KlikMojok – Udara Pamekasan, Madura, seakan membeku dalam duka yang mendalam. Di Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, sebuah keluarga kini terjerembap dalam kehilangan yang tak terperi. Nurul Riyan Hidayat (33), seorang Anak Buah Kapal (ABK) yang juga bertugas sebagai tim medis di KM Virgo Transport 8, telah tiada. Ia menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam insiden tragis kapal terbalik di perairan Kalimantan Selatan pada Minggu, 13 September 2026. Kepergiannya bukan hanya menyisakan lubang kosong di hati keluarga, tetapi juga meninggalkan Azimatul Munirah alias Nining, sang istri, yang kini tengah mengandung buah hati kedua mereka dengan usia kehamilan sekitar tujuh bulan. Tak hanya itu, pasangan ini juga memiliki seorang anak pertama yang masih sangat kecil, baru berusia 1,7 tahun, menambah pilu kisah yang terukir.
“Anak pertama masih kecil, istrinya juga sedang hamil,” tutur Nurhidayati Rahmah, ipar korban yang akrab disapa Yatik, pada Selasa, 15 September 2026, dengan nada getir. Yatik juga mengungkapkan bahwa Nurul Riyan telah mengabdikan dirinya di dunia pelayaran selama sekitar lima tahun, sebuah profesi yang menuntutnya jauh dari keluarga. Namun, baru sekitar tiga bulan terakhir almarhum bergabung dengan armada KM Virgo Transport 8 yang kini menjadi saksi bisu akhir hidupnya.
Meski terpisah jarak dan waktu oleh luasnya samudra, Nurul Riyan dikenal sebagai sosok yang selalu berusaha meluangkan waktu untuk keluarga tercinta. Setiap bulan, ia rutin memperoleh jatah libur selama satu pekan, sebuah momen berharga yang selalu dinantikannya untuk pulang dan melepas rindu dengan istri serta anaknya di Pamekasan. “Dua bulan lagi istrinya melahirkan,” imbuh Yatik, menyoroti penantian panjang yang kini berubah menjadi kehampaan.
Keluarga masih mengingat jelas komunikasi terakhir Nurul Riyan. Sekitar pukul 23:59 WIB, sebelum musibah itu terjadi, almarhum sempat melakukan panggilan video dengan istri dan anaknya. Sebuah momen kebersamaan virtual yang ternyata menjadi perpisahan terakhir. Namun, setelah lewat pukul 1:00 WIB, sambungan telepon mendadak terputus, tak pernah kembali tersambung. Kabar duka yang menimpa KM Virgo Transport 8 baru sampai ke telinga pihak keluarga sekitar pukul 04:30 WIB, disampaikan oleh rekan sejawat Nurul Riyan. Informasi itu sontak memicu kepanikan dan kecemasan mendalam, sebelum akhirnya takdir pahit terkuak: Nurul Riyan adalah salah satu korban dalam insiden tersebut.
Di tengah gelombang kesedihan yang menerpa, keluarga juga teringat akan gelagat tidak biasa yang ditunjukkan Nurul Riyan sebelum bertolak berlayar. Sebuah firasat yang kini terasa memiliki makna tersendiri. Ia sempat memborong popok bayi dalam jumlah cukup banyak, seolah mempersiapkan diri untuk kehadiran anak keduanya. Tak hanya itu, ia juga membeli buah-buahan kesukaan sang istri, sebuah isyarat kasih sayang yang kini menjadi kenangan pahit.
Kini, harapan keluarga tertumpu pada perusahaan tempat Nurul Riyan bekerja, PT Virgo. Mereka berharap agar perusahaan segera membangun komunikasi resmi dengan keluarga korban, tidak hanya sekadar informasi lisan dari rekan kerja. Termasuk mempermudah seluruh proses pemulangan jenazah almarhum dari Banjarmasin ke Pamekasan. “Paling tidak ada komunikasi langsung dari PT Virgo,” harap Yatik, mewakili suara hati keluarga yang berduka.
Menurut informasi terakhir yang diterima, proses pemulangan jenazah dari Banjarmasin menuju Surabaya direncanakan akan dilakukan hari itu juga, sebelum dilanjutkan ke Pamekasan. “Informasinya saat ini masih menunggu koordinasi teknis antara manajemen PT Virgo dan tim medis rumah sakit setempat, untuk keberangkatan dari sana, kami masih menunggu,” pungkas Yatik, menanti kepastian di tengah ketidakpastian yang menggantung. Kisah Nurul Riyan adalah pengingat betapa rapuhnya nyawa di tengah ganasnya lautan, meninggalkan janin yang tak akan pernah mengenal sentuhan hangat ayahnya, dan seorang istri yang harus melanjutkan hidup dengan bayangan rindu yang tak berujung.












