU masa khidmah 2026–2031. Penunjukan ini bukan sekadar penambahan nama dalam daftar kepengurusan, melainkan sebuah penegasan atas semangat pengabdian yang tak mengenal batas, sebuah filosofi yang ia junjung tinggi dalam setiap langkahnya di Nahdlatul Ulama.

Gus Salam menyambut amanah besar ini dengan penuh rasa syukur, melihatnya sebagai kelanjutan dari “khidmah” dan pengabdian tulus kepada Nahdlatul Ulama, organisasi yang telah lama menjadi ladang perjuangannya. Ia menegaskan kesiapannya untuk menjalankan tugas tersebut dengan segenap kemampuan, disertai ikhtiar dan keikhlasan. “Ya, alhamdulillah. Saya sangat berterima kasih atas amanah yang telah diberikan untuk menjadi A’wan PBNU. Tentu saya akan berusaha untuk khidmah, mengabdi NU dengan sekemampuan saya dengan berupaya untuk ikhlas dan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Gus Salam, Kamis (8/10/2026), menunjukkan ketulusan yang mendalam.

Baginya, posisi A’wan dalam struktur PBNU bukanlah semata-mata kedudukan formal, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk berkontribusi secara nyata bagi Nahdlatul Ulama dan umat. Pandangan ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang esensi berorganisasi di lingkungan pesantren, di mana pengabdian seringkali lebih dihargai daripada hierarki.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Salam juga menyampaikan harapan besarnya terhadap kepengurusan PBNU periode 2026–2031. Ia menekankan pentingnya soliditas organisasi, sebuah fondasi krusial agar PBNU dapat bergerak serentak dan efektif. Lebih dari itu, ia mendorong agar PBNU segera bekerja secara profesional, menata struktur dan tata kelola organisasi agar lebih optimal dalam melayani umat dan menjalankan program-program strategis.

“Tentu kami berharap PBNU ini bisa solid, kemudian segera bekerja untuk umat maupun penataan struktur, tata kelola organisasi yang lebih profesional, dan membawa keteduhan di tengah-tengah umat, serta menjaga dan mengembalikan marwah organisasi maupun kepercayaan umat kepada Nahdlatul Ulama. Itu harapan kami,” lanjutnya, merangkum visi yang komprehensif. Harapan ini tidak hanya menyentuh aspek internal organisasi, tetapi juga eksternal, yaitu bagaimana PBNU dapat menjadi penyejuk di tengah berbagai dinamika sosial dan keagamaan.

Lebih jauh, Gus Salam menyoroti pentingnya menghadirkan keteduhan di tengah masyarakat. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama diharapkan mampu menjadi mercusuar yang menjaga marwahnya, sekaligus memperkuat kembali kepercayaan umat yang mungkin sempat terkikis oleh berbagai isu. Soliditas internal dan profesionalisme tata kelola menjadi kunci untuk mencapai tujuan luhur ini, memastikan setiap langkah PBNU membawa kemaslahatan.

Ketika disinggung mengenai persepsi sebagian orang tentang posisi A’wan yang mungkin dianggap “rendah” dalam hierarki organisasi, Gus Salam dengan tegas menampiknya. Ia menawarkan perspektif yang mencerahkan tentang nilai pengabdian di NU. “Saya kira di NU itu tidak posisi yang rendah enggak ada, karena ini khidmah. Jadi khidmah itu di mana pun sama. Yang penting komitmen, loyalitas, keikhlasan, dan kinerjanya,” tegas Gus Salam saat ditemui di kediamannya. Pernyataan ini bukan hanya sebuah sanggahan, melainkan sebuah filosofi hidup dan berorganisasi yang ia yakini.

Filosofi ini menegaskan bahwa dalam Nahdlatul Ulama, nilai sebuah amanah tidak diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari seberapa besar komitmen, loyalitas, keikhlasan, dan kinerja yang dicurahkan untuk menjalankan amanah tersebut. Prinsip inilah yang menjadi landasan Gus Salam dalam menerima dan berjanji akan menjalankan tugasnya sebagai A’wan PBNU selama masa khidmah 2026–2031.

Sebagai salah satu tokoh yang aktif dalam lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama, Gus Salam dikenal memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang. Amanah baru ini menempatkannya sebagai bagian integral dari struktur PBNU yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perjalanan organisasi dalam lima tahun ke depan. Ia berharap, di bawah kepengurusan baru, PBNU dapat semakin solid, profesional dalam tata kelola, dan terus menjadi sumber keteduhan bagi umat dan bangsa.

Pada akhirnya, bagi Gus Salam, jabatan dalam struktur PBNU hanyalah sebuah wasilah, sebuah sarana untuk terus berkhidmah kepada NU dan seluruh umat. Di mana pun seseorang ditempatkan dalam struktur organisasi, esensi terpenting adalah bagaimana amanah tersebut diemban dengan komitmen yang tak tergoyahkan, loyalitas yang tulus, keikhlasan yang murni, dan kinerja yang optimal. Ini adalah panggilan untuk berkhidmat, bukan untuk berkuasa, sebuah pelajaran berharga yang terus hidup dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pelajaran Berharga: Siswa Smamsatu Gresik Renungkan Bakti Orang Tua Lewat Film ‘Jangan Buang Ibu’

8 Okt 2026 - 21:04 WIB

Pelajaran Berharga: Siswa Smamsatu Gresik Renungkan Bakti Orang Tua Lewat Film ‘Jangan Buang Ibu’

Wajah Garang di Kota Wisata: Mengurai Akar Permasalahan Pengemis dan Pengamen di Blitar

8 Okt 2026 - 18:45 WIB

Wajah Garang di Kota Wisata: Mengurai Akar Permasalahan Pengemis dan Pengamen di Blitar

FSPPB Dorong RUU Migas 2026: Integrasi Penuh Tata Kelola Migas

8 Okt 2026 - 15:19 WIB

FSPPB Dorong RUU Migas 2026: Integrasi Penuh Tata Kelola Migas

Peran Aktif Mahasiswa dan Sekolah Atasi Kekeringan di Pamekasan Melalui Penyaluran Air Bersih

8 Okt 2026 - 12:37 WIB

Peran Aktif Mahasiswa dan Sekolah Atasi Kekeringan di Pamekasan Melalui Penyaluran Air Bersih

Survei KPK Ungkap Rapor Integritas Pendidikan 73,30: Keberanian dan Tata Kelola Jadi PR Utama

8 Okt 2026 - 12:36 WIB

Survei KPK Ungkap Rapor Integritas Pendidikan 73,30: Keberanian dan Tata Kelola Jadi PR Utama
Trending di Pendidikan