KlikMojok – Dari ketinggian, mata drone menangkap pemandangan yang menyayat: lautan asap tebal membubung, mengaburkan hijau lereng Gunung Lawu yang perkasa. Di bawahnya, kobaran api terus menari, melahap apa pun yang dilaluinya. Hingga Kamis (17/9/2026) sore, kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu wilayah Kabupaten Ngawi tak kunjung padam, menjadi saksi bisu perjuangan tanpa henti para petugas di tengah medan yang sulit ditaklukkan. Setidaknya empat titik api besar terpantau membakar kawasan hutan, menciptakan tantangan luar biasa bagi upaya pemadaman.
Rekaman udara yang diambil dari drone secara jelas memperlihatkan gumpalan asap tebal yang terus mengepul dari jantung lereng Gunung Lawu. Empat titik api utama tersebut teridentifikasi berada di sekitar Gunung Anakan, secara spesifik di Petak 42, yang masuk dalam wilayah RPH Campurejo, BKPH Lawu Utara. Api tidak hanya mengancam ekosistem alami, melainkan juga melahap kawasan hutan yang ditumbuhi tanaman eucalyptus dan kopi, memperparah kerusakan vegetasi. Tragisnya, kobaran api terus menjalar dan kini terpantau mencapai Petak 39, yang berada di bawah administrasi RPH Manyul, BKPH Lawu Utara, KPH Lawu dan sekitarnya.
Kondisi geografis menjadi musuh utama dalam upaya pemadaman. Titik-titik api yang berada di lereng terjal membuat akses petugas melalui jalur darat nyaris mustahil. Medan yang curam dan tidak ramah ini menjadi penghalang terbesar, menghambat tim pemadam untuk mendekat dan melakukan intervensi langsung terhadap api yang membara.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ngawi, Prila Yudha Putra, mengonfirmasi situasi pelik ini. “Berdasarkan pantauan drone ada empat titik api di petak 42 menjalar ke petak 39 hingga kini belum bisa di jangkau darat kita hanya bisa membuat ilaran,” ujar Prila, menggambarkan dilema yang dihadapi timnya. Keterbatasan akses ini memaksa petugas untuk mengadopsi strategi pengendalian api yang berbeda: pembuatan ilaran atau sekat bakar. Langkah ini diambil untuk menciptakan batas fisik yang dapat menghambat pergerakan api agar tidak semakin meluas ke kawasan hutan produksi yang berada di bagian bawah lereng, yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis penting.
Panjang sekat bakar yang telah berhasil dibuat oleh petugas mencapai sekitar enam kilometer. Ilaran tersebut bukan hanya sekadar garis pemisah, melainkan menjadi benteng mitigasi yang krusial untuk membatasi rambatan api di tengah kondisi medan yang menyulitkan proses pemadaman secara langsung. Kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu ini tidak hanya berdampak pada vegetasi yang terbakar, tetapi juga membawa potensi ancaman serius terhadap kawasan hutan produksi apabila api terus bergerak turun, mengancam mata pencarian dan keseimbangan ekosistem.
Hingga Kamis sore, kobaran api masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Asap dari sejumlah titik api masih jelas terlihat melalui pemantauan udara dengan drone, menandakan perjuangan yang belum usai. Sebelumnya, petugas telah mengajukan permohonan bantuan helikopter water bombing kepada BNPB dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bantuan melalui udara ini diharapkan menjadi kunci untuk mendukung upaya pemadaman di lokasi-lokasi yang sama sekali tidak dapat dijangkau oleh tim darat.
Petugas di lapangan masih terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan kebakaran, sekaligus menjaga agar api tidak merambat lebih luas. Upaya pembuatan sekat bakar dan permintaan dukungan pemadaman dari udara menjadi langkah-langkah lanjutan yang esensial untuk mengendalikan amukan api di kawasan lereng Gunung Lawu tersebut. Di balik asap pekat dan bara yang terus menyala, tersimpan pelajaran berharga tentang kerapuhan ekosistem dan ketangguhan manusia. Kebakaran ini bukan sekadar insiden, melainkan pengingat kolektif akan pentingnya mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan kesadaran ekologis dalam menjaga kelestarian alam demi masa depan bumi yang lebih hijau dan lestari.












