KlikMojok – Di tengah riuhnya perkembangan teknologi digital, sebuah harapan baru meruak bagi para penyandang disabilitas di Surabaya. Bukan sekadar akses, melainkan sebuah jembatan menuju kemandirian ekonomi. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, Gedung At-Ta’awun Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menjadi saksi bisu dimulainya sebuah inisiatif mulia: pelatihan konten kreator bertajuk “Inclusive Creative Class” yang digagas oleh Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, berkolaborasi dengan Adira Finance Syariah dan Umsura.
Langkah inklusif ini bukanlah tanpa dasar. Ia lahir dari sebuah riset mendalam, sebuah upaya untuk mendengar langsung aspirasi dari ratusan penyandang disabilitas. Hasil survei tersebut mengungkap sebuah tren menarik: kecenderungan minat yang kuat pada jenis pekerjaan digital di balik layar. Sebuah temuan yang mengubah paradigma tentang bagaimana potensi dapat dioptimalkan. Titi Asfiyah, Sekretaris Majelis Kesejahteraan Sosial PP ‘Aisyiyah, menjelaskan bahwa pilihan untuk fokus pada pelatihan konten kreator adalah jawaban konkret atas aspirasi ini, khususnya bagi disabilitas daksa, tuna rungu, tuna wicara, maupun tunanetra. “Setelah kami survei hasilnya, ternyata banyak dari sekian ratuslah ya, sekian ratus disabilitas yang kita wawancarai… mereka itu cenderung memilih pekerjaan di luar layar. Nah, apa pekerjaan digital di belakang layar yang bisa menghasilkan sesuatu? Nah, itu yang kita pilih, artinya ya itu ada konten kreator,” ujar Titi Asfiyah kala itu.
Pelatihan ini secara spesifik menargetkan anak muda usia produktif, antara 20 hingga 35 tahun, kelompok yang paling siap menyerap dan beradaptasi dengan dinamika dunia digital. Untuk membekali mereka, dua praktisi media dari Beritajatim.com, Haris Dwi Susanto dan Roesdan Suriansyah, hadir sebagai narasumber. Mereka membedah materi-materi krusial seperti “Mindset Kreator” dan “Peluang Ekonomi Digital,” membuka wawasan para peserta tentang bagaimana ruang maya bisa menjadi ladang penghasilan. Haris Dwi Susanto secara lugas menekankan bahwa di era digital, kesempatan terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa terkecuali, untuk membangun personal branding dan memasarkan produk berbasis nilai. “Banyak jalan menuju penghasilan sebagai kreator. Di era digital tidak menutup kemungkinan semua orang bisa menjadi kreator digital,” tuturnya di hadapan peserta yang antusias.
Namun, inisiatif ini tidak berhenti hanya pada pelatihan. Para penyelenggara menegaskan komitmen mereka untuk memberikan pendampingan lanjutan. Sebuah janji untuk tidak hanya membekali ilmu, tetapi juga mengawal perjalanan para peserta hingga mereka benar-benar mampu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Nantinya, peserta terpilih akan melalui proses seleksi untuk menerima dukungan fasilitas perangkat komunikasi, disalurkan ke perusahaan mitra yang relevan, bahkan didorong untuk menjadi wirausahawan sosial (social entrepreneur) yang mandiri dan berdaya. “Kami berharap kita akan menyeleksi peserta ini supaya dia punya kegiatan yang bisa menghasilkan uang, kasarannya menghasilkan uang untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” pungkas Titi, menggarisbawahi visi besar dari program ini.
Melalui “Inclusive Creative Class,” ‘Aisyiyah dan para mitranya tidak hanya menawarkan keterampilan baru, tetapi juga membuka jendela harapan dan kemandirian bagi penyandang disabilitas. Ini adalah sebuah cerminan bahwa inklusi sejati bukan hanya tentang penerimaan, melainkan tentang penciptaan kesempatan yang setara, memungkinkan setiap individu untuk merajut mimpinya sendiri di kanvas luas dunia digital. Sebuah langkah maju menuju masyarakat yang lebih adil dan berdaya, di mana setiap potensi dihargai dan setiap mimpi memiliki ruang untuk tumbuh.












