Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Pendekatan Komprehensif SMK PGRI Donorojo: Budaya Religius Antar Pacitan ke SRC Jatim 2026

badge-check

Pendekatan Komprehensif SMK PGRI Donorojo: Budaya Religius Antar Pacitan ke SRC Jatim 2026 Perbesar

KlikMojok – Budaya religius di lingkungan sekolah tidak hanya terbatas pada kegiatan ibadah formal. Lebih dari itu, budaya ini tumbuh dan berkembang melalui kebiasaan sehari-hari, lingkungan yang mendukung, keteladanan dari seluruh warga sekolah, dan keterlibatan aktif dari semua pihak.

Prinsip inilah yang secara konsisten dibangun oleh SMK PGRI Donorojo melalui program unggulannya, School Religious Culture (SRC). Implementasi program ini telah mengantarkan sekolah tersebut menjadi perwakilan Kabupaten Pacitan dalam kompetisi bergengsi SRC tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2026.

Sebelum melaju ke tahap provinsi, SMK PGRI Donorojo terlebih dahulu menjalani proses visitasi oleh tim Pendidikan Agama Islam (PAIS) dari Kementerian Agama Kabupaten Pacitan. Visitasi ini, yang juga melibatkan pengawas PAI, dilaksanakan pada tanggal 14 September 2026.

Naufal Hafidh, seorang Guru PAI di SMK PGRI Donorojo, menjelaskan bahwa SRC Jatim merupakan inisiatif program yang dicetuskan oleh Kementerian Agama Jawa Timur. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengevaluasi dan melihat sejauh mana penerapan budaya religius di berbagai institusi pendidikan.

“Program ini melihat sejauh mana terlaksananya budaya religius di sekolah, baik di sekolah umum maupun sekolah berbasis keagamaan,” ujar Naufal dalam wawancaranya pada Kamis, 24 September 2026.

Lebih lanjut, Naufal mengemukakan bahwa program SRC ini juga menjadi kesempatan berharga bagi pihak sekolah untuk memastikan bahwa kebutuhan pendidikan keagamaan peserta didik tetap terpenuhi dan mendapatkan porsi yang memadai di tengah padatnya kurikulum pendidikan vokasi.

Di SMK PGRI Donorojo, penguatan budaya religius ditumbuhkan melalui serangkaian kebiasaan rutin yang dilaksanakan setiap hari. Aktivitas ini mencakup apel pagi, doa bersama sebelum memulai proses pembelajaran, pelaksanaan salat duha, salat zuhur berjamaah, hingga salat Jumat yang diikuti oleh seluruh warga sekolah.

Selain itu, setiap hari Kamis pada jam pembelajaran terakhir, para peserta didik mengikuti program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ). Sementara itu, hari Jumat diisi dengan program khusus yang disebut Vokasi Pesantren.

Kedua program tersebut, BTQ dan Vokasi Pesantren, memiliki tujuan utama untuk memperkuat kompetensi keagamaan para peserta didik. Program BTQ secara spesifik berfokus pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an.

Di sisi lain, program Vokasi Pesantren dirancang untuk memberikan penguatan materi fikih. Dengan adanya inisiatif ini, pendidikan keagamaan terintegrasi secara menyeluruh dalam rutinitas harian peserta didik di sekolah.

“Tujuan program Baca Tulis Al-Qur’an dan Vokasi Pesantren adalah memenuhi kebutuhan pendidikan agama peserta didik, khususnya di bidang Baca Tulis Al-Qur’an dan juga fikih,” jelas Naufal.

Bagi pihak sekolah, pembiasaan dalam praktik keagamaan menjadi sangat krusial karena pembentukan karakter tidak cukup hanya mengandalkan materi teoritis. Nilai-nilai luhur yang diajarkan perlu diwujudkan dan mendapatkan ruang implementasi dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Selama kegiatan visitasi SRC Jatim, tim PAIS Kemenag Pacitan bersama pengawas PAI juga memberikan pembinaan kepada pihak sekolah. Salah satu poin penekanan utama dalam pembinaan tersebut adalah pentingnya keterlibatan seluruh elemen warga sekolah dalam upaya membangun budaya religius yang kuat.

Naufal menegaskan bahwa tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan religius tidak seharusnya hanya dibebankan kepada guru PAI semata. Ia menekankan bahwa seluruh pendidik dan peserta didik perlu berpartisipasi aktif dalam menciptakan atmosfer sekolah yang kondusif bagi pengembangan budaya keagamaan.

“Bagaimana semua pendidik dan peserta didik bergotong royong untuk membangun budaya religius yang ada di sekolah,” terangnya.

Upaya penguatan budaya religius ini juga terlihat dari penataan fasilitas fisik sekolah. SMK PGRI Donorojo telah menyiapkan ruang belajar yang dilengkapi dengan poster atau kutipan-kutipan bertema Pendidikan Agama Islam (PAI).

Selain itu, sekolah juga menyediakan ruang UKS yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Kebersihan, kerapian, kesehatan, dan sanitasi masjid sekolah juga senantiasa dijaga. Toilet untuk laki-laki dan perempuan pun dipisahkan. Sekolah juga memiliki ruang khusus untuk kegiatan ekstrakurikuler dan laboratorium PAI.

Berbagai fasilitas pendukung ini berperan penting dalam menunjang terlaksananya kegiatan pendidikan keagamaan di lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa budaya religius tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran di kelas, tetapi juga didukung oleh infrastruktur yang memadai.

Kepala SMK PGRI Donorojo, Jemi Darmawan, S.Sos.I., bersama para guru dan peserta didik, secara aktif menjadi bagian integral dari pelaksanaan budaya sekolah tersebut. Dari kalangan siswa, Wisananny Isma Faiza tercatat sebagai koordinator Rohis SMK PGRI Donorojo, menunjukkan keterlibatan siswa dalam kepemimpinan keagamaan.

Pada akhirnya, keikutsertaan dalam ajang SRC Jatim bukan semata-mata tentang mengejar sebuah penghargaan. Bagi SMK PGRI Donorojo, proses ini menjadi momentum berharga untuk melakukan evaluasi dan refleksi mendalam terhadap implementasi budaya religius di sekolah.

Pendidikan agama, pembiasaan positif, pembentukan karakter, penyediaan fasilitas yang memadai, dan keterlibatan seluruh warga sekolah merupakan elemen-elemen penting yang berjalan sinergis dalam proses ini. Semua unsur tersebut berkolaborasi untuk membentuk lingkungan pendidikan yang semakin religius dan berkarakter.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Bara Mengancam: Seharian Penuh Petugas Damkar Bondowoso Melawan Tiga Titik Api dan Peringatan Bahaya Kebakaran Lahan

24 Sep 2026 - 21:07 WIB

Ketika Bara Mengancam: Seharian Penuh Petugas Damkar Bondowoso Melawan Tiga Titik Api dan Peringatan Bahaya Kebakaran Lahan

Ketika Karangan Bunga Bicara: Jeritan Pedagang Buah Tanjungsari dan Kebijakan yang Mematikan

24 Sep 2026 - 21:06 WIB

Ketika Karangan Bunga Bicara: Jeritan Pedagang Buah Tanjungsari dan Kebijakan yang Mematikan

Tangis Haru Guru Ferabiyanti: Siswa MI Muhammadiyah Tempeh Lor Lumajang Berhasil Hafal Juz 30 Al-Qur’an

24 Sep 2026 - 21:03 WIB

Tangis Haru Guru Ferabiyanti: Siswa MI Muhammadiyah Tempeh Lor Lumajang Berhasil Hafal Juz 30 Al-Qur’an

Ketika Laut Memuntahkan Beban: Kisah Nelayan Sumenep Terjebak Ratusan Kayu Gelondongan

24 Sep 2026 - 18:48 WIB

Ketika Laut Memuntahkan Beban: Kisah Nelayan Sumenep Terjebak Ratusan Kayu Gelondongan

Menyingkap Tirai Asap Cukai: Mahasiswa Desak Transparansi DBH-CHT 2026 di Lamongan

24 Sep 2026 - 18:47 WIB

Menyingkap Tirai Asap Cukai: Mahasiswa Desak Transparansi DBH-CHT 2026 di Lamongan
Trending di Pendidikan