KlikMojok – Di tengah teriknya matahari yang membakar tanah Pacitan, sebuah pemandangan pilu terhampar di Dusun Crabak, Desa Jatigunung, Kecamatan Tulakan. Puluhan ember, galon, dan jeriken berjejer rapi di depan rumah-rumah, bukan untuk menampung air hujan, melainkan menunggu kedatangan penyelamat: sebuah mobil tangki pembawa air bersih. Ini adalah potret nyata perjuangan warga menghadapi musim kemarau panjang yang kian menggila, diperparah oleh fenomena El Nino yang mengubah lanskap kehidupan mereka.
Kekeringan yang melanda Kabupaten Pacitan kini bukan lagi sekadar kesulitan musiman, melainkan ancaman serius yang mengusik kebutuhan dasar. Air bersih, yang seharusnya mengalir tanpa henti untuk minum, memasak, dan mencuci, kini menjadi barang langka. Kondisi ini mendorong Relawan Komunitas Petarung Kehidupan Pacitan untuk turun tangan, menyalurkan bantuan vital ke berbagai wilayah terdampak, termasuk Kecamatan Tulakan dan Kebonagung. Di Dusun Crabak, Desa Jatigunung, Kecamatan Tulakan, pada Minggu sore, kedatangan mobil pengangkut air disambut dengan antusiasme yang campur aduk antara kelegaan dan keprihatinan.
Seorang warga Dusun Crabak mengungkapkan betapa parahnya situasi tahun ini. “Kekeringan tahun ini cukup parah. Setelah empat tahun tidak mengalami kekeringan seperti ini, tahun ini justru lebih parah dibandingkan empat tahun yang lalu,” ujarnya dengan nada getir. Sumber-sumber air yang selama ini menjadi andalan, seperti sumur-sumur warga, kini mengering dengan cepat. Upaya memperdalam sumur pun tak membuahkan hasil signifikan; debit air yang tersedia tetap tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini memaksa warga mencari cara lain, bahkan jika itu berarti pengorbanan lebih. Warga lainnya, Sugeng Hariyanto, mengungkapkan rasa syukurnya atas uluran tangan para relawan. “Kami bersyukur ada bantuan dari relawan. Saat ini bantuan seperti ini yang menjadi andalan warga. Kalau sedang punya uang, kami patungan untuk membeli air. Kalau tidak punya, terpaksa mengambil dari sumber lama yang jaraknya cukup jauh,” tutur Sugeng, menggambarkan dilema yang dihadapi sekitar 50 kepala keluarga di RT 01/RW 05 Dusun Crabak. Persediaan air yang ada di sana sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Fenomena El Nino, yang menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan ekstrem, menjadi pelajaran berharga tentang kerentanan kita terhadap perubahan iklim. Kondisi ini menuntut kesadaran kolektif akan pentingnya konservasi air, pengembangan sumber daya air yang berkelanjutan, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Lebih dari sekadar bantuan darurat, krisis air di Jatigunung ini adalah panggilan untuk memahami dan beradaptasi dengan realitas lingkungan yang berubah, serta mengedukasi diri tentang cara-cara mitigasi dampak perubahan iklim di masa depan. Perjuangan warga Jatigunung bukan hanya tentang mencari setetes air, melainkan tentang mempertahankan kehidupan di tengah tantangan alam yang semakin berat, mengajarkan kita tentang ketangguhan manusia dan kekuatan solidaritas.












