KlikMojok – Senja di Dusun Gebang, Desa Banjarejo, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, seharusnya membawa kedamaian, menutup hari dengan kehangatan. Namun, pada Minggu (4/10/2026) sore itu, cakrawala justru menyelimuti duka yang mendalam. Ahmad Alif Saputro, seorang bocah berusia enam tahun, ditemukan tak bernyawa di aliran sungai yang melintasi dusunnya. Kisah pilu bocah 6 tahun yang tenggelam di sungai Madiun ini menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan hidup dan bahaya yang kerap mengintai di sekitar kita, terutama bagi anak-anak yang penuh rasa ingin tahu.
Ahmad, warga Dusun Gebang RT 08/RW 03, Desa Banjarejo, adalah potret keceriaan masa kanak-kanak yang mendadak sirna. Sore itu, sekitar pukul 16.30 WIB, setelah selesai mandi, Ahmad keluar dari kediamannya. Beberapa warga sempat melihatnya berjalan seorang diri menuju arah sungai yang berada tidak jauh dari permukiman. Sebuah pemandangan yang mungkin terasa biasa, namun siapa sangka akan berujung pada tragedi tak terduga.
Kecemasan mulai menyelimuti hati keluarga ketika waktu terus berjalan namun Ahmad tak kunjung kembali ke rumah. Firasat buruk mulai menggelayuti, mendorong keluarga untuk segera melakukan pencarian. Bersama warga sekitar, mereka menyisir setiap sudut lokasi yang mungkin menjadi tempat bermain Ahmad. Sungai, dengan alirannya yang tenang namun menyimpan potensi bahaya, menjadi salah satu fokus utama pencarian.
Plt Kalaksa BPBD Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis, menjelaskan kronologi pencarian yang melibatkan banyak pihak. “Setelah mandi, anak tersebut keluar rumah. Ada warga yang melihat berjalan menuju sungai seorang diri. Karena tidak segera pulang, keluarga kemudian mencari bersama warga sekitar,” tutur Boby, pada Senin (5/10/2026). Upaya pencarian itu membuahkan hasil pilu. Sekitar pukul 17.30 WIB, satu jam setelah pencarian intensif, Ahmad ditemukan di aliran sungai Dusun Gebang dalam kondisi sudah tidak bergerak.
Dengan sigap, warga mengevakuasi tubuh kecil Ahmad dan membawanya ke Puskesmas Dagangan. Harapan tipis akan keajaiban masih terpancar di wajah-wajah cemas. Namun, setibanya di Puskesmas sekitar pukul 17.45 WIB, petugas medis harus menyampaikan kabar terburuk: Ahmad Alif Saputro telah dinyatakan meninggal dunia. Jenazah Ahmad kemudian dibawa pulang ke rumah duka, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan seluruh warga dusun.
Menanggapi insiden memilukan ini, pihak kepolisian segera bergerak cepat. Tim dari Polres Madiun, termasuk Tim Inafis, langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. Identifikasi terhadap jenazah Ahmad juga dilakukan untuk memastikan kondisi dan penyebab kematian.
Kanit Pidum Satreskrim Polres Madiun, Ipda Ichsan Novianto, mengungkapkan hasil pemeriksaan sementara. “Untuk sementara diduga meninggal karena tenggelam. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” jelas Ichsan. Pernyataan ini menguatkan dugaan awal bahwa Ahmad meninggal dunia akibat tenggelam. Informasi tambahan dari keluarga menyebutkan bahwa Ahmad memiliki riwayat penyakit asma, sebuah detail yang mungkin relevan dalam rangkaian peristiwa tragis ini. Meskipun demikian, pihak kepolisian masih terus melakukan pemeriksaan mendalam untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian yang menyebabkan kepergian bocah enam tahun tersebut.
Kejadian ini telah menjadi perhatian serius. BPBD Kabupaten Madiun bersama unsur Polsek Dagangan dan TNI telah mendatangi lokasi untuk melakukan asesmen, memahami lebih jauh konteks dan potensi risiko di area tersebut. Keluarga Ahmad Alif Saputro, dengan hati yang hancur, telah menerima kejadian ini sebagai musibah. Namun, di balik penerimaan itu, terselip pesan penting bagi kita semua: tentang perlunya pengawasan ekstra terhadap anak-anak, terutama di dekat area perairan, dan pentingnya kewaspadaan kolektif masyarakat untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali. Senja di Gebang kini akan selalu dikenang sebagai senja yang membeku, menyisakan duka dan pelajaran berharga tentang kerapuhan hidup.












