KlikMojok – Pada Rabu, 30 September 2026, dalam Webinar Series I Asosiasi Lesson Study Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (ALS PTMA), Dr. Nur Fauziyah, M.Pd., seorang pakar dari Divisi Pemberdayaan Sekolah Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI), memaparkan bahwa konsep Lesson Study jauh lebih luas daripada sekadar kegiatan guru membuka kelas untuk diamati. Ia mengidentifikasi setidaknya 10 bentuk inovatif penerapan Lesson Study yang dapat menjadi pendorong signifikan bagi pengembangan sekolah dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Lesson Study, yang sering kali hanya dipahami sebagai praktik “open class” diikuti refleksi, sebenarnya memiliki cakupan aplikasi yang sangat beragam. Penerapannya dapat meliputi supervisi guru, pengembangan calon guru, optimalisasi kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG), kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi, pengembangan pendidikan di tingkat wilayah, hingga kerja sama lintas negara.
Penjelasan mendalam mengenai potensi Lesson Study ini disampaikan oleh Dr. Nur Fauziyah, yang juga menjabat sebagai Sekretaris ALS PTMA. Webinar yang bertajuk “Lesson Study Movement: Connecting Teachers, Transforming Classrooms, Inspiring Schools” tersebut secara spesifik mengulas materi berjudul “Beragam Bentuk Lesson Study untuk Pengembangan Sekolah dan Wilayah”.
Dalam presentasinya, Nur Fauziyah merinci sepuluh bentuk implementasi Lesson Study yang dapat diterapkan. Bentuk-bentuk tersebut meliputi: Lesson Study sebagai alat supervisi guru, Teacher Laboratory Conference (TLC), pengembangan calon guru, penugasan dosen di sekolah, penguatan MGMP dan KKG, pengembangan berbasis wilayah, Lesson Study dalam Komunitas Belajar (LSLC) pada program zonasi, kolaborasi MGMP–sekolah–kampus, penerapan di daerah terpencil, serta Lesson Study lintas negara.
Salah satu bentuk Lesson Study yang dibahas adalah sebagai pendekatan dalam supervisi guru. Dalam konteks ini, supervisi tidak lagi berorientasi pada penilaian guru atau pemeriksaan kelengkapan administrasi semata. Nur Fauziyah menegaskan, “Guru ditempatkan sebagai pembelajar profesional, sementara supervisor bergeser dari sekadar penilai menjadi fasilitator. Diskusi pun bertumpu pada bukti hasil observasi kelas dan diarahkan untuk membangun komunitas belajar profesional.” Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan lingkungan belajar yang suportif bagi para pengajar.
Praktik Lesson Study sebagai supervisi telah berhasil dikembangkan di SD Muhammadiyah Manyar Gresik melalui program Teacher Working Group. Program ini menyediakan wadah bagi guru untuk saling berbagi pengalaman mengajar, mulai dari tahap desain pembelajaran (lesson design), pelaksanaan kelas terbuka (open class), hingga sesi refleksi, dan perbaikan desain jika diperlukan.
Bentuk Lesson Study lainnya adalah Teacher Laboratory Conference (TLC). Dalam TLC, kelas berfungsi sebagai laboratorium tempat guru menguji rancangan pembelajaran secara langsung, mengikuti siklus “plan–do–see”. Siklus ini memungkinkan guru untuk merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan proses belajar mengajar secara sistematis.
Di SD Muhammadiyah Manyar, proses TLC diawali dengan pembentukan komunitas belajar berdasarkan mata pelajaran. Guru-guru bersama-sama menentukan topik, menyusun rancangan pembelajaran, menerima masukan dari pakar atau dosen, melakukan revisi rancangan, kemudian melaksanakan open class, dan ditutup dengan sesi refleksi. Dalam kegiatan ini, guru dapat bergiliran berperan sebagai guru model maupun pengamat. Kepala sekolah dan fasilitator turut mendampingi sesi refleksi, memastikan bahwa diskusi tidak hanya berhenti pada kesan umum, melainkan fokus pada analisis mendalam terhadap apa yang benar-benar terjadi selama siswa belajar.
Nur Fauziyah juga menyoroti potensi Lesson Study dalam pendidikan calon guru, termasuk mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Melalui Lesson Study, mahasiswa tidak hanya belajar menyusun perangkat pembelajaran, tetapi juga terlibat aktif dalam merancang pembelajaran, mengamati respons siswa saat belajar, dan kemudian mendiskusikan hasilnya bersama guru pamong serta dosen pembimbing.
Dalam kolaborasi ini, guru pamong berperan membawa pengalaman praktis mengenai kondisi siswa dan budaya sekolah, sementara dosen membantu mengaitkan praktik di kelas dengan kerangka teori dan hasil penelitian yang relevan. Sinergi ini memperkaya pemahaman calon guru tentang teori dan praktik pendidikan.
Kerja sama serupa juga dapat terwujud melalui skema penugasan dosen di sekolah. Pada tahap perencanaan (plan), guru dan dosen berdiskusi bersama untuk mengidentifikasi kebutuhan kelas. Selama tahap pelaksanaan (do), pembelajaran diamati secara kolaboratif. Selanjutnya, tahap refleksi (see) dimanfaatkan untuk membahas secara detail kejadian-kejadian nyata selama proses belajar mengajar.
Nur Fauziyah menambahkan bahwa “Proses tersebut bahkan berpotensi menghasilkan artikel ilmiah, prosiding, maupun bahan ajar,” menunjukkan dampak ganda dari kolaborasi ini yang tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran tetapi juga memicu produktivitas akademik.
Lesson Study juga efektif diterapkan dalam kegiatan MGMP dan KKG. Topik yang dibahas tidak harus selalu berasal dari agenda rutin, melainkan dapat dipilih berdasarkan kebutuhan belajar siswa yang spesifik.
Praktik open class dapat dilakukan secara bergiliran antar-sekolah, memungkinkan pertukaran pengalaman yang lebih luas. Hasil refleksi dan perangkat pembelajaran yang telah disempurnakan kemudian dapat dibagikan kepada guru-guru lain. Melalui pola ini, Nur Fauziyah menyatakan, “Dengan pola ini, MGMP atau KKG diarahkan bergerak dari sekadar forum administratif menjadi komunitas pembelajar.”
Penerapan Lesson Study pernah dilakukan secara khusus di Pulau Bawean, Gresik. Kondisi geografis yang unik dan berbeda menuntut pendekatan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik guru-guru di lapangan.
Di Bawean, guru-guru dari berbagai bidang bekerja sama menyusun pembelajaran tematik-integratif. Pendampingan yang diberikan mencakup aspek kurikulum, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga penggunaan media teknologi. Pengalaman di Bawean membuktikan bahwa kendala jarak dan keterbatasan akses pelatihan bukanlah penghalang otomatis bagi pengembangan pembelajaran. Dukungan dari dosen, komunitas guru, dan pihak sekolah menjadi faktor krusial agar kegiatan pengembangan tidak terhenti setelah satu program selesai.
Kolaborasi Lesson Study bahkan telah mencapai lingkup internasional, seperti yang terjadi di SD Muhammadiyah Manyar Gresik dengan melibatkan praktisi pendidikan dari Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia.
Salah satu kelas yang diamati dalam kolaborasi lintas negara ini adalah pembelajaran matematika tentang pengukuran. Siswa diberi tantangan untuk menggunakan penggaris dengan titik awal bukan dari angka nol, melainkan dari angka satu. Masalah yang tampak sederhana ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, tidak hanya sekadar membaca angka pada penggaris, tetapi juga harus menerapkan strategi penjumlahan atau pengurangan untuk mendapatkan hasil pengukuran yang tepat.
Setelah pembelajaran selesai, guru-guru dari Indonesia dan peserta dari Malaysia berdiskusi intensif mengenai respons siswa, proses berpikir yang muncul selama aktivitas, serta kegiatan-kegiatan yang dapat lebih lanjut mendorong kolaborasi dan pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
Nur Fauziyah menekankan bahwa keberhasilan Lesson Study tidak dapat diukur hanya dari banyaknya open class yang dilaksanakan. Indikator yang lebih krusial adalah adanya perubahan nyata dalam cara guru mengajar, tingkat keterlibatan siswa selama proses pembelajaran, dan keberlanjutan proses belajar dalam komunitas guru setelah kegiatan formal selesai.
Dokumentasi yang baik, seperti desain pembelajaran yang telah direvisi, catatan hasil refleksi, dan kumpulan praktik baik, merupakan aset penting yang dapat digunakan kembali oleh guru lain atau dibagikan kepada sekolah dan perguruan tinggi. Selain itu, peran kepala sekolah juga sangat vital. Guru membutuhkan alokasi waktu untuk berdiskusi, kesempatan untuk membuka kelas, dan lingkungan yang menciptakan rasa aman sehingga mereka tidak merasa takut saat pembelajarannya diamati.
Mengenai hal ini, Nur Fauziyah menyinggung pentingnya “psychological safety”. Ia menjelaskan, “Guru perlu merasa aman untuk mencoba, gagal, menerima masukan, lalu memperbaiki pembelajarannya tanpa merasa sedang dihakimi.” Lingkungan yang mendukung ini krusial untuk inovasi dan perbaikan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Lesson Study bukanlah tentang siapa guru yang sedang diamati, melainkan berpusat pada siswa: apa yang mereka lakukan, kapan mereka mulai memahami konsep, di bagian mana mereka mengalami kesulitan, dan langkah-langkah apa yang perlu diperbaiki agar pembelajaran berikutnya menjadi lebih efektif dan relevan.
Dari fokus pada siswa inilah Lesson Study dapat berkembang. Bermula dari satu kelas, praktik ini dapat bertransformasi menjadi kebiasaan belajar bersama di seluruh sekolah, diperluas ke komunitas guru, bahkan melibatkan institusi pendidikan tinggi dan mitra dari berbagai negara, menciptakan ekosistem pembelajaran yang dinamis dan inovatif.












