Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Membaca Peluang dan Menunaikan Amanah: Sorotan Kajian Safari Dakwah PRM-PRA Pepelegi

badge-check

Membaca Peluang dan Menunaikan Amanah: Sorotan Kajian Safari Dakwah PRM-PRA Pepelegi Perbesar

KlikMojok – Pada hari Ahad, 20 September 2026, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Pepelegi menggelar Safari Dakwah di Masjid Ar Rahmah Pepelegi. Kajian ini secara khusus membahas mengenai pentingnya amanah, sebuah konsep yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam konteks ini, amanah haruslah diserahkan kepada individu yang memiliki ilmu, kemampuan, serta integritas yang mumpuni untuk melaksanakannya.

Acara Safari Dakwah yang diselenggarakan oleh PRM dan PRA Pepelegi tersebut berhasil menarik perhatian jamaah di Masjid Ar Rahmah. Sebagai narasumber utama, hadir Ustaz Ahmad Jufri Ubaid, S.Ag., yang membawakan kajian dengan tema krusial: “Serahkan Amanah kepada Ahlinya.”

Ustaz Jufri memulai sesinya dengan mengajak para jamaah untuk merenungi kembali firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 58. Ayat ini secara spesifik menekankan kewajiban umat Muslim untuk menunaikan setiap amanah kepada pihak yang berhak, serta untuk senantiasa menetapkan segala sesuatu dengan prinsip keadilan.

Beliau menjelaskan bahwa menerima suatu amanah tidaklah cukup hanya dengan sekadar ucapan lisan. Lebih dari itu, penerimaan amanah haruslah disertai dengan tanggung jawab yang besar, kapasitas yang memadai, dan kesungguhan hati dalam melaksanakannya.

Untuk mengilustrasikan poin-poin tersebut, Ustaz Jufri membagikan sebuah kisah inspiratif tentang Mak Nah, seorang wanita berusia sekitar 80 tahun. Meskipun usianya sudah lanjut, Mak Nah tetap menunjukkan semangat luar biasa dalam belajar membaca Al-Qur’an.

“Mak Nah ini usianya sudah 80 tahun. Baru belajar membaca Al-Qur’an. Karena usia, memang proses tahsinnya tidak mudah. Materi yang sudah dipelajari dengan susah payah kadang mudah lupa kembali,” ujarnya, menggambarkan tantangan yang dihadapi Mak Nah.

Dari kisah Mak Nah ini, jamaah diajak untuk memahami bahwa semangat belajar seharusnya tidak mengenal batasan usia. Ustaz Jufri kemudian mengaitkannya dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5, yang diawali dengan perintah “iqra” atau “bacalah”. Menurutnya, ayat ini menyampaikan pesan fundamental bahwa belajar adalah komponen esensial dalam perjalanan hidup setiap individu.

“Surah Al-Alaq memberikan inspirasi kepada kita bahwa kita harus sering membaca, termasuk membaca peluang,” ungkapnya, memperluas makna perintah membaca.

Beliau juga mengingatkan bahwa manusia seringkali terlalu fokus mencari metode belajar yang dianggap paling mudah. Padahal, metode hanyalah sebuah sarana atau perantara. “Metode itu hanya wasilah. Yang memberikan kemudahan sebenarnya Allah SWT,” katanya, menekankan peran Ilahi dalam proses belajar.

Pesan mengenai “iqra” atau membaca kemudian diperluas oleh Ustaz Jufri. Menurutnya, makna membaca tidak hanya terbatas pada kemampuan menafsirkan teks. Lebih jauh, seorang Muslim juga dituntut untuk mampu membaca dan memahami keadaan sekitar, melihat peluang, merasakan perubahan zaman, bahkan hingga membaca dan memahami diri sendiri.

Ustaz Jufri mengaitkan perluasan makna membaca ini dengan Surat Al-Alaq, menjelaskan bahwa perintah membaca tidaklah berdiri sendiri. Terdapat pesan penting untuk membaca “dengan nama Tuhanmu,” yang mengindikasikan bahwa setiap aktivitas membaca tidak boleh terlepas dari nilai-nilai ketuhanan.

“Jangan membaca dengan hawa nafsu. Kita membaca dengan nama Tuhanmu,” jelasnya, menegaskan pentingnya landasan spiritual dalam setiap pemahaman.

Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, Ustaz Jufri memberikan ilustrasi dari ranah dunia bisnis. Ia menjelaskan bahwa meskipun suatu produk telah mendominasi pasar, selalu terbuka kesempatan bagi pihak lain yang jeli dalam membaca kebutuhan konsumen dan mampu menghadirkan diferensiasi atau keunikan pada produk mereka.

“Indomie dulu menguasai dunia. Tetapi ada orang yang membaca peluang, mencontoh, lalu memberikan sedikit diferensiasi. Muncullah Mie Sedaap yang kemudian menjadi kompetitor yang tidak bisa diremehkan,” ungkapnya, mencontohkan persaingan di pasar mi instan.

Bagi Ustaz Jufri, kemampuan untuk membaca peluang seperti yang dijelaskan tadi merupakan bagian integral dari pengamalan semangat “iqra.” Akan tetapi, ia menekankan bahwa aktivitas membaca peluang ini harus senantiasa berada dalam koridor nilai-nilai dan petunjuk yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Dalam sesi kajiannya, Ustaz Jufri juga mengajak para jamaah untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri melalui pesan-pesan dari Surat Al-Qalam. Beliau menjelaskan bahwa pena dan tulisan bukanlah sekadar objek fisik atau kegiatan administratif biasa. Setiap hal yang ditulis memiliki konsekuensi yang mendalam. Oleh karena itu, setiap individu wajib memahami betul apa yang ia tuliskan dan apa yang ia sepakati.

Sebagai contoh sederhana, Ustaz Jufri mengambil ilustrasi dari kehidupan organisasi Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang telah membubuhkan tanda tangan pada sebuah dokumen yang menyatakan penerimaan amanah atas nama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pepelegi, maka amanah tersebut secara otomatis bukan lagi menjadi milik pribadi individu tersebut.

“Kalau sudah menulis dan tanda tangan menerima amanah atas nama PRM Pepelegi, maka amanah itu harus dikembalikan kepada PRM Pepelegi, kepada Persyarikatan Muhammadiyah,” tegasnya, menyoroti prinsip akuntabilitas organisasi.

Pesan ini sangat relevan diterapkan dalam konteks kehidupan berorganisasi. Jabatan maupun amanah tidak seharusnya dipandang sebagai ruang untuk mengejar kepentingan pribadi, melainkan sebagai sebuah sarana mulia untuk menghadirkan kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi seluruh umat.

Pembahasan dalam kajian tersebut kemudian bergeser ke persoalan krusial mengenai kepemimpinan. Ustaz Jufri mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat banyak pelajaran berharga tentang betapa pentingnya menyerahkan amanah kepemimpinan kepada individu yang benar-benar memiliki kapasitas dan kualifikasi yang dibutuhkan.

Beliau mencontohkan kisah kepemimpinan pada era Bani Umayyah, khususnya yang berkaitan dengan figur Yazid. Menurut Ustaz Jufri, persoalan kepemimpinan tidak hanya terbatas pada kedudukan atau posisi semata, melainkan juga melibatkan kapasitas, integritas pribadi, dan kemampuan untuk memberikan keteladanan yang baik.

Ustaz Jufri juga mengingatkan jamaah akan sebuah doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu permohonan perlindungan dari kepemimpinan yang buruk. Doa ini mencakup perlindungan dari pemimpin yang cenderung bersikap kekanak-kanakan dan tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk memimpin.

Pesan penting ini kemudian ditarik relevansinya pada realitas kehidupan saat ini, menegaskan bahwa amanah wajib diserahkan kepada ahlinya. Hal ini berarti amanah tidak boleh diberikan hanya kepada orang yang bersedia, memiliki kedekatan personal, atau sekadar populer, melainkan kepada mereka yang secara nyata memiliki kemampuan serta kesanggupan untuk menjalankan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Dalam kajiannya, Ustaz Jufri turut menyebut Burkina Faso, sebuah negara di Afrika Barat, sebagai ilustrasi nyata tentang bagaimana kualitas kepemimpinan dapat secara signifikan memengaruhi arah dan masa depan suatu bangsa. Beliau menyinggung figur Ibrahim Traoré sebagai contoh pemimpin muda yang, menurut pandangannya, merepresentasikan pentingnya keberanian, kapasitas, dan integritas yang kuat dalam sebuah kepemimpinan.

Dari serangkaian contoh dan ilustrasi yang disampaikan, para jamaah diajak untuk menyadari bahwa perubahan sejati tidak akan lahir hanya karena seseorang menduduki sebuah jabatan. Perubahan yang berkelanjutan justru membutuhkan individu-individu yang tidak hanya memiliki kapasitas yang mumpuni, tetapi juga memegang teguh nilai-nilai moral dan spiritual yang kuat.

Pada bagian penutup kajian, Ustaz Jufri kembali mengingatkan betapa vitalnya upaya menjaga tradisi keilmuan. Beliau mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa ilmu tidak akan dicabut begitu saja dari manusia, melainkan akan diangkat seiring dengan wafatnya para ulama.

Pesan yang disampaikannya terdengar sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam. “Jangan sampai sebuah generasi kehilangan ilmu karena tidak menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan ilmu tersebut,” pesannya, menekankan pentingnya regenerasi keilmuan.

Oleh karena itu, aktivitas seperti belajar, membaca, mengembangkan kapasitas diri, dan menyiapkan kader-kader penerus bukan hanya sekadar kebutuhan individual. Lebih dari itu, semua upaya tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari ikhtiar besar untuk menjaga keberlangsungan dan kelangsungan dakwah.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Lambaian Terakhir Sang Guru: Kepulangan Taruno Hidayat dan Luka Menganga di Kare Madiun

26 Sep 2026 - 15:20 WIB

Lambaian Terakhir Sang Guru: Kepulangan Taruno Hidayat dan Luka Menganga di Kare Madiun

Ketika Aliran Air Bercerita: PT SIER dan Komitmen Lingkungan di Tengah Dugaan Limbah Industri

26 Sep 2026 - 15:20 WIB

Ketika Aliran Air Bercerita: PT SIER dan Komitmen Lingkungan di Tengah Dugaan Limbah Industri

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Warisan Budaya dan Gagasan Identitas Bangsa Tetap Relevan

26 Sep 2026 - 15:18 WIB

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Warisan Budaya dan Gagasan Identitas Bangsa Tetap Relevan

Salim A. Fillah Ungkap Kunci Bahagia Sejati: Istiqomah di Tengah Dinamika Perubahan Zaman

26 Sep 2026 - 15:18 WIB

Salim A. Fillah Ungkap Kunci Bahagia Sejati: Istiqomah di Tengah Dinamika Perubahan Zaman

Jalur Aman, Petugas Terdidik: Kisah KAI Daop 7 Membangun Fondasi Keselamatan Perjalanan Kereta Api

25 Sep 2026 - 09:45 WIB

Jalur Aman, Petugas Terdidik: Kisah KAI Daop 7 Membangun Fondasi Keselamatan Perjalanan Kereta Api
Trending di Pendidikan