Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Sumur Mengering dan Harapan Meredup: Jejak Kekeringan yang Meluas di Lamongan

badge-check

Ketika Sumur Mengering dan Harapan Meredup: Jejak Kekeringan yang Meluas di Lamongan Perbesar

KlikMojok – Udara siang di Lamongan terasa menusuk, membawa serta debu-debu halus dari tanah yang merekah. Di sudut-sudut pedesaan, sumur-sumur tak lagi menyisakan air, menyisakan kerinduan akan tetesan kehidupan. Apa yang semula hanya kekhawatiran, kini menjadi kenyataan pahit yang meluas. Wilayah di Kabupaten Lamongan yang terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun 2026 ini terus menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan.

Jika pada pertengahan September lalu kekeringan menyelimuti 42 dusun yang tersebar di 12 kecamatan, data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan menunjukkan angka yang melonjak. Kini, kekeringan telah melanda 52 dusun di 34 desa yang tersebar di 13 kecamatan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari perjuangan ribuan keluarga yang setiap hari harus berpacu dengan waktu dan jarak demi mendapatkan setetes air bersih, sebuah kebutuhan dasar yang kini menjadi barang langka.

Menyikapi kondisi darurat ini, upaya penanggulangan jangka pendek telah digulirkan. Sebanyak 1,61 juta liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan. Distribusi masif ini dilakukan selama periode 28 Juli hingga 1 Oktober 2026, menjadi napas bagi warga yang tercekik dahaga.

Kepala Dinas Kominfo Lamongan, Sugeng Widodo, menjelaskan rincian bantuan tersebut. Ia menyebutkan bahwa air bersih yang telah terdistribusi berasal dari berbagai sumber. “Air bersih yang sudah terdistribusi berasal dari APBD Kabupaten Lamongan sebanyak 828.000 liter. Kemudian, dukungan dari APBD Provinsi Jawa Timur mencapai 630.000 liter air bersih,” ungkap Sugeng. Bantuan ini disalurkan ke 10 kecamatan, 23 desa, dan 50 dusun, dengan total penerima mencapai 7.201 Kepala Keluarga (KK).

Tak hanya dari anggaran pemerintah, dukungan juga mengalir dari sektor swasta. “Kemudian dari program Corporate Social Responsibility (CSR), sebanyak 160.000 liter air bersih didistribusikan ke tiga kecamatan, lima desa dan 10 dusun. Jika dijumlahkan berdasarkan sumber bantuan, distribusi air bersih mencapai 1.618.000 liter dengan cakupan wilayah yang cukup luas,” kata Sugeng pada Selasa (6/10/2026), menegaskan sinergi berbagai pihak dalam menghadapi krisis ini.

Namun, bayang-bayang kekeringan masih terus menghantui. Wilayah yang terdampak masih berpotensi meluas. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan BPBD Lamongan, musim kemarau 2026 menyisakan ancaman nyata: 44 desa berstatus desa kritis air dan 45 desa masuk kategori desa langka air. Ini berarti, total terdapat 89 desa yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih, tersebar di 15 kecamatan yang berbeda.

Kecamatan Tikung dan Modo muncul sebagai wilayah dengan potensi terdampak terbesar, masing-masing memiliki 11 desa rawan kekeringan. Disusul oleh kecamatan-kecamatan lain yang juga masuk dalam peta kerawanan BPBD, seperti Kembangbahu, Glagah, Sugio, Mantup, Deket, Lamongan, Sarirejo, Solokuro, Bluluk, Sambeng, Sukodadi, Kedungpring, dan Sukorame. Daftar ini bukan sekadar nama, melainkan potret nyata wilayah yang tengah berjuang melawan musim yang tak bersahabat.

Dalam situasi yang tak menentu ini, masyarakat diimbau untuk tidak berdiam diri. Bagi mereka yang membutuhkan bantuan air bersih, kanal pengaduan darurat BPBD Lamongan siap sedia. Layanan tersebut dapat dihubungi melalui nomor 0811-326-296. Ini adalah saluran vital untuk memastikan bantuan dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Menutup penjelasannya, Sugeng Widodo menegaskan komitmen pemerintah. “Kami terus memantau kondisi di lapangan. Jika memang masih terdapat wilayah yang membutuhkan pasokan air bersih, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. Kata-kata ini menjadi janji, sekaligus harapan bagi ribuan jiwa di Lamongan yang menanti hujan, atau setidaknya, setetes air dari truk tangki yang datang membawa kehidupan. Perjuangan melawan kekeringan ini adalah potret nyata ketahanan, solidaritas, dan harapan yang tak pernah padam di tengah teriknya kemarau panjang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Asap di Kaki Bukit Gedok: Perjuangan Tak Kenal Lelah Melawan Karhutla Lumajang

6 Okt 2026 - 21:06 WIB

Asap di Kaki Bukit Gedok: Perjuangan Tak Kenal Lelah Melawan Karhutla Lumajang

Pasuruan Merajut Transparansi: Era Baru Pembayaran Parkir Digital dengan QRIS dan Voucher

6 Okt 2026 - 21:05 WIB

Pasuruan Merajut Transparansi: Era Baru Pembayaran Parkir Digital dengan QRIS dan Voucher

Santri eLKISI Kuasai 6 Bidang Ilmu Lewat Pembelajaran Terintegrasi Ayam

6 Okt 2026 - 21:04 WIB

Santri eLKISI Kuasai 6 Bidang Ilmu Lewat Pembelajaran Terintegrasi Ayam

Metode Inovatif Pendidik India: Padukan Berpikir Kritis, Simulasi, dan AI

6 Okt 2026 - 21:03 WIB

Metode Inovatif Pendidik India: Padukan Berpikir Kritis, Simulasi, dan AI

SDAI Internasional eLKISI Prioritaskan Tahfiz dan Tahsin sebagai Syarat Ujian Tulis Santri

6 Okt 2026 - 18:46 WIB

SDAI Internasional eLKISI Prioritaskan Tahfiz dan Tahsin sebagai Syarat Ujian Tulis Santri
Trending di Pendidikan