KlikMojok – Di bawah langit Mojokerto yang sendu, asap tebal membumbung tinggi, menjadi siluet kelabu di atas Pabrik Gula (PG) Gempolkrep. Bukan karena cerobong asap yang mengepulkan uap rutin, melainkan dari kobaran api yang melahap tumpukan ampas tebu di area lahan terbuka pabrik. Namun, di tengah pemandangan dramatis ini, denyut produksi gula tak berhenti. Mesin-mesin penggilingan tetap bekerja, seolah menolak tunduk pada api yang berkobar di sisi barat mereka.
Kebakaran tumpukan ampas tebu ini terjadi di area PMN PG Gempolkrep, Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, pada Sabtu (26/9/2026). Meskipun visualnya mengkhawatirkan, Humas PG Gempolkrep, Taufan Pamungkas, menegaskan bahwa insiden ini tidak sampai menghentikan aktivitas penggilingan. “Proses produksi tidak berhenti karena tidak mengganggu proses produksi,” ungkapnya, memberikan ketenangan di tengah situasi yang menegang.
Lokasi api berada di dalam emplasemen pabrik, namun terpisah dari zona inti produksi. Ini adalah lahan terbuka, bukan gudang penyimpanan tertutup, yang menjadi titik vital. Diperkirakan, luas area tumpukan ampas yang terbakar mencapai sekitar satu hektare, sebuah hamparan yang cukup luas untuk menimbulkan kekhawatiran serius jika tidak ditangani dengan cepat. Untuk merespons insiden ini, sekitar lima hingga enam unit pemadam kebakaran dikerahkan dari berbagai unsur, termasuk Damkar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Damkar Kota Mojokerto, serta bantuan dari sejumlah perusahaan di sekitar lokasi, bekerja keras memastikan api tidak merembet dan mengancam fasilitas lain.
Lantas, mengapa ampas tebu sebanyak itu ditempatkan di area terbuka hingga rentan terbakar? Penjelasan Taufan Pamungkas menyingkap sebuah dilema industri: surplus produksi. Musim giling tahun ini, PG Gempolkrep mengalami kelebihan produksi ampas tebu yang signifikan, melebihi kapasitas gudang penyimpanan yang tersedia. Ampas tebu, yang merupakan limbah padat dari proses penggilingan, sejatinya memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai bahan bakar biomassa atau bahan baku lainnya. “Gudang-gudang ampas kita sudah penuh,” jelasnya, menggambarkan tantangan manajemen limbah yang tak terduga.
Meski sebagian telah dilalap api, ampas tebu yang ditempatkan di area terbuka tersebut sejatinya masih memiliki rencana pemanfaatan. “Ampas yang ditempatkan di area terbuka dan terbakar tersebut rencananya tetap dimanfaatkan pada akhir musim giling untuk kebutuhan afwerken atau finishing,” pungkas Taufan. Ia menambahkan, proses giling diperkirakan akan berakhir pada akhir Oktober hingga awal November. Insiden kebakaran ini bukan hanya sekadar berita tentang api, melainkan cerminan dari kompleksitas manajemen sumber daya dan ketahanan operasional sebuah industri besar, bahkan ketika dihadapkan pada berkah surplus yang juga membawa tantangan logistik yang tak terduga.












