KlikMojok – Bukan guruh yang membelah langit, melainkan desir angin yang mengipasi bara. Pada Senin siang yang terik di penghujung September 2026, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, tiba-tiba diselimuti kepulan asap pekat. Apa yang semula hanya niat membersihkan pekarangan dengan membakar daun kering, dalam sekejap berubah menjadi malapetaka yang melahap empat hektare lahan, menyisakan jejak hitam dan pertanyaan tentang arti sebuah kehati-hatian. Insiden kebakaran lahan Bojonegoro ini, meski tak merenggut nyawa, adalah pengingat keras akan kerapuhan ekosistem dan potensi bahaya tersembunyi di balik tindakan sepele.
Siang itu, sekitar pukul 12.15 WIB, lidah api mulai menari-nari, bermula dari tumpukan daun kering yang dibakar. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Bojonegoro, Siswoyo, menjelaskan bahwa api diduga berasal dari pembakaran daun kering yang kemudian merambat ke lahan di sekitarnya. “Diduga kebakaran lahan disebabkan pembakaran daun kering yang merambat ke area lahan,” ujar Siswoyo, menegaskan akar masalah yang seringkali dianggap remeh.
Tak butuh waktu lama bagi api untuk mengganas. Dalam rentang waktu satu jam, laporan kejadian diterima Damkarmat sekitar pukul 13.20 WIB. Lima menit berselang, respons cepat pun dilancarkan. Satu unit Fire Falcon, beserta tiga personel tangguh, segera diberangkatkan menuju lokasi. Namun, perjuangan tidaklah mudah. Akses jalan menuju titik kebakaran yang sempit menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas, mengharuskan mereka bekerja dengan ekstra hati-hati. Ini adalah realitas yang sering dihadapi tim penyelamat di lapangan, di mana infrastruktur bisa menjadi penghalang dalam upaya penanganan darurat.
Lahan yang kini hangus menjadi arang diketahui milik Suwarni (68), seorang warga Desa Kumpulrejo RT 03/RW 01. Total luasan yang terdampak mencapai angka yang tak main-main, kurang lebih empat hektare. Sebuah kerugian material yang signifikan, meski beruntung tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Setelah perjuangan panjang, api akhirnya berhasil dijinakkan sekitar pukul 14.55 WIB, meninggalkan jejak hitam dan bau sangit di udara. Proses penanganan ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Damkarmat Pos Kota, BPBD Bojonegoro, Satpol PP Kecamatan Kapas, Polsek Kapas, hingga partisipasi aktif masyarakat setempat. Solidaritas ini menunjukkan pentingnya gotong royong dalam menghadapi bencana.
Peristiwa di Kumpulrejo ini bukan sekadar catatan statistik kebakaran. Ia adalah cermin bagi kita semua, sebuah peringatan dini di tengah musim kemarau yang rentan. Damkarmat Bojonegoro secara tegas mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati saat membakar daun kering, sampah, maupun material lain yang mudah terbakar. Pembakaran yang tidak terkendali, sekecil apa pun, dapat memicu api merambat dengan cepat dan menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Edukasi dan kesadaran kolektif adalah kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang, memastikan bahwa niat baik membersihkan tidak berujung pada musibah yang merugikan banyak pihak dan lingkungan.












