KlikMojok – Pada Kamis, 24 September 2026, Kabupaten Bondowoso diselimuti aura ketegangan. Bukan karena peristiwa besar yang mengguncang, melainkan dari ancaman tak terlihat namun mematikan: api. Dalam rentang waktu satu hari, tiga titik kebakaran lahan membakar wilayah ini, memaksa petugas pemadam kebakaran berjibaku tanpa henti. Salah satu insiden bahkan nyaris merenggut harta benda warga, memberikan peringatan keras akan bahaya kelalaian.
Pagi itu, sekitar pukul 10.18 WIB, laporan pertama masuk ke posko Damkar Satpol PP Kabupaten Bondowoso. Sebuah panggilan darurat dari Desa Sumber Canting, Kecamatan Botolinggo, mengabarkan bahwa api yang semula membakar lahan kini merembet ke kandang sapi milik Mahyani. Sebuah skenario mengerikan yang untungnya berhasil dihindari berkat kesigapan warga. Ternak sapi di dalamnya berhasil diselamatkan tepat waktu sebelum kobaran api melahap habis tempat bernaungnya.
“Api berasal dari pembakaran lahan kemudian merembet ke kandang milik Ibu Mahyani. Alhamdulillah keadaan ternak sapi bisa diselamatkan,” ujar Kabid Damkar pada Satpol PP Kabupaten Bondowoso, Vara Tedy, dengan nada lega. Insiden ini, meski tidak menimbulkan korban jiwa, tetap menyisakan kerugian material yang tidak sedikit. Diperkirakan, kerugian mencapai sekitar Rp5 juta akibat kerusakan yang ditimbulkan. “Kerugiannya sekitar Rp5 juta. Untuk korban jiwa nihil,” tambah Tedy.
Perjalanan menuju lokasi kebakaran di Sumber Canting bukanlah perkara mudah. Medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi armada Damkar. Mereka baru bisa tiba sekitar pukul 11.00 WIB, hampir satu jam setelah laporan diterima. Namun, semangat kolaborasi tak pernah padam. Petugas Damkar segera bergabung dengan unsur Koramil Botolinggo, Polsek Botolinggo, perangkat desa, dan warga sekitar. Bersama-sama, mereka berjibaku melawan amukan si jago merah. Setelah perjuangan yang memakan waktu kurang lebih dua jam, api akhirnya berhasil dipadamkan, menyisakan jejak arang dan kepulan asap tipis.
Namun, ketenangan tak bertahan lama. Belum genap penanganan di Botolinggo selesai, sekitar pukul 13.00 WIB, laporan kebakaran lahan kedua kembali diterima. Kali ini, api membakar rumpun bambu di bantaran sungai, tepat di seberang gedung DPRD Bondowoso. Tanpa menunda, petugas Damkar langsung bergerak cepat menuju lokasi. Dalam waktu sekitar 40 menit, kobaran api berhasil dikendalikan, menunjukkan efektivitas respons cepat mereka.
Seakan belum cukup, rentetan kejadian ini ditutup dengan laporan ketiga. Api kembali membakar lahan bambu, kali ini di kawasan Koncer Darul Aman. Tim Damkar yang tak kenal lelah kembali dikerahkan. “Di Koncer Darul Aman, kebakaran lahan bambu juga. Kami bergerak ke sana dan melakukan pemadaman sekitar satu jam 20 menit,” terang Tedy, menggambarkan intensitas kerja timnya.
Dalam penanganan di Desa Sumber Canting, Damkar mengerahkan kendaraan Water Supply, Carcentro, dan Rescue, memastikan setiap sudut area yang terbakar aman dari potensi api kembali menyala sebelum mereka meninggalkan lokasi. Rentetan kejadian ini menjadi cerminan betapa gentingnya situasi di musim kering, di mana kelalaian kecil dapat memicu bencana besar.
Petugas Damkar Bondowoso harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya sepanjang hari itu, sebuah pengingat akan risiko yang selalu mengintai. Vara Tedy tak henti-hentinya mengingatkan masyarakat akan pentingnya kehati-hatian saat melakukan pembakaran lahan. Api, sekecil apa pun, dapat dengan cepat merembet ke vegetasi kering maupun bangunan di sekitarnya, sebagaimana yang terjadi di Desa Sumber Canting. “Kalau melakukan pembakaran lahan harus benar-benar diperhatikan dan jangan ditinggalkan sebelum apinya benar-benar padam,” pungkasnya, sebuah pesan edukasi yang mendalam tentang tanggung jawab kolektif menjaga lingkungan dan keselamatan bersama dari ancaman bara yang melahap.












