KlikMojok – Preeti Yadav dan Neetu Upadhyay, dua pendidik dari India, telah menunjukkan pendekatan revolusioner dalam pengajaran sains. Mereka berhasil mendemonstrasikan bagaimana kombinasi simulasi interaktif, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), bahan-bahan sederhana, dan proyek berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dapat mendorong siswa untuk secara aktif menguji dan menjelaskan berbagai konsep sains.
Bayangkan sebuah skenario pembelajaran di mana siswa dapat memanipulasi massa suatu benda, mengamati perubahan gaya yang terjadi, dan kemudian mengulang percobaan berulang kali tanpa rasa takut akan kesalahan. Lebih jauh lagi, bagaimana jika kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memicu pemikiran yang lebih mendalam pada anak-anak?
Gambaran metode pembelajaran yang transformatif ini dipresentasikan oleh Preeti Yadav dan Neetu Upadhyay dari India dalam International Teacher Conference yang diselenggarakan pada Senin, 5 Oktober 2026.
Dalam sesi Presentasi 6, kedua pendidik tersebut menyajikan materi bertajuk “Science in Action: Innovative Teaching, Smart Training and Technology-Rich Classrooms, Shown Through Our Own Classroom Evidence”.
Melalui dokumentasi visual dari aktivitas kelas mereka, Preeti dan Neetu memperlihatkan sebuah model pembelajaran sains yang memberikan ruang luas bagi siswa untuk bereksplorasi, berkreasi, menguji hipotesis, dan mengartikulasikan pemahaman mereka sendiri.
Salah satu praktik utama yang mereka perkenalkan adalah penggunaan eksperimen dan simulasi virtual. Siswa diajak untuk menyelami konsep-konsep seperti terapung dan tenggelam, membangun serta menguji sirkuit listrik melalui papan interaktif, hingga mengamati perubahan gaya ketika variabel massa dan gravitasi diubah.
Melalui simulasi ini, siswa memiliki keleluasaan untuk mengubah satu variabel pada satu waktu, mengamati dampak yang timbul, dan kemudian mengulangi percobaan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.
Menurut penjelasan Preeti dan Neetu, pendekatan ini sangat efektif membantu siswa dalam menyelidiki konsep-konsep sains dengan mengamati langsung perubahan yang terjadi.
Pemanfaatan Gemini, sebuah teknologi AI, juga menjadi komponen penting dalam materi yang mereka sampaikan.
Alur pembelajaran yang diterapkan dimulai dengan meminta siswa untuk menjawab pertanyaan konsep menggunakan bahasa dan pemahaman mereka sendiri. Setelah itu, Gemini digunakan untuk meninjau jawaban siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif.
Dalam contoh yang dipresentasikan, umpan balik dari AI tidak langsung memberikan jawaban akhir. Sebaliknya, siswa justru diberikan pertanyaan-pertanyaan penuntun, misalnya, tentang apa yang terjadi pada partikel gas saat dipanaskan, untuk merangsang pemikiran lebih lanjut.
Di sela-sela proses tersebut, guru tetap berperan aktif dengan berkeliling kelas untuk memverifikasi keakuratan informasi yang diperoleh siswa dan memperluas diskusi agar pemahaman menjadi lebih komprehensif.
Materi presentasi juga menyoroti beberapa aspek krusial yang perlu diperhatikan dalam survei pengalaman siswa saat menggunakan AI, meliputi kejelasan penjelasan yang diberikan AI, tingkat keterlibatan berpikir siswa, peningkatan kepercayaan diri, ketepatan informasi, serta penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Preeti dan Neetu dengan tegas menekankan pentingnya siswa untuk berpikir terlebih dahulu, memverifikasi informasi melalui sumber-sumber seperti buku pelajaran dan bimbingan guru, sebelum akhirnya bertanggung jawab penuh atas jawaban akhir yang mereka hasilkan.
Dengan menerapkan pola pembelajaran ini, AI ditempatkan sebagai sebuah alat bantu yang mendukung proses belajar siswa, bukan sebagai entitas yang menggantikan fungsi berpikir kritis mereka.
Pendekatan STEM juga diintegrasikan melalui serangkaian kegiatan di mana siswa diajak merancang, membuat, dan menguji berbagai karya menggunakan bahan-bahan sederhana yang tersedia sehari-hari.
Dokumentasi yang ditampilkan mencakup berbagai aktivitas, mulai dari pembuatan desain kotak kardus, kegiatan mengukur dan memotong material, kreasi berbahan kertas, hingga perakitan pelontar sederhana yang terbuat dari sendok dan stik.
Proses kreatif ini mengikuti tahapan sistematis yang meliputi bertanya, membayangkan, merencanakan, membuat, menguji, dan memperbaiki.
Setelah mengamati hasil pengujian, siswa diberi kesempatan untuk meninjau kembali rancangan awal mereka dan melakukan perbaikan yang diperlukan.
Integrasi STEM juga diperluas melalui pembentukan klub kewirausahaan. Di sana, siswa belajar membuat produk seperti sabun herbal, lilin alami, dan produk aromatik. Kegiatan ini kemudian dikaitkan dengan aspek perencanaan bisnis, penghitungan biaya produksi, serta literasi keuangan.
Melalui kegiatan-kegiatan praktis ini, pembelajaran sains secara efektif dihubungkan dengan berbagai keterampilan penting yang relevan dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Preeti dan Neetu turut memamerkan penggunaan beragam bentuk asesmen untuk mengevaluasi pemahaman siswa secara holistik.
Pemahaman siswa tidak hanya diukur melalui metode tradisional seperti kuis atau jawaban tertulis, tetapi juga melalui pembuatan dan presentasi model, praktik laboratorium, pengerjaan tugas di papan tulis, serta pemberian label pada diagram digital.
Papan interaktif, misalnya, dimanfaatkan untuk mengeksplorasi konsep tekanan fluida, memvisualisasikan proses difusi, dan menjelaskan mekanisme pernapasan manusia.
Dalam beberapa aktivitas, siswa juga diberikan kesempatan berharga untuk menjelaskan konsep-konsep ilmiah kepada teman-teman sebaya mereka, yang turut memperdalam pemahaman mereka sendiri.
Melalui serangkaian praktik inovatif ini, Preeti dan Neetu berhasil menunjukkan bagaimana teknologi modern, bahan-bahan sederhana, dan proyek-proyek praktis dapat digabungkan untuk memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk bertanya, menguji gagasan, menyempurnakan pekerjaan, dan menjelaskan apa yang telah mereka pahami dengan jelas.












