Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Pohon Tak Hanya Mati Dimakan Usia: Jejak Perusakan dan Panggilan Nurani di Ponorogo

badge-check

Ketika Pohon Tak Hanya Mati Dimakan Usia: Jejak Perusakan dan Panggilan Nurani di Ponorogo Perbesar

KlikMojok – Di tengah hiruk-pikuk kota yang kian padat, deretan pohon rindang tak hanya menjadi penyejuk mata, namun juga paru-paru vital bagi kehidupan. Namun, di Ponorogo, ketenangan itu terusik oleh pemandangan miris: belasan pohon yang seharusnya berdiri kokoh kini tumbang, bukan karena usia, melainkan karena ulah tangan jahil. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo kini bergerak cepat, menebang pohon-pohon mati yang tersebar di berbagai ruas jalan, sebuah langkah antisipasi krusial demi keselamatan pengguna jalan dan sekaligus pengungkapan praktik meresahkan yang mengancam ruang hijau kota.

Operasi penebangan ini bukan sekadar rutinitas pemeliharaan. Di balik batang-batang yang tak lagi berdaun, terkuak dugaan kuat adanya kesengajaan dari oknum tak bertanggung jawab untuk mematikan pohon-pohon tersebut. Heru Santoso, Pengawas Lapangan DLH Ponorogo, dengan nada prihatin menjelaskan bahwa pohon-pohon yang ditebang tidak semata-mata mati karena faktor alamiah. “Untuk pemangkasan kali ini, karena pohonnya sudah mati. Matinya ini karena kesengajaan ulah oknum yang tidak bertanggungjawab. Yakni akibat pembakaran, adanya paku, di bor seperti itu, jadi bukan mati karena tua,” ungkap Heru Santoso pada Selasa (8/9/2026).

Indikasi perusakan itu begitu kentara dan beragam, mencerminkan modus operandi yang sistematis. Petugas DLH menemukan bekas-bekas pembakaran di bagian bawah pohon, paku-paku yang sengaja ditancapkan, hingga lubang-lubang hasil pengeboran di batang pohon. Bahkan, di beberapa lokasi, terindikasi adanya penggunaan cairan tertentu yang disuntikkan untuk mempercepat kematian pohon. Fenomena ini bukan hanya sekadar tindakan vandalisme, melainkan sebuah bentuk pengkhianatan terhadap upaya pelestarian lingkungan yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

Heru merinci beberapa titik yang menjadi saksi bisu tindakan destruktif ini. Di kawasan Taman Wonopringgo, tiga pohon teridentifikasi mati akibat perusakan. Tak jauh berbeda, di sekitar Terminal Ponorogo, satu pohon mengalami nasib serupa. Sementara itu, di jalan sekitaran Jenes, tiga pohon ditemukan dalam kondisi mengenaskan, dengan lubang bekas bor yang diduga menjadi jalur masuknya cairan mematikan. “Indikasinya sudah terlihat jelas, ada pembakaran di bawahnya. Yang terindikasi mati di Taman Wonopringgo ada 3, di terminal ada satu. Selain itu di Jenes ada yang di bor, lalu dimasukin cairan,” tambahnya, menggambarkan betapa nyata ancaman ini.

Penebangan pohon-pohon mati ini dilakukan di sejumlah ruas jalan utama Ponorogo, termasuk Jalan Mayor Jenderal Sutoyo, Jalan Arif Rahman Hakim, dan Jalan Jenes. Prioritas utama DLH adalah menyingkirkan pohon-pohon yang kondisinya dinilai membahayakan. Pohon-pohon yang telah mati, jelas Heru, memiliki ranting dan bagian batang yang semakin lapuk. Kondisi ini secara signifikan mengurangi kekuatan struktural pohon dan meningkatkan risiko roboh sewaktu-waktu, terutama di pinggir jalan yang ramai dilalui kendaraan. “Karena ranting pohonnya kan sudah lapuk, jadi bisa membahayakan pengguna jalan, dan sewaktu-waktu bisa roboh,” tegasnya, menyoroti urgensi tindakan ini sebagai langkah preventif.

Kegiatan penanganan pohon mati ini dijadwalkan berlangsung selama sekitar satu minggu, dimulai dari tanggal 7 hingga 12 September 2026. Selama periode ini, petugas DLH Ponorogo tak hanya menebang, tetapi juga terus memantau kondisi pohon-pohon lain di berbagai ruas jalan. Lebih dari sekadar tindakan represif, DLH juga mengemban misi edukasi. Heru Santoso secara khusus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang dapat merusak pohon. Pembakaran, pengeboran, pemasangan benda pada batang, atau tindakan merusak lainnya tidak hanya berdampak buruk pada ekosistem kota, tetapi juga secara langsung meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna jalan. Harapan besar disematkan kepada seluruh elemen masyarakat Ponorogo untuk ikut serta menjaga pohon-pohon yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang hijau dan identitas kota, demi masa depan yang lebih aman, asri, dan lestari.

Kasus pohon mati yang disengaja dirusak ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya kesadaran lingkungan dan tanggung jawab kolektif. Pendidikan tentang pentingnya menjaga alam, bahkan di skala terkecil seperti pohon di pinggir jalan, harus terus digalakkan. Sebab, pohon-pohon ini bukan hanya sekadar elemen lanskap, melainkan penopang kehidupan yang tak ternilai harganya, dan kerusakan yang disengaja adalah cerminan dari kurangnya penghargaan terhadap warisan alam dan masa depan generasi mendatang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kantuk di Balik Kemudi: Refleksi dari Kecelakaan di Tol Madiun yang Nyaris Fatal

8 Sep 2026 - 15:20 WIB

Kantuk di Balik Kemudi: Refleksi dari Kecelakaan di Tol Madiun yang Nyaris Fatal

STIT Muhammadiyah Lumajang Sambut Mahasiswa Baru 2026: Dari Keberagaman hingga Visi Transformasi Institut

8 Sep 2026 - 15:18 WIB

STIT Muhammadiyah Lumajang Sambut Mahasiswa Baru 2026: Dari Keberagaman hingga Visi Transformasi Institut

Mengukir Cinta Budaya: Siswa KB Walidah 1 Gresik Belajar Kuliner dan Transaksi Lokal

8 Sep 2026 - 15:18 WIB

Mengukir Cinta Budaya: Siswa KB Walidah 1 Gresik Belajar Kuliner dan Transaksi Lokal

Man Jadda Wajada: Fondasi 45 Calon Muballighat PDA Sidoarjo Menempa Kemampuan Dakwah Efektif

8 Sep 2026 - 09:45 WIB

Man Jadda Wajada: Fondasi 45 Calon Muballighat PDA Sidoarjo Menempa Kemampuan Dakwah Efektif

Jeda Kamera di Bromo: Pelarangan Syuting Demi Jaga Api Tak Menyala

7 Sep 2026 - 21:07 WIB

Jeda Kamera di Bromo: Pelarangan Syuting Demi Jaga Api Tak Menyala
Trending di Pendidikan