KlikMojok – Suara bas yang menggetarkan dada, melodi disko yang membakar semangat, dan sorak-sorai ribuan pasang mata. Itulah karnaval sound horeg, sebuah perayaan budaya yang selalu dinanti di Blitar. Pada Senin sore itu, 21 September 2026, Dusun Besole, Desa Darungan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, bergelora dalam euforia. Di antara lautan manusia yang memadati pinggir jalan, YP (45), warga Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, hadir bersama suaminya, S. “Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban datang ke lokasi acara bersama suaminya, S, sejak pukul 16.00 WIB untuk menyaksikan gelaran karnaval,” terang Aiptu Saeful Muheni, Kasi Humas Polres Blitar, pada Senin (21/9/2026). Mereka datang untuk larut dalam kemeriahan, menyaksikan arak-arakan sound system raksasa yang memekakkan telinga.
Namun, di tengah puncak keramaian, ada jeda yang tak terhindarkan: azan Magrib berkumandang. Gemuruh musik dipadamkan, seolah memberi ruang bagi refleksi dan ibadah. “Peristiwa tersebut terjadi di tengah jeda (sound break) kegiatan karnaval sekitar pukul 17.45 WIB,” tambah Saeful. Bagi YP, ini adalah panggilan yang tak boleh diabaikan. Ia bergegas mencari musala terdekat, meninggalkan keramaian sejenak untuk menunaikan kewajibannya.
Setelah mengakhiri salat dan masih dalam balutan mukena, saat ia berzikir, sebuah kejadian tak terduga menimpa YP. Ia mendadak terjatuh. Beberapa saat kemudian, tubuhnya mulai kejang, sebelum akhirnya terdiam, tak sadarkan diri di dalam musala yang hening. Suami YP, S, yang menyusul kemudian, bersama beberapa warga sekitar, segera menyadari keparahan situasi. Mereka bergerak cepat meminta bantuan tim medis dari Puskesmas Kademangan yang memang telah bersiaga di dekat lokasi karnaval, mengantisipasi insiden di tengah keramaian.
“Petugas medis yang memeriksa di tempat mendapati denyut nadi korban sudah sangat lemah. Korban kemudian segera dilarikan ke RS Medika Utama Kanigoro untuk mendapatkan penanganan medis darurat,” imbuh Saeful. Namun, setelah upaya intensif dilakukan, tim medis rumah sakit harus menyampaikan kabar duka. Pada pukul 18.40 WIB, YP dinyatakan meninggal dunia.
Petugas dari Polsek Lodoyo Barat (Lobar) segera melakukan pendalaman setelah menerima laporan. Mereka mengumpulkan keterangan dari para saksi mata dan terutama dari suami korban, S. Dari hasil investigasi awal dan keterangan medis, terungkap fakta penting. “Berdasarkan keterangan medis dan pihak keluarga, YP diketahui memiliki riwayat penyakit kista dan diindikasi mengalami gangguan jantung, di mana jantungnya sering berdetak kencang,” tandas Saeful. Ini menjelaskan kerentanan fisik YP yang mungkin diperparah oleh keramaian atau perubahan kondisi.
Keluarga YP telah menerima musibah ini dengan keikhlasan, sebuah penerimaan yang ditandai dengan penolakan autopsi. Jenazah YP kemudian dibawa pulang ke rumah duka di Kecamatan Kanigoro untuk disemayamkan. Kisah YP menjadi pengingat pahit di tengah perayaan. Di balik gemuruh karnaval yang hingar-bingar, kehidupan dan kematian beriringan dalam sunyi. Sebuah senja yang seharusnya diwarnai tawa dan musik, berakhir dengan hening doa dan duka yang mendalam, meninggalkan jejak perenungan tentang kerapuhan hidup di tengah hiruk-pikuk dunia.












