KlikMojok – Tangis pilu pecah di Masjid Jami Baitut Taqwa, Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, pada Selasa (29/9/2026) siang, saat jenazah Tihwin Nuryanto (43) tiba di kampung halaman. Sosok yang dikenal pendiam namun periang dan aktif di desa ini adalah salah satu korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, sebuah peristiwa yang tak hanya merenggut nyawanya, tetapi juga meninggalkan duka mendalam dan pertanyaan besar tentang masa depan pendidikan empat putrinya.
Sekitar pukul 11.30 WIB, jasad Tihwin tiba, diselimuti keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya disalatkan. Setelah itu, ia diantar ke peristirahatan terakhirnya di pemakaman Dusun Seweru, Desa Kare. Di sana, Tihwin dimakamkan berdampingan dengan sang kakak, Taruno Hidayat, yang tiga hari sebelumnya, pada Sabtu (26/9/2026), juga telah dimakamkan di tempat yang sama setelah menjadi korban dalam kecelakaan laut yang serupa. Kepergian dua bersaudara ini menjadi pukulan telak bagi keluarga yang ditinggalkan, menyisakan lubang menganga dalam kehidupan mereka.
Darsianto, paman Tihwin sekaligus Ketua RW setempat, mengenang almarhum sebagai pribadi yang penuh tanggung jawab, baik hati, dan selalu berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. “Almarhum sehari-hari usahanya di bidang dekorasi. Ke Kalimantan kemarin hanya mengantarkan kakaknya, Mas Taruno, untuk kirim sayur,” ujar Darsianto, menggambarkan betapa tak terduganya takdir yang menjemput Tihwin saat ia hanya berniat membantu saudaranya. Ia menambahkan, “Orangnya pendiam tapi periang. Beliau juga sangat aktif dalam kegiatan pemuda maupun kegiatan sosial di desa.” Gambaran ini melukiskan sosok Tihwin sebagai tiang penyangga dalam keluarga dan komunitasnya, yang kini harus menghadapi kekosongan yang tak tergantikan.
Namun, di balik kisah duka ini, tersimpan sebuah tantangan besar yang menguji ketahanan keluarga: nasib empat anak perempuan Tihwin. Mereka semua masih menempuh jenjang pendidikan yang berbeda, mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Menengah Pertama atau Madrasah Tsanawiyah, hingga bangku perguruan tinggi. Kehilangan ayah sekaligus tulang punggung keluarga tentu saja berdampak langsung pada kelangsungan pendidikan mereka, yang membutuhkan biaya dan perhatian berkelanjutan.
Situasi ini memicu harapan keluarga agar pemerintah dan pihak-pihak terkait tidak hanya berhenti pada penanganan korban. Mereka sangat berharap ada uluran tangan dan bantuan yang terus-menerus, khususnya untuk menjamin kelangsungan masa depan anak-anak yang ditinggalkan. “Harapan kami bantuan tidak hanya berhenti pada korban, tetapi juga untuk keluarga yang ditinggalkan. Terutama untuk pendidikan anak-anaknya yang masih sekolah dari TK sampai kuliah,” kata Darsianto dengan nada penuh harap. Ia menegaskan, “Mereka sangat membutuhkan perhatian dan bantuan dari pihak terkait.”
Kisah Tihwin Nuryanto bukan sekadar catatan tentang sebuah tragedi, melainkan cerminan dari perjuangan keluarga yang ditinggalkan untuk bangkit dan memastikan bahwa impian serta masa depan anak-anaknya tidak ikut tenggelam bersama ombak Masalembo. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk melihat lebih jauh dari sekadar berita, merenungkan dampak jangka panjang, dan bersama-sama mengulurkan tangan demi menjamin bahwa setiap anak berhak atas kesempatan pendidikan yang layak, terlepas dari badai kehidupan yang menerpa.












